Ketika Kurikulum Menjadi Eksperimen yang Tak Berujung

Mahasiswa semester 2 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Huriyah Naila Nursakinah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era sekarang pendidikan adalah salah satu pilar utama yang penting untuk meningkatkan sumber daya manusia. Pendidikan adalah fondasi paling utama untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang cerdas dan maju. Jika berbicara tentang pendidikan tentunya tak akan lepas dari yang namanya kurikulum. Kurikulum adalah program atau rangkaian rencana pendidikan yang diberikan oleh lembaga pendidikan yang berisi hal-hal seperti tujuan, isi, serta materi pembelajaran sebagai pedoman dalam proses belajar-mengajar untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan.
Dibandingkan dengan negara maju lain yang biasanya mempertahankan kurikulum dasar dalam waktu yang lama, di Indonesia, kurikulum terus mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya zaman, dengan banyak faktor mulai dari dinamika sosial, ekonomi, teknologi, serta politik. Kurikulum di Indonesia sudah mengalami banyak perubahan. Sejarah mencatat bahwa Indonesia sudah mengalami pergantian kurikulum sebanyak sebelas kali sejak awal bangsa ini merdeka. Diawali dengan kurikulum pertama yang bernama Rentjana Pelajaran 1947 hingga kurikulum yang kini sedang diimplementasikan yaitu Kurikulum Merdeka yang diusung oleh mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.
Perubahan kurikulum tentunya karena menyesuaikan perkembangan zaman, di era yang serba teknologi tentu saja metode pembelajaran pun harus mengikuti, sehingga metode yang diajarkan lebih sesuai dengan era modern saat ini.
Meskipun banyaknya perubahan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tentunya dalam proses itu sendiri tak lepas dari berbagai tantangan dan permasalahan. Apakah banyaknya pergantian kurikulum dapat menjamin kualitas pendidikan di negeri tercinta ini? Apakah perubahan kurikulum yang terlalu sering, memang efektif untuk kemajuan pendidikan Indonesia?
Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan kurikulum dipengaruhi oleh faktor kepentingan politik dengan kebijakan pemerintah yang kadang dampaknya berjangka pendek, seakan kurikulum memang harus diubah pada setiap pergantian periode jabatan, sehingga tak jarang orang awam berpikir bahwa kurikulum memang wajib diganti jika menteri pendidikannya juga berganti.
Baik guru maupun murid tentunya harus beradaptasi dengan pergantian kurikulum yang tentunya dari metodenya pun sudah jauh berbeda. Hal ini tentu saja berdampak pada proses belajar-mengajar, dan berpotensi menurunkan efektivitas pembelajaran.
Sebuah kurikulum membutuhkan waktu yang tentunya tidak sedikit untuk dipahami, dievaluasi hingga diterapkan. Keberhasilan suatu kebijakan tidak dapat diukur dalam waktu satu dua tahun. Sebab waktu tersebut adalah waktu adaptasi bagi para tenaga pendidik dan murid, mereka masih dalam waktu pembiasaan untuk benar-benar memahami dan menilai apakah kurikulum tersebut efektif atau tidak. Sehingga apabila kurikulum tersebut dengan cepat berganti dengan kurikulum yang diusung selanjutnya, akan sulit untuk mendapatkan dampak yang maksimal dan sesuai dengan tujuan kurikulum tersebut. Akibatnya, para pengajar maupun murid hanya mendapat kebingungan alih-alih keberhasilan pembelajaran. Sebab pergantian kurikulum tak luput dari munculnya istilah-istilah baru yang harus dipahami oleh tenaga pendidik sebelum diimplementasikan dalam pembelajaran untuk meminimalisir kesalahpahaman.
Belum lagi transisi dari kurikulum ke kurikulum selanjutnya memakan biaya anggaran yang tak sedikit. Untuk menghasilkan kurikulum yang berpotensi mencerdaskan anak bangsa, diperlukan berbagai pelatihan, dan banyaknya evaluasi. Namun, jika pemerintah terus merubah kurikulum alih-alih mendalami satu sistem pembelajaran, akan terjadilah pemborosan sumber daya yang seharusnya dapat dialihkan pada hal yang lebih jauh bermanfaat untuk pendidikan, sebab seperti yang kita ketahui, berbagai daerah di Indonesia tak memiliki sarana dan prasarana yang baik dalam pembelajaran.
Dalam implementasi kurikulum harus dilakukan sesuai dengan tahapannya, yaitu perencanaan, pembinaan, lalu pengembangan. Ketiga tahapan ini harus dilakukan dengan baik untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik di masa depan.
Daripada merombak habis-habisan satu kurikulum dan terus menggantinya dalam waktu singkat, konsistensi termasuk hal penting dalam mencapai suatu keberhasilan. Stabilnya suatu kurikulum memungkinkan para guru untuk meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan relevan, juga memberikan kesempatan kepada para siswa untuk lebih memahami dan belajar dengan sistem yang jelas tanpa harus bingung dengan terus belajar sistem pembelajaran yang berubah-ubah.
Bukan berarti kurikulum tersebut tak boleh berganti, namun dengan mempertahankan satu kurikulum dalam jangka waktu yang cukup, pemerintah dan pengajar dapat mengevaluasi metode tersebut secara lebih menyeluruh. Tentunya perubahan masih diperlukan, namun dilakukan secara bertahap dengan penelitian yang lebih matang tanpa langsung mengubah total kurikulumnya, sehingga kurikulum tersebut lebih optimal. Oleh sebab itu, ada baiknya pemerintah menjaga konsistensi dalam kebijakan pendidikan.
Agar dapat tercapainya tujuan dari pendidikan yang sebenarnya, tentunya kita harus banyak berbenah dan konsisten dalam memperbaiki dan menyempurnakan kurikulum yang sudah ada melalui evaluasi berkelanjutan dan bertahap untuk menciptakan pendidikan yang mencerdaskan anak bangsa.
