Konten dari Pengguna

Belajar Daring Bagaikan Menggantung Nyawa pada Jaringan

Ichanita Magdalena BR Pasaribu

Ichanita Magdalena BR Pasaribu

Mahasiswa S1 Bisnis Digital di Telkom University Purwokerto

·waktu baca 3 menit

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ichanita Magdalena BR Pasaribu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pada saat belajar daring (Sumber: Berita Magelang)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pada saat belajar daring (Sumber: Berita Magelang)

Pandemi COVID-19 di Indonesia bahkan dunia telah berdampak pada berbagai sektor kehidupan, baik di bidang ekonomi, kesehatan, industri manufaktur dan dampak yang besar juga dirasakan dibidang Pendidikan. Pandemi ini membuat sekolah, universitas dan lembaga pendidikan lainnya ikut ditutup sementara, sehingga pembelajaran terpaksa dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) melalui kelas virtual seperti zoom, meet online, classroom, discord, dan lain sebagainya.

Hal ini tentu berdampak buruk terhadap kualitas minat belajar pada umumnya. Kebanyakan pelajar merasa jenuh dan bosan karena mengalami beberapa kendala seperti kurang memahami materi, penyampaian materi yang kurang mendetail, tidak memiliki gawai dan laptop sehingga harus meminjam, dan sulitnya jaringan di daerah mereka. Hal ini merupakan beberapa faktor mengapa belajar daring masih mengalami banyak kendala.

Belajar daring atau online merupakan pembelajaran yang dilakukan secara langsung melalui jaringan internet. Hal ini tentu merupakan tantangan besar baik bagi pengajar, pelajar, dan orang tua. Karena mau tak mau semua harus bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru ini dan dituntut harus melek teknologi. Yang semula gagap terhadap perubahan kini dituntut harus mampu mengikuti arus perubahan yang cepat.

Banyak pelajar yang mengalami kesulitan selama belajar online yang dipicu oleh beberapa faktor seperti: pertama, kurangnya interaksi secara fisik antara pengajar dan pelajar, hal ini tentu merupakan kendala bagi sebagian besar pelajar apalagi cara setiap pelajar dalam memahami materi berbeda-beda. Mungkin ada pelajar yang hanya dijelaskan sekali secara virtual sudah paham, tetapi ada juga yang harus dijelaskan secara langsung melalui tatap muka.

Kedua, tugas yang diberikan oleh pengajar sangat banyak, sedangkan waktu pengumpulan singkat. Dalam keadaan seperti ini bagaimana pelajar bisa belajar dengan optimal? Tentu para pelajar akan merasa jenuh menyelesaikan tugas mana yang akan dikerjakan terlebih dahulu.

Ketiga, banyak pelajar yang belum memiliki gawai sendiri sehingga harus meminjam gawai milik orang tuanya, kakaknya, atau bahkan meminjam gawai tetangganya. Ini bukanlah hal sepele terutama dalam pembelajaran daring seperti saat ini. Gawai merupakan salah satu hal terpenting untuk dimiliki oleh setiap pelajar karena harus menerima materi. Bayangkan jika setiap akan menerima materi harus meminjam gawai terus menerus, hal ini tentu tidak efektif bagi pelajar dan bisa mengganggu fokus pelajar dalam mengerjakan tugas dan memahami materi.

Keempat, kendala dalam kesulitan jaringan di daerah. Mungkin bagi pelajar yang berada di kota atau daerah yang memiliki akses internet lancar, akan jarang merasakan hilang koneksi atau bahkan tidak pernah sama sekali. Tetapi lain halnya bagi pelajar yang tinggal di daerah pedesaan, pelajar yang tinggal di daerah akan sering mengalami kesulitan dalam koneksi jaringan. Parahnya lagi jika sudah hujan dan mati listrik sudah dipastikan akan mengalami gangguan jaringan yang akan berdampak pada proses pembelajaran daring karena koneksi yang tidak stabil.

Ilustrasi siswa saat mencari jaringan diatas bukit (Sumber: detikNews)

Sesuai dengan judul artikel opini ini “Belajar Daring Bagaikan Menggantung Nyawa pada Jaringan” saya memberi istilah bahwa jaringan adalah nyawa bagi para pelajar di saat belajar online, sehingga diperlukan jaringan yang stabil agar pelajar bisa mengikuti kelas daring dengan lancar tanpa kendala. Jika terkendala jaringan maka nyawa pelajar seperti tergantung pada jaringan, yang dalam artian jika tidak bisa masuk kelas online sehingga akan ketinggalan materi atau terhitung alpa.

Artikel ini ditulis berdasarkan opini saya mengenai kendala yang sering dialami oleh pelajar selama belajar online. Penyebab di antaranya karena beberapa faktor yang sudah dijelaskan di atas dan yang paling utama adalah karena kendala jaringan di daerah terpencil. Saya berharap artikel ini bisa dibaca oleh tenaga pengajar dan dapat mempertimbangkan isinya. Harapannya para pengajar dan pelajar secara bersama-sama bisa saling memahami dan bekerja sama dalam kondisi seperti ini.

@icha_psb_