Konten dari Pengguna

81 Tahun Merdeka, Tapi Merdeka Tentang Apa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilham Abdul Malik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrai gambar yang di buat ole AI
zoom-in-whitePerbesar
ilustrai gambar yang di buat ole AI

Setiap 17 Agustus, jalanan kompleks rumah selalu berubah wajah. Umbul-umbul merah putih dipasang berjejer, gapura bambu dicat warna-warni, dan anak-anak berlomba memanjat batang pinang yang licinnya minta ampun. Semua terasa meriah, semua terasa merdeka.

Tapi begitu perayaan usai dan umbul-umbul mulai pudar warnanya, pertanyaan sederhana ini sering muncul di kepala saya: sebenarnya, siapa yang benar-benar merdeka?

Delapan puluh satu tahun sejak proklamasi dikumandangkan, Indonesia memang sudah lepas dari penjajahan fisik. Tidak ada lagi tentara asing yang menduduki tanah kita, tidak ada lagi kerja paksa atas nama kolonial. Tapi kalau kita jujur, kemerdekaan yang dirayakan setiap tahun ini masih terasa berat sebelah.

Merdeka Secara Ekonomi?

Coba tanya pada mereka yang masih harus memilih antara membayar sekolah anak atau membeli beras bulan ini. Kesenjangan ekonomi di negeri ini bukan rahasia lagi. Sementara sebagian orang bicara soal investasi dan properti, sebagian lain masih berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar. Merdeka macam apa yang bisa dirasakan kalau urusan perut saja masih jadi pertaruhan?

Merdeka Secara Pendidikan?

Di kota besar, anak-anak punya akses ke sekolah dengan fasilitas lengkap, bahkan bisa belajar coding sejak SD. Tapi di banyak daerah 3T terdepan, terluar, tertinggal—guru masih harus menyeberangi sungai demi mengajar, dan buku pelajaran jadi barang langka. Pendidikan yang seharusnya jadi tangga menuju kemerdekaan berpikir, nyatanya masih jadi privilese, bukan hak yang benar-benar merata.

Merdeka Secara Pikiran?

Ini yang mungkin paling jarang dibicarakan tapi paling relevan hari ini. Di era digital, kita dijajah dengan cara yang lebih halus: algoritma. Tanpa sadar, linimasa kita diarahkan untuk terus terpapar konten yang itu-itu saja, membentuk gelembung informasi yang membuat kita makin sulit berpikir kritis. Hoaks menyebar lebih cepat dari klarifikasi. Kita merasa bebas memilih apa yang dibaca dan ditonton, padahal yang memilihkan seringkali bukan diri kita sendiri, melainkan mesin yang tak pernah kita lihat wujudnya.

Merdeka Itu Proses, Bukan Status

Menulis ini bukan berarti saya tidak bersyukur atas kemerdekaan yang sudah diperjuangkan para pendahulu. Justru sebaliknya—rasa syukur itu yang mendorong saya untuk bertanya lebih jauh: apakah kita sudah cukup menghargai kemerdekaan dengan benar-benar mengisinya?

Kemerdekaan bukan status yang selesai ditandatangani pada 17 Agustus 1945. Ia adalah proses yang harus terus diperjuangkan, dalam bentuk yang berbeda di setiap zaman. Dulu, musuhnya adalah penjajah bersenjata. Sekarang, musuhnya adalah kesenjangan, ketimpangan akses, dan candu digital yang membajak cara kita berpikir.

Jadi, di usia ke-81 ini, mungkin pertanyaan yang lebih pantas kita ajukan bukan lagi "sudah berapa lama kita merdeka?", tapi "sudah sejauh mana kita benar-benar merdeka?"

Selamat merayakan kemerdekaan. Semoga tahun ini kita lebih berani jujur pada diri sendiri, tentang seberapa merdeka kita sebenarnya.

Tulisan ini adalah opini pribadi.