Sound Horeg Menggetarkan Sosioekonomi

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ihza Akmal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Realita Horeg
Karnaval sound horeg mendapat sorotan beberapa tahun belakangan. Kegiatan yang melibatkan sound system berukuran besar dengan ciri khas berupa volume dan bass berintensitas tinggi ini biasanya diselenggarakan di lapangan terbuka atau berkeliling di jalanan, dengan diiringi penari-penari yang menggunakan kostum bertema tertentu. Kegiatan horeg dapat berlangsung selama berjam-jam, salah satunya seperti yang terjadi di Mojokerto pada tanggal 14 Februari 2026. Pelaksanaan kegiatan tersebut mendapat sorotan karena berlangsung dari pukul 14.00 hingga sekitar 04.30.
Kritik terhadap sound horeg antara lain berkaitan dengan durasi kegiatan, tingkat kebisingan, sampah setelah kegiatan, dan dalam beberapa kasus, ada penonton yang mabuk saat menonton sound horeg. Di media sosial, penikmat sound horeg terkadang mendapat komentar pedas seperti ”SDM rendah.” Namun demikian, kritik tersebut tidak menjadi satu-satunya perspektif. Ada pihak-pihak yang melihat sound horeg dari sudut pandang berbeda.
Perbedaan Pandangan
Adanya karnaval sound horeg tak dapat dimungkiri telah memunculkan perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Melalui unggahan-unggahan di media sosial, dapat ditemukan pemberitaan mengenai ketidaktertiban dan kerugian yang dialami pihak tertentu dalam penyelenggaraan sound horeg. Kejadian seperti properti rumah yang rusak akibat sound horeg menimbulkan pandangan negatif dari sebagian pengguna media sosial terhadap keberadaan kegiatan tersebut.
Namun demikian, terdapat pula pandangan berbeda. Dalam salah satu wawancara mengenai kegiatan sound horeg dengan pelaku usaha horeg (sebut saja X). X menyampaikan bahwa kerusakan properti rumah yang terjadi akibat sound horeg justru memperoleh reaksi positif dari penonton. Ia juga mengatakan bahwa kerugian semacam itu akan ditanggung oleh pihak penyelenggara. Sejalan dengan X, Y sebagai salah satu pekerja yang berkecimpung dengan sound horeg mengatakan bahwa karnaval horeg hadir atas kemauan warga setempat yang mengadakan iuran. Menurutnya, hal tersebut membuat kegiatan horeg tidak serta-merta dapat dianggap meresahkan oleh seluruh masyarakat.
Berkaca dari perspektif yang bertentangan ini, lantas standar apa yang sebenarnya digunakan untuk menilai apakah suatu hal bersifat positif atau negatif jika dalam lingkungan yang sama masih terdapat perbedaan pandangan? Well, penilaian terhadap suatu fenomena sosial tidak selalu terlepas dari norma kelompok yang dianut oleh pihak yang menilainya. Norma memberi petunjuk bagi anggota kelompok mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan dalam berbagai situasi. Norma juga merupakan produk yang lahir dan disepakati melalui proses sosial dalam kelompok.
Hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa berbagai pihak bisa memberikan penilaian berbeda terhadap suatu peristiwa. Bagi sebagian pihak, kerusakan properti mungkin dipandang sebagai persoalan yang harus dihindari. Sementara itu, bagi pihak lain, konsekuensi tertentu dianggap masih bisa diterima ketika terdapat kesepakatan bahwa kerugian akan ditanggung oleh penyelenggara atau ketika kegiatan tersebut dipandang memberikan hiburan.
Lebih lanjut, dalam studinya, Newcomb menunjukkan bahwa dua orang bisa berada dalam lingkungan yang sama tetapi memiliki sikap yang bertolak belakang, tergantung kelompok mana yang mereka jadikan acuan untuk membandingkan dan mengevaluasi sikap mereka.
Diam-diam Cuan
Ketika membicarakan sound horeg, acapkali isu-isu yang berkenaan dengan sosial menjadi fokus utama. Akan tetapi, dari sisi ekonomi masih sering luput dari sorotan. Padahal, perputaran ekonomi dari kegiatan ini terdistribusi ke elemen-elemen masyarakat, termasuk memberikan peluang bagi UMKM untuk memperoleh keuntungan lebih besar.
Mengutip survei yang dilakukan oleh Tirto dan Jakpat, mayoritas responden yang pernah menghadiri karnaval sound horeg mengeluarkan uangnya untuk berbagai macam tujuan, dengan jajanan sebagai pengeluaran yang paling banyak dilakukan (83,31%). Sejalan dengan data tersebut, salah satu pelaku UMKM turut mengonfirmasi adanya kenaikan keuntungan ketika berniaga di karnaval sound horeg.
Sementara itu, dengan skala yang lebih besar, perputaran uang turut terjadi di antara komunitas peserta dan vendor sound horeg. Salah satu sumber Tirto mengatakan setidaknya dana yang dibutuhkan untuk menyewa sound horeg mencapai Rp15,5 juta dan akan lebih tinggi apabila menggunakan vendor ternama. Berkaca dari hal ini, keberadaan sound horeg turut memfasilitasi aktivitas ekonomi di antara berbagai elemen masyarakat.
Konflik Kepentingan
Wacana publik kerap terjebak pada pertanyaan yang terlalu sederhana, apakah kegiatan ini sebaiknya terus diizinkan atau dilarang? Pemikiran semacam ini menganut paham distributif dalam memandang permasalahan, di mana ketika satu pihak menang maka pihak lainnya mengalami kekalahan. Dalam model ini, memenuhi keinginan warga yang terdampak mengandung arti peniadaan horeg, sementara mempertahankan horeg bermakna mengorbankan kenyamanan warga.
Kebuntuan semacam ini boleh jadi buah dari cara pandang terhadap permasalahan. Pihak-pihak yang sedang berkonflik kerap memusatkan perhatian pada tuntutan secara eksplisit, bukan pada kebutuhan yang mendasari kepentingan tersebut. Warga yang terdampak mengeluhkan ketertiban dan ketenangan. Sementara penonton horeg, pekerja horeg, atau bahkan UMKM berkonsentrasi pada hiburan dan sumber penghasilan.
Bila dikelola secara konstruktif, penyelesaian konflik tidak harus menempatkan kepentingan salah satu pihak sebagai satu-satunya kepentingan yang harus dipenuhi. Strategi forcing (mengorbankan untuk menang) justru merusak hubungan jangka panjang bagi pihak-pihak yang bertikai, alih-alih menyelesaikan akar masalahnya.
Yuk, Damai
Aturan main sound horeg semestinya disusun bersama oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah negosiasi integratif (win-win solution). Apabila persoalan tak kunjung mendapat titik terang, pengikutsertaan pihak ketiga yang netral dapat dilakukan. Mediator membantu pihak-pihak yang bersengketa mencapai pemufakatan yang berkeadilan. Peran semacam ini dapat dilakukan oleh figur yang dipercayai semua pihak. Namun demikian, kegagalan dalam proses mediasi adalah sesuatu yang mungkin terjadi. Apabila demikian, pembuatan regulasi daerah dapat menjadi salah satu alternatif untuk memberikan batasan yang lebih jelas terhadap penyelenggaraan kegiatan.
Pada akhirnya, pengamatan terhadap sound horeg tidak lagi sebatas "diadakan atau ditiadakan," tetapi bergeser ke "bagaimana agar tidak ada pihak yang dikorbankan." Ketika kepentingan antarpihak dapat dipertemukan, perbedaan norma tidak lagi menjadi tembok pemisah. Keberagaman cara pandang menunjukkan bahwa satu fenomena bisa dimaknai secara berbeda oleh kelompok yang berbeda; horeg boleh tetap bergema, tetapi penyelenggaraannya perlu tetap mempertimbangkan suara mereka yang terdampak.
