Pemenang yang Menulis Sejarah: Menelanjangi Bias 'Sillok' Lewat Drakor Saeguk

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ilham Rafles tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian besar pencinta drama Korea, genre saeguk (drama sejarah) mungkin identik dengan busana hanbok yang anggun, intrik politik istana yang menegangkan, atau kisah cinta tragis di era Joseon. Namun, bagi saya yang mengamati narasi sejarah di dalamnya, menonton drakor saeguk memberikan satu perenungan yang jauh lebih mendalam: seberapa akurat catatan sejarah yang kita baca hari ini dengan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu?
Sillok: Catatan Paling Lengkap, Tapi Apakah Bebas Bias?
Dalam panggung historiografi dunia, Korea Selatan memiliki harta karun dokumenter luar biasa bernama Joseon Wangjo Sillok (Catatan Dinasti Joseon). Rekam medis sejarah selama 472 tahun ini dicatat secara rinci oleh para juru tulis istana (sagan). Sillok bahkan diakui UNESCO sebagai salah satu peninggalan dokumenter paling lengkap di dunia. Aturannya sangat ketat: raja sekalipun dilarang membaca atau mengedit apa yang ditulis oleh juru tulis.
Namun, di sinilah letak ironinya. Setebal dan sedetail apa pun Sillok, catatan tersebut tetaplah hasil goresan tinta manusia yang hidup dalam tekanan dan lingkar kekuasaan. Ada adagium klasik yang membuktikannya: sejarah ditulis oleh pemenang.
Berdasarkan drama-drama saeguk yang saya tonton, setidaknya ada empat alasan kuat mengapa catatan resmi seperti Sillok tidak bisa kita telan mentah-mentah sebagai kebenaran 100%.
1. Drakor Time Travel: Sillok Hanya Mencatat Aksi, Bukan Alasan
Dalam drama time travel seperti Mr. Queen (2020), karakter modern yang terlempar ke masa lalu kaget saat bertemu Raja Cheoljong. Di buku sejarah, Cheoljong dicatat sebagai raja boneka yang lemah, pemabuk, dan tidak kompeten. Namun saat berinteraksi langsung, ia menemukan fakta bahwa sang raja sengaja berpura-pura lemah demi menyembunyikan strategi perjuangannya dari cengkeraman klan Andong Kim.
Sama halnya dalam Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo (2016), Pangeran Wang So dicatat sebagai "Raja Gwangjong yang haus darah". Namun melalui kacamata pengamat, kita melihat bagaimana ketakutan, pengkhianatan, dan keputusasaan politik memaksa tindakan tersebut. Sillok terbukti kerap mencatat apa yang terjadi (aksi), tetapi menghapus mengapa hal itu dilakukan (konteks dan motif politik).
2. Tragedi Raja Sejo dan Danjong: Ketika Keturunan Memperbaiki Catatan Nenek Moyang
Kisah kudeta Pangeran Suyang (Raja Sejo) terhadap keponakannya sendiri, Raja Danjong, menjadi contoh nyata bagaimana penguasa memanipulasi label sejarah. Saat merebut tahta, Sejo dan faksi pendukungnya mencap Danjong sebagai pengkhianat dan menurunkan statusnya menjadi pangeran terbuang. Selama berdekad-dekad, catatan resmi memotret Danjong sebagai figur yang salah.
Menariknya, sekitar 200 tahun kemudian pada era Raja Sukjong, kerajaan baru secara resmi memulihkan nama baik dan gelar Raja Danjong. Jika Sillok versi awal adalah kebenaran mutlak, mengapa keturunan Raja Sejo sendiri merasa perlu memperbaiki catatan sejarah tersebut dua abad kemudian? Ini membuktikan bahwa narasi "pengkhianat" kerap kali hanyalah stempel politik yang ditempelkan oleh pihak yang menang.
3. Konflik Raja Taejong: Ketika Penguasa Berusaha Memeriksa Pena Juru Tulis
Meskipun aturan melarang raja membaca Sillok, fakta sejarah mencatat perselisihan sengit antara Raja Taejong (Yi Bang-won) dan para juru tulis (sagan). Taejong, raja kuat yang naik tahta lewat pertumpahan darah, pernah berusaha keras membaca catatan masa pemerintahan dua raja sebelumnya (Raja Taejo dan Raja Jeongjong) untuk memastikan bagaimana citra dirinya ditulis.
Tindakan Taejong ini bahkan sempat memicu aksi mogok kerja dari para juru tulis istana. Ketika seorang raja merasa perlu menekan dan menginterpretasi para pencatat sejarah demi mengamankan reputasinya, kita disadarkan bahwa independensi catatan sejarah selalu berada di bawah ancaman kekuasaan.
4. Persaingan Selir Sukjong: Dua Drama, Dua Narasi Bertolak Belakang
Bukti paling nyata dari subjektivitas sejarah dapat kita lihat dari persaingan dua selir Raja Sukjong: Ratu Inhyeon/Choi Suk-bin (Dong Yi) melawan Jang Ok-jung (Jang Hui-bin). Persaingan ini diabadikan dalam dua drama fenomenal dengan sudut pandang yang saling bertolak belakang:
Dong Yi (2010): Mengikuti narasi faksi Noron (faksi pemenang). Dong Yi digambarkan sebagai sosok malaikat yang jujur, sedangkan Jang Ok-jung dicitrakan sebagai wanita licik yang haus kekuasaan dan meracuni Ratu.
Jang Ok Jung, Living by Love (2013): Mengambil sudut pandang faksi Soron dan perspektif revisionis. Jang Ok-jung dipotret sebagai korban intrik politik istana dan persekongkolan faksi Noron yang menggunakan isu latar belakang kelas sosialnya untuk menjatuhkannya.
Kedua drama ini diangkat dari era dan tokoh yang sama, namun menghasilkan cerita yang berbeda total tergantung faksi mana yang memegang kendali penulisan narasi pada saat itu.
Fenomena Perdebatan Fans: Sejarah Ada untuk Dipahami, Bukan Menghakimi
Di media sosial, kita sering melihat perdebatan sengit antar-fans drama saeguk. Fans Dong Yi dan fans Jang Ok Jung kerap saling serang, berdebat mengenai siapa yang sebenarnya "pahlawan" dan siapa yang "penjahat". Perdebatan ini justru menunjukkan betapa mudahnya kita terjebak dalam kacamata moralitas hitam-putih.
Dari sini saya menarik satu refleksi penting: sejarah ditulis untuk dipahami, bukan untuk menentukan siapa yang baik dan siapa yang jahat.
Dalam realitas politik istana masa lalu, tidak ada figur yang 100% suci atau 100% iblis. Baik Choi Suk-bin maupun Jang Ok-jung adalah perempuan-perempuan tangguh yang berusaha bertahan hidup di tengah sistem patriarki dan cengkeraman faksi politik yang saling membunuh. Menilai mereka hanya dari kacamata "siapa yang jahat" membuat kita kehilangan esensi untuk memahami kompleksitas tekanan, strategi survival, dan konteks zaman yang mereka hadapi.
Menikmat Saeguk Secara Kritis
Pada akhirnya, empat alasan di atas tidak hadir untuk membuat kita meragukan seluruh arsip sejarah. Kehadiran Joseon Wangjo Sillok tetaplah mahakarya peradaban yang sangat berharga. Namun, lewat kacamata drakor saeguk, kita diingatkan untuk menjadi pembaca yang lebih bijak.
Menonton saeguk hendaknya bukan lagi sekadar mencari hiburan visual atau memihak satu karakter tertentu, melainkan sebuah latihan berpikir kritis. Setiap kali membaca catatan masa lalu atau menonton drama sejarah, selalu ingat untuk bertanya: Siapa yang menulis catatan ini? Faksi mana yang menang? Dan konteks kemanusiaan apa yang sengaja dihilangkan di baliknya?
Sebab pada akhirnya, sejarah yang kita baca hari ini hanyalah narasi milik mereka yang berhasil bertahan dan memegang pena.
