Woman
·
14 Oktober 2021 14:03
·
waktu baca 5 menit

Ketika Aku Memutuskan untuk Kembali Pulih

Konten ini diproduksi oleh Ika Lewono
Ketika Aku Memutuskan untuk Kembali Pulih (825603)
searchPerbesar
Freepik.com
Dua tahun lalu, tahun 2019, saya adalah seorang wanita yang tidak percaya diri. Berat badan saya mencapai 68 kilogram dengan tinggi badan hanya 155 cm. Ketika itu saya tidak begitu memedulikan keadaan fisik saya yang sudah mulai menunjukkan tanda awal obesitas.
ADVERTISEMENT
Ketika bercermin, saya tidak menyukai sosok yang menatap balik di sana. Sosok seorang wanita yang sedang menginjak usia awal empat puluhan. Wajahnya putih pucat tanpa riasan. Lingkaran hitam nampak menghiasi kedua mata kecilnya yang selalu terlihat gelisah. Bibirnya terkatup rapat, sulit mengulas senyum. Lidahnya setajam sembilu ketika berkata-kata.
Saat itu, tidak ada satu kata pujian pun yang bisa saya ucapkan walaupun hanya dalam diam. Keseluruhan diri saya penuh dengan rasa insecure, rasa tidak nyaman, penuh kecemasan dan tidak merasa aman dengan diri saya sendiri.
Begitu banyak bentuk ketidakpedulian yang sering saya ekspresikan dalam kehidupan keseharian saya. Salah satunya dalam hal pemilihan pakaian. Saya sering mengenakan pakaian ala kadarnya dengan alasan, ah untuk apa? Saya toh tidak bekerja di kantoran, enggak perlu lah rapi-rapi banget.
ADVERTISEMENT
Hal itu adalah sebuah pemikiran yang saya hadirkan sebagai pembelaan diri untuk menutupi satu rasa yang lain, rasa rendah diri. Rasa rendah diri yang juga mengundang teman seperjalanannya untuk hadir, rasa bersalah. Rasa bersalah karena tidak menyayangi diri sendiri.
Saya menolak untuk mengakui bahwa saya telah menelantarkan diri saya sendiri untuk waktu yang sudah cukup lama. Tubuh fisik saya mulai berteriak memberi tanda peringatan. Mulai dari sakit kepala yang tak kunjung hilang, nyeri lambung yang sering tidak tertahankan, hingga lutut berderik yang mengganggu langkah kaki saya.
Kondisi emosi dan mental saya juga mengalami hal yang sama. Saya menjadi orang yang mudah tersinggung, skeptis, dan terkesan sinis tanpa mengenal kata belas kasihan. Lidah saya berteriak marah mempertanyakan Tuhan, mempertanyakan kehidupan. Saya sering larut terlalu dalam di semua rasa kecewa, sedih dan putus asa. Saya menjadi orang yang membenci diri saya sendiri.
ADVERTISEMENT
Dan ketika sikap ketidakpedulian saya telah tumbuh berkembang terlalu jauh hingga tiba pada tahap yang cukup mengkhawatirkan, maka, di saat itu, saya mengatakan pada diri saya sendiri untuk berhenti. Berhenti untuk bersikap tidak peduli. Berhenti untuk membenci diri sendiri.
Dan dengan satu kalimat itu, tanpa sadar, saya telah melakukan satu langkah awal yang sangat berarti, langkah pertama untuk mulai peduli pada diri sendiri. Langkah pertama untuk kembali pulih.
***
Gaya hidup sehat, atau yang lebih sering dikomersialkan dengan bahasa keren, healthy lifestyle, tidak pernah terlintas sedikitpun untuk saya terapkan. Bagi saya hal itu hanya berlaku untuk orang-orang kelas mapan yang hidupnya sudah berkecukupan dan tidak lagi memusingkan urusan pekerjaan ataupun keuangan. Healthy lifestyle sama dengan kemewahan. Begitulah pemikiran saya waktu itu.
ADVERTISEMENT
Namun, keputusan saya untuk mau kembali pulih, ternyata telah membawa saya pada banyak hal baru. Dengan membaca banyak artikel tentang pola hidup sehat dan mengikuti berbagai seminar daring tentang kesehatan mental, saya mulai menyadari bahwa pola hidup sehat pada intinya adalah sebuah mindset, sebuah pola pikir.
Pola hidup sehat bukan hanya sekadar menjadi sehat secara fisik, tapi juga sehat secara emosi, secara mental. Jadi ketika saya mengubah persepsi saya bahwa menerapkan pola hidup sehat bukanlah lagi berhubungan dengan kemewahan, maka, di saat itulah pikiran, emosi dan juga tubuh fisik saya mulai saling bekerja sama untuk mewujudkannya.
***
Saya adalah pecinta makanan enak. Jajanan pasar, kue-kue kering, beragam jenis roti, hingga aneka gorengan, adalah kesukaan saya. Begitu juga dengan makanan pedas, berkarbohidrat tinggi, dan tentu saja semua jenis makanan instan. Saya menyukai sensasi rasa yang ditimbulkan indra pengecap saya ketika menyentuh rasa manis, pedas dan gurih. Dan saya seringkali memuaskan rasa "ingin" makan enak tanpa berpikir dua kali.
ADVERTISEMENT
Hal ini adalah salah satu bentuk pelarian diri saya dari masalah yang memenuhi pikiran dan benak saya. Salah satu wujud lain dari sikap ketidakpedulian saya terhadap diri sendiri. Namun, saat itu, saya tidak benar-benar menyadarinya.
Sebaliknya dari makanan, saya bukanlah pecinta olahraga. Semenjak dari masa sekolah hingga telah menikah pun, saya tetap tidak menyukai semua jenis olahraga. Termasuk juga semua olahraga dalam bentuk permainan seperti bulu tangkis, basket, apalagi sepak bola. Tidak ada satu pun yang menarik minat saya.
Sungguh suatu kombinasi yang sangat tidak ideal. Suka makan, tapi tidak suka olahraga. Kedua hal ini adalah hal pertama yang saya perhatikan ketika saya memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat.
Saya mulai melakukan olahraga ringan. Saya lakukan setiap hari walaupun puluhan kali pikiran saya membujuk untuk berhenti. Saya juga lebih mempertimbangkan apa pun jenis makanan yang masuk ke mulut saya. Terdengar klise? Mungkin saja. Tapi saya memilih untuk tetap melanjutkan langkah saya meskipun beribu ocehan di kepala saya mencoba untuk membuat saya menyerah.
ADVERTISEMENT
Saya mulai melambatkan semua kegiatan saya dengan mencoba hanya untuk duduk diam sejenak tanpa melakukan aktivitas apa pun. Mengambil jeda dari semua emosi yang saya rasakan. Apakah selalu berhasil ? Tentu saja tidak. Lebih banyak gagalnya.
Pikiran saya selalu ingin menyeret saya kembali untuk merasakan sensasi rasa yang sudah saya kenal sejak lama, rasa marah, kecewa dan putus asa. Tapi saya tetap melanjutkan apa yang telah saya putuskan. Hari ini tidak bisa? Tidak mengapa, saya coba lagi besok.
Saya terus melakukan hal yang sama berulang kali hingga benak dan pikiran saya mulai percaya dan membuat diri saya sendiri juga percaya bahwa saya "bisa". Saya bisa kembali pulih.
***
Dalam kurun waktu dua tahun, kondisi fisik saya mengalami banyak perubahan. Saya tidak lagi mengalami sakit kepala yang tak kunjung hilang. Derik di kedua lutut saya pun perlahan mulai menghilang.
ADVERTISEMENT
Saat ini saya berbobot 55 kg dengan tinggi 155 cm. Lalu, apakah saya masih merasa insecure? Jawabannya masih. Tapi ada yang berbeda sekarang. Saya mulai bisa untuk memilih. Memilih untuk tidak ikut terhanyut bersama semua rasa dan emosi yang datang. Tidak ikut larut dalam rasa insecure itu sendiri.
Namun, yang paling berarti untuk saya adalah, tentang berubahnya cara pandang saya terhadap diri saya sendiri. Saya mulai menyukai diri saya sendiri berikut semua atribut yang menyertainya.
Hari ini, ketika bercermin, saya melihat sosok wanita dengan cahaya di matanya. Terkadang ada senyum menggoda di bibirnya. Wajahnya tidak lagi memberengut muram.
Saya melihat seorang wanita yang sedang kembali untuk pulih. Dan saya menyukainya.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020