Satu Desa Beda Negara Cuma Ada di Indonesia Timur

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ilham Rafles tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi saya, jika Anda ingin melihat esensi asli dari sepak bola yang dimainkan dengan hati dan dirayakan dengan totalitas tanpa batas, tatapan kita harus dialihkan sejenak dari gemerlap layar kaca menuju Indonesia Timur. Lupakan riuh tempat nonton bareng (nobar) di kafe-kafe estetik ala warga Jakarta Selatan yang menurut saya cenderung kaku, artifisial, dan penuh kepalsuan demi validasi konten media sosial. Di Ambon hingga Timika, atmosfer turnamen akbar seperti Piala Dunia adalah sebuah anomali kebudayaan yang magis. Ia bukan lagi sekadar tontonan hiburan pelepas penat di malam hari, melainkan sudah menjelma menjadi sebuah ritus tahunan, bagian dari harga diri, dan identitas komunal yang mendarah daging.
Saya selalu takjub melihat bagaimana sebuah turnamen sepak bola bisa mendikte tatanan sosiologis masyarakat di sana melalui fenomena "satu desa beda negara". Ini bukan sekadar lelucon musiman di jagat maya, melainkan sebuah realitas unik yang tidak akan pernah Anda temukan di belahan Indonesia lainnya. Secara swadaya, warga bergotong royong mengecat jalanan kampung mereka dengan identitas negara asing yang mereka jagokan. Namun, bagi saya, kegilaan yang paling mahal justru terjadi ketika fanatisme itu merayap masuk ke dalam ruang paling privat: ketika satu rumah pun bisa pecah kongsi dan beda negara.
Jangan heran jika Anda bertamu ke sebuah rumah di sana dan menemukan "kewarganegaraan musiman" yang terbelah secara ekstrem. Saya rasa, tidak ada pemandangan yang lebih unik daripada melihat seorang ayah yang memegang teguh jersei Jerman, harus berhadapan dengan anak laki-lakinya yang memuja Argentina, sementara sang ibu menjadi benteng pertahanan terakhir bagi tim Brasil. Perbedaan radikal di dalam satu atap ini otomatis melahirkan dinamika domestik yang sangat jenaka sekaligus menegangkan.
Ruang TV rumah yang biasanya damai mendadak berubah menjadi arena perang saraf. Meja makan menjadi ring debat yang panas, dan grup WhatsApp keluarga akan dipenuhi kiriman meme saling sindir yang intens. Bahkan, urusan logistik rumah tangga pun bisa ikut terganggu; jika tim jagoan ibu yang tersingkir, seisi rumah harus ekstra hati-hati saat meminta tolong dibuatkan kopi atau makan malam karena tensi di dapur bisa mendadak ikut meninggi. Namun, justru di sinilah letak poin kritisnya: ketika layar kaca hanya bisa menangkap keriuhan konvoi ratusan motor yang memadati Jembatan Merah Putih di Ambon, denyut nadi sepak bola itu sebenarnya hidup dan bergolak di dalam ruang tamu warga Timur.
Hebatnya, ada satu tamparan keras yang diberikan oleh masyarakat Timur kepada kita semua mengenai arti sebuah rivalitas. Biarpun fanatisme mereka masuk kategori garis keras dan hobi saling ejek, baik di jalanan maupun di dalam internal keluarga sendiri, tensi panas itu menguap begitu saja bersama peluit panjang akhir pertandingan. Mereka akan kembali duduk di teras yang sama, menyeduh kopi bareng, dan tertawa bersama. Di tengah polarisasi masyarakat modern saat ini yang sangat mudah terpecah belah hanya karena perbedaan pilihan politik atau urusan sepele lainnya, cara orang Timur mengelola rivalitas bola ini adalah sebuah pelajaran berharga tentang kedewasaan berpikir dan indahnya menjaga persaudaraan.
Pada akhirnya, saya melihat antusiasme yang meluap-luap ini bukan sekadar bentuk hura-hura tanpa makna. Kibaran bendera-bendera asing di atas pohon kelapa dan keriuhan di dalam rumah-rumah warga Timur sesungguhnya adalah sebuah tamparan sekaligus gugatan sunyi bagi kondisi sepak bola nasional kita. Ada harapan mendalam yang terselip di sana; bahwa sudah saatnya talenta-talenta luar biasa dari Timur tidak lagi menghabiskan energinya untuk merayakan kejayaan negara orang lain, melainkan bangga membawa nama tim nasional Indonesia ke panggung dunia yang sesungguhnya.
