Ramainya Bisnis Kuliner: Tren Viral atau Peluang Jangka Panjang?

SMA Citra Berkat Tangerang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Adi Putera Tan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Industri makanan dan minuman (Food & Beverage/F&B) di Indonesia saat ini berkembang dengan pesat. Menurut data Kementerian Perindustrian, subsektor F&B menyumbang lebih dari 6,8% terhadap PDB nasional pada 2024 dan menjadi salah satu kontributor terbesar dalam pertumbuhan ekonomi. Antusiasme masyarakat setelah pandemi COVID-19 untuk kembali makan di luar rumah, nongkrong, dan menjajal berbagai kuliner baru membuat bisnis ini semakin ramai. Franchise besar maupun UMKM lokal berlomba membuka cabang baru untuk memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh.
Salah satu pendorong utama pertumbuhan F&B adalah digitalisasi. Platform pesan-antar makanan seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood telah menjadi kanal utama bagi konsumen untuk mengakses berbagai pilihan kuliner. Riset Katadata (2025) mencatat bahwa 77% konsumen urban Indonesia menggunakan layanan pesan-antar makanan setidaknya sekali dalam seminggu. Selain itu, media sosial juga berperan besar dalam memviralkan produk F&B baru, dengan tren makanan viral sering mendorong lonjakan penjualan dalam waktu singkat.
Meski menjanjikan, industri ini menghadapi tantangan berat. Persaingan yang sangat ketat menjadi salah satu isu utama. Mudahnya masuk ke bisnis F&B membuat jumlah pelaku usaha melonjak, sehingga diferensiasi produk dan konsep menjadi kunci utama untuk bertahan. Tanpa inovasi, banyak usaha baru cepat tenggelam di tengah derasnya arus kompetisi. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas dalam menu, desain tempat, dan pengalaman pelanggan adalah faktor yang tak bisa diabaikan.
Tantangan lain datang dari biaya operasional yang meningkat. Harga bahan baku, listrik, sewa lokasi, serta gaji karyawan terus naik, menekan margin keuntungan. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2025) menunjukkan bahwa inflasi bahan makanan mencapai 5,4% year-on-year pada Agustus 2025. Dalam kondisi seperti ini, strategi efisiensi dan inovasi produk menjadi penting agar usaha tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas. Selain itu, pendanaan juga masih menjadi kendala bagi UMKM F&B. Banyak pelaku usaha kesulitan mengakses modal untuk memperluas bisnis. Dari sisi ini, perlu ada kebijakan yang lebih ramah UMKM agar mereka bisa berkembang setara dengan pemain besar.
Isu kualitas dan konsistensi produk juga krusial. Banyak bisnis F&B yang sukses di tahap awal namun gagal mempertahankan standar rasa dan pelayanan saat ekspansi. Contoh, seperti Sour Sally: sempat booming karena tren frozen yogurt, namun penjualan menurun drastis ketika konsistensi produk tidak bisa dipertahankan. Menurut saya, ini menjadi pelajaran bahwa branding viral hanya bisa membuka pintu awal, tetapi yang membuat pelanggan kembali adalah kualitas dan konsistensi. Inovasi boleh mengikuti tren, tapi fondasi bisnis harus kuat agar bisa bertahan.
Di sisi lain, tren gaya hidup sehat dan eco-friendly menciptakan peluang baru. Konsumen semakin peduli terhadap makanan organik, rendah gula, dan ramah lingkungan. Produk F&B yang mengusung nilai keberlanjutan berpotensi tumbuh lebih cepat dibanding yang hanya berfokus pada harga murah. Menurut saya, arah ini bukan hanya tren sementara, melainkan bagian dari perubahan gaya hidup masyarakat modern. Secara keseluruhan, bisnis F&B memang merajalela di Indonesia dengan prospek yang sangat menjanjikan. Namun, untuk bisa bertahan dan berkembang, pelaku usaha harus mampu menavigasi persaingan ketat, menjaga kualitas, berinovasi sesuai tren, serta mengatasi tantangan biaya dan pendanaan.
