USM Rekam Kiprah Warga Muhammadiyah Brajan dalam Adaptasi Perubahan Iklim

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Akreditasi Unggul, Sertifikasi Kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mahasiswa. Muda Mendunia dengan Kompetensi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ilmu Komunikasi UMY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BANTUL – Mahasiswa Universiti Sains Malaysia (USM) merekam kiprah warga Muhammadiyah di Dusun Brajan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, dalam mengelola lingkungan dan beradaptasi terhadap perubahan iklim. Melalui kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), mereka memproduksi tiga film dokumenter pendek berjudul Sedekah Sampah, Sedekah Jiwa; Mufli, Penjaga Bumi Desa Brajan; dan Desa Brajan dari Mata Kami.
Pemutaran perdana (screening) film berlangsung pada Rabu (1/10) bersama warga dan relawan Gerakan Shadaqah Sampah (GSS) di Brajan. Acara ini menjadi puncak kegiatan program mobilitas bertajuk “Memperkasa Pelajar B40 melalui Penceritaan Digital tentang Ketahanan Iklim dan Budaya”, yang berlangsung sejak 28 September hingga 3 Oktober 2025.
Selama kegiatan, mahasiswa USM melakukan observasi lapangan di lokasi GSS, mewawancarai warga, relawan, serta tokoh masyarakat, kemudian merancang naskah dan memproduksi dokumenter berdurasi pendek.
Menurut Dr. Nik Norma Nik Hasan, dosen Pusat Pengkajian Komunikasi USM sekaligus penanggung jawab program, kegiatan ini dirancang agar mahasiswa belajar langsung dari masyarakat akar rumput tentang adaptasi terhadap perubahan iklim dan pelestarian budaya lokal.
“Penceritaan digital menjadi medium untuk mengangkat suara komunitas, agar pengalaman dan nilai mereka dapat dikenal secara lebih luas,” ujar Dr. Nik Norma.
Program ini difasilitasi oleh USM dan Pemerintah Malaysia, serta melibatkan Dr. Fajar Junaedi dari UMY dan Dr. Bonaventura Satya Bharata dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta sebagai mitra akademik.
Salah satu fokus utama kegiatan adalah Gerakan Shadaqah Sampah (GSS), gerakan sosial lingkungan yang dipelopori oleh Ananto Isworo, akrab disapa Ustadz Sampah. Berbasis di Masjid Al-Muharram, Brajan, gerakan ini digerakkan oleh warga Muhammadiyah di tingkat akar rumput.
Konsepnya sederhana namun berdampak besar: warga diajak “bersedekah” dengan menyumbangkan sampah nonorganik yang telah dipilah. Hasil penjualannya digunakan untuk berbagai kegiatan sosial seperti beasiswa, santunan kesehatan, dan bantuan sembako.
Ananto mengungkapkan, ide ini muncul sejak Juli 2013. Meski sempat diragukan, ia bersama para relawan tetap konsisten menjalankannya hingga manfaatnya kini dirasakan luas oleh warga.
“Padahal semua sampah itu masih bisa dikelola. Dari situ muncul ide untuk mengumpulkan dan menjualnya kembali. Hasilnya bisa membantu masyarakat lewat sedekah sampah,” ujarnya.
Setelah sesi pemutaran film, mahasiswa dan warga Brajan mengadakan diskusi terbuka untuk memberikan masukan terhadap karya dokumenter tersebut. Selain itu, dibahas pula peluang kolaborasi riset dan pengembangan kegiatan bersama di masa mendatang.
Program ini menjadi bagian dari kerja sama antara USM dan International Program for Communication Studies (IPCOS) UMY dalam bidang penelitian, pengabdian masyarakat, dan produksi karya komunikasi di tingkat internasional.
