Normalisasi Memotong Pembicaraan Orang

Berargumen lewat tulisan, menarasikan pikiran. Selamat membaca dan berdiskusi.
Tulisan dari Igor Cornelius Simanjuntak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di zaman demokrasi seperti saat ini, tentu kita bebas mengutarakan pendapat dan bebas bertindak, asalkan masih dalam batas-batas peraturan demokrasi yang ada di Indonesia. Tetapi ada hal-hal yang dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Seakan-akan masyarakat Indonesia menormalisasi satu hal yang dianggap sepele, tetapi sebenernya hal ini sangat penting, yaitu memotong pembicaraan orang. Karena masyarakat Indonesia itu sendiri merasa sudah hidup di zaman yang bebas dan demokratis, sehingga masyarakat bebas melakukan apa pun yang mereka mau. Padahal jika kita tarik kembali, demokrasi pun masih ada batas-batasnya.
Kita pasti pernah merasakan hal yang tidak mengenakan ketika pembicaraan kita dipotong seenaknya oleh orang lain. Walaupun orang lain tersebut sudah meminta maaf terlebih dahulu ketika memotong pembicaraan kita, tetapi seolah-olah kita tetap merasa tidak dihargai ketika berbicara, apalagi pada saat kita berbicara di depan umum/publik. Hal ini memang dinilai sebagian orang sebagai hal yang lumrah atau biasa. Tetapi tetap hal ini tidak bisa dinormalisasi.
Dalam permasalahan ini, ada 3 hal yang berkaitan dengan kebiasaan seseorang dalam memotong pembicaraan orang:
Etika
Kebebasan
Moral
Etika itu sendiri bisa diartikan secara khusus sebagai ilmu pengetahuan yang meneliti dan merefleksikan nilai dan norma moral. Sementara kebebasan merupakan suatu keadaan yang memungkinkan manusia (seseorang) untuk bertindak sesuai dengan kehendaknya. Dan yang terakhir itu moral, moral (moralitas) adalah kumpulan nilai dan norma moral (perbuatan yang baik dan yang buruk).
Ketiga hal ini yaitu etika, kebebasan, dan moral sangat berkaitan erat dengan permasalahan yang sedang
kita bahas. Mengapa? Karena manusia itu pasti mempunyai yang namanya etika, kebebasan, dan moral. Permasalahannya ialah, mengapa manusia masih tidak bisa mengerti dan memanfaatkan ketiga hal tersebut secara baik, walaupun sudah diberi kecerdasan berupa otak oleh sang pencipta. Tentu hal ini menjadi pertanyaan bagi kita semua.
Jika dilihat dari segi kebebasan, masalah memotong pembicaraan orang memang termasuk ke dalam suatu kebebasan individu, tetapi perlu diingat bahwa tidak ada suatu kebebasan yang benar-benar mutlak mengandung arti kebebasan 100%. Karena di dunia ini tidak ada yang namanya kebebasan secara penuh. Pasti jika kita ibaratkan ke dalam persentase, kebebasan hanya bisa mencapai 90% saja. Mengapa? Karena 10%-nya merupakan batas-batas moral, norma-norma social, dan peraturan yang sudah berada dari zaman dahulu kala. Kebebasan pasti dihalangi akan ketiga hal tersebut.
Jadi, walaupun seorang individu bebas melakukan apapun sesuai kehendaknya, jangan sampai lupa bahwa ada batas-batas moral, norma, dan peraturan yang tegap berdiri di sekitar kita. Jangan jadikan kebiasaan memotong pembicaraan orang menjadi suatu hal yang normal. Kita sebagai manusia harus bisa memahami batasan-batasan yang ada, dan menghargai orang lain.
