Konten dari Pengguna

Tak Mau Berdiam Diri Pengungsi Gunung Agung meraup Rezeki di Pengungsian

I Gusti Ayu Diah Pramesti

I Gusti Ayu Diah Pramesti

Mahasiswa

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari I Gusti Ayu Diah Pramesti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tak Mau Berdiam Diri Pengungsi Gunung Agung meraup Rezeki di Pengungsian
zoom-in-whitePerbesar

Para petani sedang mengumpulkan hasil panen bunga gemitir, di Desa Negari, Banjarangkan, Klungkung, Bali, Minggu (01/04)

Bunga gemitir membentang luas menghiasi pemandangan di jalanan Desa Negari Kabupaten Klungkung. Akhir-akhir ini namanya terkenal dan bermunculan diberbagai sosial media. Lahan yang awalnya berupa hamparan sawah dengan padi-padi bertebaran, sekarang disulap menjadi hamparan bunga jingga yang menyatu bersama cahaya matahari.

Sinar matahari semakin terik, tepat diatas kepala memancarkan sinar dengan energi panasnya. Namun tak mengurungkan niat para petani bunga gumitir mengais rezeki untuk kebutuhannya sehari-hari. Keringat bercucuran membasahi wajah dan sekujur tubuh. Kadek Martini berpacu dengan waktu demi memenuhi target petikannya hari ini. Walau hanya bermodalkan topi capil dan keranjang. Bunga gemitir satu persatu dipetik dan dikumpulkan. Tidak sendiri, ibu beranak dua ini berjuang bersama petani lainnya untuk memanen bunga gemitir. Sembari bercengkrama satu sama lain.

Lahan yang semula berupa hamparan sawah dengan tanaman padi yang membentang luas sekarang menjadi perkebunan bunga gemitir yang memanjakan mata para pengunjunganya. Bukan tak beralasan. Kadek Martini bersama rekan seprofesinya berkerja keras memberdayakan lahan yang dikontraknya selama lebih dari delapan bulan. Mereka adalah pengungsi Gunung Agung yang tidak mau berdiam diri meratapi nasibnya. “Sudah dari Bulan September saya berkebun disini bersama suaminya,” ungkap perempuan yang kerap disapa Martini tersebut.

Martini dan suaminya adalah warga Desa Besakih yang pertama kali membuka lahan untuk menanam bunga gemitir di Desa Negari. Berawal dari coba-coba Martini besama suaminya berhasil mendapat keuntungan bahkan melebihi usaha sebelumnya yg dilakukan di Desa Besakih. “Suami saya yang menjadi pembibit bunga ini (gemitir),” tutur Martini sambil meratakan bunga hasil petikannya.

Dengan bermodalkan kamar sewa dan sedikit lahan disekitarnya, suami Martini yaitu Kadek Sudiarta berjuang membuat pembibitan yang nantinya akan didistribusikan kepada petani-petani bunga gemitir. Hingga saat ini, ia pun dapat memperluas lahan sewaan dan memperkerjakan pengungsi lainnya.

Tak Mau Berdiam Diri Pengungsi Gunung Agung meraup Rezeki di Pengungsian (1)
zoom-in-whitePerbesar

Perkebunan bunga gemitir, di Desa Negari, Banjarangkan, Klungkung, Bali, Minggu (01/04)

Bencana yang diawal meresahkan dan menakutkan ternyata berubah menjadi keberuntungan saat ini. Berkembangnya usaha bunga gemitir, penghasilan Martini beserta suami, dan para petani bunga gemitir pun meningkat. “Untuk penghasilan dua sampai tiga juta dalam satu kali panen,” terang Martini.

Martini pun telah memiliki langganan tetap di Pasar Klungkung. Bahkan tidak jarang beberapa warga asli Desa Negari secara langsung berkunjung ke lahan perkebunan untuk membeli bunga gemitir.

Suhu yang hangat dan intensitas matahari yang lebih banyak dari pada di Besakih, membuat bunga menjadi lebih cepat mekar, dan dapat dipanen lebih awal dari biasanya. Hal ini karena pada dasarnya bunga gemitir lebih cocok ditanam pada daerah yang memiliki suhu tinggi. “Kalo disini (Klungkung) kan cerah, udaranya bagus, tanamannya juga bagus, penghasilannya banyak,” kata Perempuan berusia 29 tahun tersebut.

Hal serupa pun dirasakan petani lainnya yang merupakan pengungsi Gunung Agung. Penghasilan semakin meningkat semenjak berkebun di kota yang terkenal dengan makanan khasnya yaitu serombotan. Selain karena suhu yang hangat. Kondisi dan luas tanah pun mempengaruhi perkembangan bunga gemitir. “Karena disini carik (sawah) kalo di Besakih engga ada carik (sawah) yang luas,” tegas Ketut Sari petani bunga gemitir.

Meski penghasilan yang meningkat, namun tidak membuka niatan para pengungsi Gunung Agung untuk melanjutkan usahanya di Desa Negari. Kembali ke kampung halaman selalu menjadi harapan mereka. Uang bukan menjadi masalah, kenyamanan dan keamanan yang terpenting. “Maunya kalo sudah aman ke Besakih lagi, bekerja di desa sendiri lebih baik,” kata Martini sambil tersenyum.(gud)