Konten dari Pengguna

Ketika Sinyal Jadi Penentu Suasana Hati

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ikhsan Nulhakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi internet nirkabel. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi internet nirkabel. Foto: Shutter Stock

Saya masih ingat betul malam itu, tengah presentasi tugas akhir semester lewat Zoom, di detik saya baru mulai menjelaskan poin paling penting, layar tiba-tiba membeku dan suara saya terdengar seperti robot yang kehabisan baterai di telinga dosen penguji. Bukan cerita heroik, tapi cukup untuk bikin saya sadar satu hal: WiFi yang lemot bisa mengubah nasib satu semester dalam hitungan detik.

Saya jadi berpikir, sejak kapan sebenarnya kita jadi setergantung ini pada sinyal WiFi? Dulu, internet lemot cuma bikin kesal sebentar. Sekarang, internet lemot bisa bikin rapat kerja berantakan, kelas daring gagal dipahami, bahkan hubungan jarak jauh terasa lebih jauh dari yang seharusnya. Kita hidup di masa di mana kecepatan unduh jadi ukuran kenyamanan, dan buffering jadi salah satu momok yang paling dibenci generasi sekarang.

Fenomena ini melahirkan banyak pemain baru di industri penyedia layanan internet rumah dalam beberapa tahun terakhir. Yang menarik bukan cuma soal kecepatan di atas kertas, tapi bagaimana masing-masing provider berlomba menjawab kebutuhan yang dulu tidak pernah kita bayangkan. Dulu, internet cuma dipakai untuk membuka email atau sekadar browsing santai. Sekarang, satu rumah bisa punya lima perangkat menyala bersamaan; satu untuk kerja, satu untuk sekolah anak, satu lagi untuk hiburan malam. Semuanya minta jatah bandwidth, dan semuanya menuntut tidak ada kata lemot.

Saya rasa, ini juga cerminan dari bagaimana pola hidup kita berubah drastis sejak masa pandemi. Kita yang dulu bisa hidup santai tanpa koneksi internet cepat, kini merasa panik kalau WiFi mati lima menit saja. Bukan karena kita manja, tapi karena hampir seluruh aktivitas produktif, sosial, bahkan emosional kita sudah bergantung pada jaringan yang sama. Pertanyaan yang dulu jarang terdengar, seperti "provider mana yang paling jarang bikin emosi pas lagi penting-pentingnya," sekarang jadi obrolan biasa antar tetangga atau di grup keluarga.

Menariknya, yang sebenarnya dijual oleh sebuah layanan internet bukan cuma kecepatan mengunduh file. Yang sebenarnya ditawarkan adalah ketenangan. Ketenangan supaya rapat kerja tidak terputus di tengah kalimat penting. Ketenangan supaya panggilan video dengan keluarga di kampung tidak pecah suaranya. Ketenangan supaya kita tidak perlu marah-marah sendiri di depan layar yang terus berputar tanda loading.

Saya pribadi jadi menyadari, kebutuhan akan internet cepat sebenarnya bukan soal gaya hidup mewah, tapi soal seberapa besar dunia kita sudah bergantung pada dunia maya. Kita bekerja di sana, belajar di sana, bahkan menjaga hubungan di sana. Maka wajar saja kalau memilih layanan internet jadi keputusan yang tidak bisa asal-asalan lagi, karena yang dipertaruhkan bukan cuma kecepatan, tapi kelancaran hidup itu sendiri.

Pada akhirnya, di tengah dunia yang serba terkoneksi ini, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan "internetmu secepat apa," tapi "apakah koneksi itu benar-benar membuat hidupmu lebih ringan, atau justru menambah daftar hal yang bikin kamu gampang emosi ketika hilang sinyal barang sebentar saja?"