Ekonomi Melambat, Pemerintah Andalkan Bansos: Solusi atau Penunda Krisis?

Mohammad Ichsan Verianto, Bachelor of Economics from Universitas Airlangga. Interest in Regional Economics, Public Policy, Green Economics & Environment, and Finance.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mohammad Ichsan Verianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi global, pemerintah kembali menggulirkan bantuan sosial (bansos) beras untuk masyarakat rentan. Langkah ini diharapkan mendorong konsumsi domestik dan menopang pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 5 persen.

Namun, bergantung pada stimulus jangka pendek seperti bansos membawa risiko struktural yang perlu diwaspadai, terutama ketika indikator fundamental menunjukkan tanda-tanda pelemahan serius.
Bansos untuk Menahan Laju Perlambatan Ekonomi
Pemerintah melalui pernyataan Kementerian Koordinator Perekonomian sedang menyiapkan gelombang bantuan sosial (bansos) beras sebagai strategi meningkatkan konsumsi rumah tangga. Ini menjadi penting karena data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 hanya tumbuh 4,87 persen (year-on-year).
Meskipun angka tersebut menunjukkan pertumbuhan positif di tengah ketidakpastian global, capaian itu tetap berada di bawah target 5 persen yang diharapkan, menimbulkan kekhawatiran soal stagnasi momentum ekonomi nasional.
Konsumsi Melemah, Investasi Lesu, Pertumbuhan Ekonomi Tertekan
Berdasarkan komponen pengeluaran, BPS mengungkapkan beberapa tantangan utama. Konsumsi pemerintah terkontraksi sebesar -1,38 persen akibat tidak adanya lonjakan belanja seperti pada kuartal pemilu sebelumnya, sehingga belanja negara melemah dalam menopang pertumbuhan.
Investasi, yang tercermin dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), hanya tumbuh 2,12 persen. Pelambatan ini mencerminkan kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian global dan tekanan eksternal.
Sementara itu, ekspor tumbuh 6,78 persen, terutama dari sektor nonmigas dan pariwisata. Namun, laju ekspor ini belum cukup untuk menggantikan lemahnya permintaan domestik. Dengan demikian, bansos sebagai pemicu konsumsi perlu disertai upaya memperbaiki daya dorong investasi dan belanja pemerintah agar pertumbuhan ekonomi lebih berimbang.
Tekanan di Sektor Manufaktur: PHK Meningkat, PMI Turun
Sektor manufaktur, sebagai kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), hanya tumbuh moderat 4,55 persen. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia bahkan tercatat turun ke level terendah pasca pandemi.
Akibatnya, terjadi lonjakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa hingga 23 April 2025, tercatat 24.036 pekerja terkena PHK, dengan 16.801 orang di antaranya berasal dari sektor industri pengolahan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sektor industri membutuhkan transformasi untuk bertahan di tengah tekanan global dan menjaga keberlanjutan pasar tenaga kerja.
Lapangan Kerja Terbatas di Tengah Ekonomi Lesu
BPS mencatat tiga sektor utama penyerap tenaga kerja di Indonesia, yaitu pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta industri pengolahan, yang secara kumulatif menyerap sekitar 61 persen total tenaga kerja nasional.
Rincian penyerapan tenaga kerja per Februari 2025 adalah sebagai berikut: sektor pertanian-kehutanan-perikanan menyerap 28,54 persen (penambahan 0,89 juta orang), perdagangan besar dan eceran 19,26 persen (penambahan 0,98 juta orang), dan industri pengolahan 13,45 persen (penambahan 0,72 juta orang).
Pelemahan pertumbuhan di ketiga sektor ini akan berdampak luas terhadap stabilitas ketenagakerjaan nasional. Tanpa upaya revitalisasi sektor-sektor tersebut, kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja baru akan semakin terbatas.
Dari Bansos ke Stimulus Ekonomi: Saatnya Reformasi Struktural
Data terbaru mengilustrasikan bahwa problematika ekonomi Indonesia bersifat struktural. Bansos beras dan stimulus konsumsi memang dibutuhkan untuk menopang permintaan jangka pendek. Namun, ketergantungan berlebihan terhadap bansos tanpa reformasi mendalam berisiko memperdalam stagnasi.
Tekanan global, seperti perang dagang dan kenaikan suku bunga dunia, semakin membatasi ruang pertumbuhan ekspor dan manufaktur. Oleh karena itu, kebijakan fiskal dan moneter harus berjalan selaras, dengan fokus pada penguatan basis produksi dan penciptaan lapangan kerja produktif.
Selain menyalurkan bansos, pemerintah perlu mempercepat investasi proyek strategis nasional, memperbaiki insentif industri, serta menjaga iklim usaha agar lebih kondusif. Stimulus jangka pendek mesti diikuti reformasi struktural yang mendorong produktivitas, inovasi, dan diversifikasi sektor ekonomi.
Kebijakan semacam ini penting untuk memastikan bahwa bantuan sosial berfungsi sebagai jembatan menuju pemulihan ekonomi yang berkelanjutan, bukan sekadar menunda krisis berikutnya.
