Konten dari Pengguna

Teater sebagai Wadah Refleksi Diri: Pementasan Musyawarah Burung

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari humairoh azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pementasan Musyawarah Burung Pestarama#10+1
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pementasan Musyawarah Burung Pestarama#10+1

Jakarta, [14 Mei 2026] - “Hujan itu adalah teguran atas keserakahanmu. Teguran atas kelalaianmu, keangkuhanmu. Imbas dari perbuatanmu sendiri.”

Sepenggal renungan spiritual-ekologis itu digaungkan oleh para burung dalam pementasan Musyawarah Burung. Naskah saduran dari karya Faridu’din Attar ini menampilkan kisah perjalanan spiritual dan makna penghambaan yang tidak hanya tentang hubungan antara makhluk dengan Tuhannya. Melalui pembacaan ulang terhadap karya Faridu’din Attar, naskah ini mencoba mengangkat permasalahan ekologi yang kian terasa mengkhawatirkan dari sudut pandang keruhanian.

Berangkat dari keresahan akibat hujan berkepanjangan yang melanda negeri burung, Musyawarah Burung yang dipentaskan oleh Pestarama #10+1 ini dimulai dengan para tokoh yang bermusyawarah untuk mencari jalan keluar dari bencana yang perlahan menghancurkan kehidupan mereka. Dalam perdebatan yang penuh kepentingan individu, ketakutan, dan kesombongan, muncul gagasan untuk mencari Simurgh, raja agung yang diyakini mampu memberi jawaban atas kegelisahan dan kekacauan dunia, serta menyelamatkan mereka.

Dipimpin Hudhud, para burung kemudian menempuh perjalanan panjang melintasi tujuh lembah: Lembah Pencarian, Lembah Cinta, Lembah Keinsafan, Lembah Kebebasan dan Kelepasan, Lembah Keesaan, Lembah Keheranan dan Kebingungan, hingga Lembah Keterampasan dan Kematian. Setiap lembah menjadi simbol pergulatan manusia dalam menghadapi ego, nafsu, rasa takut, kesombongan, hingga keputusasaan dalam dirinya sendiri.

Melalui tokoh-tokohnya, pementasan ini menghadirkan cerminan watak manusia. Bulbul terikat pada cinta yang melalaikan, Burung Hantu dan Ayam Hutan yang diperbudak oleh harta, serta Humayun yang tenggelam dalam kesombongan. Sementara itu, burung-burung lainnya dipenuhi keraguan serta ketakutan. Para tokoh menjadi gambaran nyata manusia yang kerap gagal melepaskan diri dari kepentingan pribadi saat menghadapi kerusakan di sekitarnya, dan hanya menuntut solusi tanpa andil untuk memperbaiki.

Namun, perjalanan menuju Simurgh perlahan menyadarkan mereka bahwa akar dari bencana yang mereka hadapi bukanlah sekadar hujan yang tak kunjung reda, melainkan akibat dari keserakahan dan kelalaian mereka sendiri terhadap alam dan kehidupan. Menyadarkan bahwa kenyamanan hidup dapat dicapai hanya bila mereka mampu mencintai sang maha raja dengan tulus. Namun, ketulusan dalam mencintai tidak bisa dilakukan oleh mereka yang hanya mementingkan diri sendiri dan mengabaikan alam sekitar.

Pementasan ini berusaha menyadarkan bahwa menjaga alam sebagaimana mestinya adalah salah satu bentuk penghambaan yang sering kali dilupakan. Karenanya, kerusakan alam, eksploitasi lingkungan, serta sikap manusia yang abai terhadap keseimbangan hidup menjadi tema penting yang dihadirkan dalam pementasan.

Secara visual, pementasan ini menghadirkan suasana simbolik melalui komposisi gerak tubuh pemain, kain-kain panjang menyerupai angin perjalanan, tiang-tiang menyerupai batang pohon tua, serta permainan cahaya yang menggambarkan perubahan suasana dari satu lembah menuju lembah lainnya. Musik dan vokal kolektif para pemain juga menjadi elemen penting yang menghidupkan suasana ritual dan perjalanan batin para burung. Tata artistik sederhana pun dibangun untuk menghadirkan kesan ritual, perjalanan batin, sekaligus kehancuran alam yang perlahan membayangi dunia para burung.

Pementasan Musyawarah Burung mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri. Sebab pada akhirnya, perjalanan mencari Simurgh bukanlah perjalanan mencari sosok lain di luar diri, melainkan perjalanan menemukan kesadaran dan tanggung jawab dalam diri manusia itu sendiri, sebagai bentuk penghambaan yang sejati.

Pestarama PBSI UIN Jakarta

Pementasan Musyawarah Burung dipersembahkan dalam rangkaian kegiatan Pestarama PBSI UIN Jakarta, sebuah ruang apresiasi sastra dan drama yang menjadi wadah pertemuan berbagai ekspresi budaya, sastra, dan pementasan. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa PBSI untuk menghadirkan karya yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga memiliki nilai reflektif dan edukatif.

Melalui Pestarama, para peserta diajak membangun ruang dialog kreatif yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan keberanian berekspresi dalam medium seni pementasan. Semangat kolektif dalam proses produksi menjadi bagian penting dari perjalanan pementasan ini, mulai dari eksplorasi naskah, latihan keaktoran, penggarapan artistik, hingga penciptaan atmosfer panggung yang mendukung perjalanan spiritual para burung.

Kehadiran Musyawarah Burung dalam Pestarama PBSI UIN Jakarta diharapkan mampu menjadi ruang perenungan bersama mengenai manusia, pencarian makna hidup, dan hubungan antarsesama di tengah kehidupan modern yang semakin kompleks.

Melalui pementasan ini, para pemain dan tim produksi berupaya menghadirkan pengalaman teater yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang perenungan bersama. Teater dihadirkan sebagai medium dialog antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan alam, dan dengan sesama.

Kami mengajak rekan-rekan media, penulis, pegiat seni, dan masyarakat umum untuk turut menyebarluaskan pementasan ini sebagai bagian dari upaya merawat ruang kebudayaan, refleksi, dan kesadaran ekologis di tengah kehidupan hari ini.