Konten dari Pengguna

Era Digitalisasi: Gen Z Lebih Berani Speak Up Dibanding Generasi Sebelumnya?

Adi Putera Tan

Adi Putera Tan

SMA Citra Berkat Tangerang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adi Putera Tan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dihasilkan oleh AI (Gemini, 2025), atas permintaan penulis
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dihasilkan oleh AI (Gemini, 2025), atas permintaan penulis

Dulu, banyak orang berpikir bahwa ketika tugas diberikan, langsung dikerjakan tanpa sedikit kritik atau pertanyaan. Namun sekarang, gambaran tersebut mulai berubah drastis. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1996-2010, muncul sebagai suara baru di berbagai bidang: dari tempat kerja, lingkungan sosial, kampanye politik, hingga isu-isu keadilan & hak asasi. Mereka tidak takut bersuara dalam perihal mengubah sesuatu menjadi lebih baik.

Salah satu pemicu perubahan sikap ini adalah budaya digital dan media sosial yang makin dominan dalam hidup Gen Z. Data dari Katadata-Insight Center bersama Kominfo tahun 2021 menunjukkan bahwa 60% Gen Z di Indonesia dikategorikan memiliki tingkat literasi digital yang tinggi.

Keakraban dengan platform daring membuat mereka lebih mudah menyuarakan pendapat, kritik, atau aspirasi lewat postingan, live, komentar, hingga kampanye digital. Digital menjadi ruang utama untuk bersuara.

Namun, bukan berarti mereka selalu nyaman: data dari HR Magazine menunjukkan bahwa hanya 56% Gen Z bersedia menyuarakan kekhawatiran keselamatan atau kesehatan di tempat kerja, jauh dibandingkan dengan 86% pada mereka yang usia 55 ke atas. Hal ini menunjukan bahwa ada gap antara keinginan dan kenyataan saat kondisi dianggap tidak aman, jaminan, atau merasa diproteksi.

Para Gen Z tumbuh di era transparansi, segala hal dapat dilihat serta diakses publik dengan cepat dan instan, mulai dari kebijakan perusahaan hingga praktek yang kontroversial. Tekanan sosial dan ekspektasi mereka bukan hanya soal karier atau gaji, tapi juga soal nilai: etika perusahaan, representasi, keberagaman, dan dampak sosial. Mereka ingin bekerja di tempat yang identitas dan keyakinan pribadinya dihargai. Kondisi ekonomi & sosial yang berubah juga turut membuat mereka merasa bahwa diam saja bukan pilihan terbaik bila ingin ada perubahan.

Contoh nyata dari dampak keberanian Gen Z dalam speak up adalah sebagian perusahaan yang telah menyediakan saluran feedback, forum internal, atau kebijakan “reverse mentorship” di mana karyawan muda bisa memberi feedback ke atasan dalam kerangka yang aman dan terstruktur. Isu-isu seperti kesehatan mental atau fleksibilitas juga menjadi pertimbangan mereka dalam memilih tempat kerja dan negosiasi kerja.

Gen Z ingin suara mereka didengar dan dihargai. Bagi perusahaan, organisasi, dan institusi publik, tantangannya sekarang adalah menciptakan lingkungan yang tidak hanya membolehkan, tapi juga mendorong dan melindungi keberanian untuk bersuara.