Konten dari Pengguna

AI dan Etika di Era Public Relations 5.0 Jadi Sorotan Kuliah Umum Komunikasi UMY

Ilmu Komunikasi UMY

Ilmu Komunikasi UMY

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Akreditasi Unggul, Sertifikasi Kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mahasiswa. Muda Mendunia dengan Kompetensi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilmu Komunikasi UMY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kuliah umum komunikasi UMY hadirkan praktisi PR (Dok: pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kuliah umum komunikasi UMY hadirkan praktisi PR (Dok: pribadi)

Yogyakarta – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar kuliah umum bertajuk “Public Relations 5.0: Antara Otomatisasi, Etika, dan Reputasi” pada Senin (10/11) di Ruang Amphitheater E.6, Gedung K.H. Ibrahim Lantai 5.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Asmono Wikan, CEO PR Indonesia Group, dan Prof. Dr. Adhianty Nurjanah, dosen Ilmu Komunikasi UMY. Diskusi berlangsung dinamis dengan sorotan utama pada tantangan profesi PR di tengah integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat.

Asmono Wikan CEO PR Indonesia Group dalam diskusi kuliah umum Komunikasi (Dok: Pribadi)

Asmono Wikan menjelaskan bahwa AI kini menjadi alat penting dalam strategi komunikasi modern. Ia mencontohkan bagaimana riset berbasis AI dapat menghemat dana sekaligus memperluas jangkauan kampanye. “Dari riset pembukaan Fakultas Kedokteran IPB, AI membantu menjaring dua ribu calon mahasiswa baru dari target seribu,” ungkapnya.

Meski begitu, ia mengingatkan agar manusia tetap menjadi pengendali utama. “Sebagai manusia, kita harus membuat AI bekerja untuk kita, bukan kita yang bekerja untuk AI. AI hanya membantu menyusun gagasan, bukan menggantikan kreativitas dan empati manusia,” tegas Asmono.

Prof. Adhianty Nurjanah dalam sesi diskusi (Dok: pribadi)

Sementara itu, Prof. Adhianty Nurjanah menekankan pentingnya dimensi etika dan kemanusiaan dalam praktik PR. “Sepintar apa pun AI, ia tetaplah robot. Seorang praktisi PR harus punya sisi humanisme yang tak bisa digantikan mesin,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan AI menuntut kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. “Dibutuhkan human oversight dalam pemanfaatan AI. Kita harus menjadi kurator dari informasi yang diberikan mesin, bukan penerima pasif,” tambahnya.

Ia juga menegaskan, “Jangan sampai karena otomatisasi di berbagai sektor, kita kehilangan kemanusiaan. Komunikasi bukan sekadar omon-omon, tapi seni membangun hubungan yang bermakna.”

Kuliah umum ini menjadi bagian dari komitmen Ilmu Komunikasi UMY dalam memperkuat literasi digital, etika profesi, dan kemampuan berpikir kritis bagi mahasiswa agar siap menghadapi era Public Relations 5.0.