Bukan Malas, Mungkin Kamu Hanya Lelah: Memahami Tekanan Hidup di Usia 20-an

saya adalah seorang mahasiswa universitas Pamulang yang senang dalam membuat artikel dan jurnal
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari iqbal Jabar mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu bangun pagi, melihat banyak hal yang harus dikerjakan, tetapi tubuh rasanya tidak ingin bergerak? Tugas menumpuk, pekerjaan menunggu, pesan belum dibalas, tetapi yang bisa dilakukan justru hanya rebahan sambil memainkan ponsel.
Kemudian muncul satu kalimat yang sering kita ucapkan kepada diri sendiri: “Gue sebenarnya malas banget.”
Padahal, belum tentu.
Bisa jadi kita bukan malas. Kita hanya sedang lelah.
Di usia 20-an, kehidupan sering terasa seperti perlombaan yang tidak pernah benar-benar dimulai, tetapi kita sudah merasa tertinggal. Ada teman yang sudah bekerja, ada yang mulai membangun bisnis, ada yang lulus kuliah lebih cepat, bahkan ada yang sudah memiliki penghasilan yang terlihat besar dari media sosial.
Sementara kita masih bertanya-tanya, “Sebenarnya hidup gue mau dibawa ke mana?”
Usia 20-an dan Tekanan untuk Segera “Jadi Seseorang”
Usia 20-an sering dianggap sebagai masa terbaik untuk mengejar masa depan. Kita diberi banyak nasihat: harus produktif, harus punya pengalaman, harus membangun relasi, harus punya pekerjaan bagus, harus menabung, bahkan harus mulai memikirkan investasi.
Nasihat tersebut sebenarnya tidak salah. Masalahnya muncul ketika semuanya datang secara bersamaan.
Kita akhirnya merasa harus melakukan banyak hal dalam waktu yang sama. Kuliah harus bagus, pekerjaan harus berkembang, pertemanan harus tetap terjaga, keluarga harus dibanggakan, kesehatan harus diperhatikan, dan masa depan harus segera dipersiapkan.
Belum lagi media sosial.
Setiap membuka Instagram atau TikTok, kita bisa melihat orang lain sedang berada di titik yang berbeda dalam hidupnya. Ada yang sedang liburan ke luar negeri, membeli kendaraan baru, mendapatkan pekerjaan impian, wisuda, menikah, atau memulai bisnis.
Tanpa sadar, kita membandingkan proses hidup kita dengan hasil hidup orang lain.
Di situlah masalah sering dimulai.
Kita Sering Lupa Bahwa Hidup Bukan Perlombaan
Tidak semua orang memulai dari garis yang sama.
Ada seseorang yang sejak kecil mendapatkan dukungan penuh dari keluarga. Ada yang harus bekerja sambil kuliah. Ada yang memiliki kesempatan untuk mencoba banyak hal. Ada pula yang harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membantu keluarga.
Karena itu, membandingkan perjalanan hidup hanya berdasarkan pencapaian akhirnya tidak pernah benar-benar adil.
Kamu mungkin melihat temanmu sudah berhasil mendapatkan pekerjaan yang bagus. Tetapi kamu tidak melihat berapa kali dia gagal sebelum mendapatkannya.
Kamu melihat seseorang sukses membangun bisnis. Tetapi kamu tidak melihat berapa malam yang dia habiskan untuk memikirkan bagaimana membayar tagihan.
Kamu melihat seseorang terlihat bahagia di media sosial. Tetapi kamu tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.
Media sosial hanya menunjukkan potongan kehidupan. Bukan keseluruhan cerita.
Ketika Istirahat Dianggap Sebagai Kemunduran
Ada hal menarik dalam kehidupan sekarang: kita sering merasa bersalah ketika beristirahat.
Saat sedang tidak melakukan sesuatu, kita merasa tidak produktif. Ketika tidur lebih lama, kita merasa membuang waktu. Ketika ingin menikmati akhir pekan tanpa melakukan apa-apa, muncul suara di kepala yang mengatakan bahwa kita seharusnya melakukan sesuatu yang lebih berguna.
Padahal manusia bukan mesin.
Kita membutuhkan waktu untuk berhenti.
Istirahat bukan berarti menyerah. Berhenti sejenak bukan berarti gagal. Bahkan terkadang, mengambil jarak dari kesibukan justru membuat kita bisa melihat masalah dengan lebih jernih.
Bayangkan seseorang yang terus berjalan tanpa pernah berhenti. Cepat atau lambat, tubuhnya akan meminta istirahat.
Begitu juga dengan pikiran.
Masalahnya, kelelahan mental sering tidak terlihat. Tidak ada luka di tubuh, tidak ada perban, dan tidak ada tanda yang bisa dilihat orang lain. Karena itu, orang yang sedang kelelahan sering dianggap hanya kurang disiplin atau kurang motivasi.
Padahal mungkin yang mereka butuhkan bukan motivasi tambahan, melainkan kesempatan untuk bernapas.
Tidak Harus Selalu Produktif
Kita hidup di zaman ketika produktivitas seolah menjadi ukuran harga diri.
Bangun pagi dianggap keren. Bekerja sampai malam dianggap ambisius. Memiliki jadwal yang penuh dianggap sukses.
Namun, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak hal yang berhasil kita selesaikan dalam satu hari.
Ada hari ketika kita berhasil menyelesaikan banyak pekerjaan. Ada juga hari ketika pencapaian terbesar kita hanyalah bertahan melewati hari yang berat.
Dan itu tetap sebuah pencapaian.
Tidak semua hari harus menghasilkan sesuatu yang besar.
Kadang-kadang, mandi, makan dengan baik, menyelesaikan satu tugas kecil, lalu tidur lebih awal sudah cukup.
Kita perlu belajar membedakan antara malas dan lelah.
Malas mungkin membuat seseorang enggan melakukan sesuatu meskipun memiliki energi. Sementara lelah membuat seseorang ingin melakukan sesuatu, tetapi merasa tidak memiliki tenaga yang cukup untuk memulainya.
Perbedaannya sederhana, tetapi sering kali kita terlalu cepat menyalahkan diri sendiri.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?
Tidak ada rumus ajaib untuk menyelesaikan semua tekanan hidup. Namun, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan.
Pertama, berhenti membandingkan kehidupan secara berlebihan. Gunakan pencapaian orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai alat untuk menghukum diri sendiri.
Kedua, tentukan prioritas. Tidak semua masalah harus diselesaikan hari ini. Ada hal yang memang bisa menunggu.
Ketiga, berikan waktu untuk beristirahat tanpa merasa bersalah. Istirahat bukan musuh produktivitas. Justru tubuh dan pikiran yang cukup beristirahat akan lebih siap menghadapi pekerjaan.
Keempat, berbicara dengan orang yang dipercaya ketika semuanya terasa terlalu berat. Tidak semua masalah harus disimpan sendirian.
Dan yang terakhir, belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai jadwal.
Mungkin di usia 22 kita belum memiliki pekerjaan impian. Mungkin di usia 25 kita masih mencari arah. Mungkin di usia 27 kita baru berani memulai sesuatu yang selama ini kita takutkan.
Tidak apa-apa.
Setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Kamu Tidak Terlambat
Barangkali kalimat yang paling sering dibutuhkan oleh seseorang di usia 20-an bukanlah “Kamu harus lebih produktif.”
Mungkin justru:
“Kamu tidak harus memiliki semuanya sekarang.”
Kamu boleh belum tahu ingin menjadi apa. Kamu boleh mengubah rencana. Kamu boleh gagal. Kamu boleh memulai kembali. Kamu boleh berjalan lebih lambat daripada orang lain.
Yang penting, jangan berhenti hanya karena merasa perjalananmu tidak secepat perjalanan orang lain.
Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang pertama sampai.
Tidak ada hadiah khusus untuk orang yang paling cepat menemukan arah hidupnya.
Pada akhirnya, yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani perjalanan tersebut dengan tetap mengenal diri sendiri, menjaga orang-orang yang berarti, dan tidak kehilangan diri sendiri hanya demi memenuhi standar keberhasilan yang dibuat oleh orang lain.
Jadi, jika hari ini kamu merasa tidak produktif, jangan buru-buru menyebut dirimu malas.
Mungkin tubuhmu sedang meminta istirahat.
Mungkin pikiranmu sedang meminta ruang.
Atau mungkin, setelah terlalu lama berlari, kamu hanya perlu berhenti sebentar untuk menarik napas.
Besok kamu bisa berjalan lagi.
Tidak harus berlari.
Pelan-pelan juga tetap maju.
