Dia yang Kehilangan Jati Dirinya di Era Digitalisasi

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Imam Samudra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di suatu sudut kamar, dengan cahaya layar ponsel yang membias di wajahnya, dia duduk termenung. Namanya tak penting. Dia bisa siapa saja aku, kamu, atau siapa pun yang hidup di tengah gelombang besar digitalisasi. Hari-harinya sibuk memburu notifikasi, menggulir layar tanpa arah, dan menyusun citra diri di dunia maya yang serba cepat dan penuh tuntutan.
Awalnya, dunia digital tampak menjanjikan: akses informasi tanpa batas, koneksi dengan orang-orang dari seluruh dunia, dan kesempatan untuk didengar. Tapi lambat laun, dia mulai merasa asing dengan dirinya sendiri. Di balik unggahan yang dirancang sempurna dan komentar-komentar penuh pujian, dia kehilangan sesuatu yang dulu begitu berharga jati dirinya.
Digitalisasi, dalam segala kemudahannya, mengaburkan batas antara yang nyata dan yang palsu. Hidup tak lagi dilihat sebagai proses yang penuh luka dan pelajaran, melainkan sebagai etalase kesuksesan dan kebahagiaan yang harus terus dipertontonkan.
Ia mulai menilai dirinya berdasarkan jumlah “likes”, “followers”, dan komentar yang datang. Ketika itu semua tak sesuai harapan, ia merasa gagal. Padahal, seperti yang dikatakan Erich Fromm, “Menjadi” lebih penting daripada “memiliki”. Tapi di era digital, memiliki perhatian lebih sering dianggap sebagai tanda eksistensi yang sah.
Ia mulai berpura-pura, bukan karena ingin membohongi, tapi karena takut tertinggal. Di dunia yang bergerak cepat, menjadi otentik terasa lambat dan tertinggal. Maka ia mengikuti tren, meniru gaya bicara selebriti media sosial, mengganti gaya berpakaian, dan bahkan mengubah cara berpikirnya. Sedikit demi sedikit, ia menjauh dari siapa dirinya yang sejati. Ia menjadi produk algoritma, bukan lagi manusia yang tumbuh dari pengalaman dan pencarian makna.
Byung-Chul Han, seorang filsuf Korea-Jerman, menyebut zaman ini sebagai "masyarakat transparansi", di mana manusia ditelanjangi oleh tuntutan untuk terus tampil dan dipantau. Kita bukan lagi subjek yang bebas, melainkan objek dalam etalase digital. “Kita menindas diri sendiri melalui ekspektasi yang kita bangun,” katanya. Dan benar, dia pun mulai menindas dirinya sendiri, demi tampak sempurna di mata publik yang bahkan tak dikenalnya secara nyata.
Dalam keramaian dunia maya, justru dia merasa paling sepi. Di balik senyum dalam selfie dan caption bijak, ada hati yang gelisah dan pikiran yang lelah. Ia ingin didengar, tapi tak benar-benar bicara. Ia ingin dimengerti, tapi tak berani membuka luka. Digitalisasi telah menciptakan kebisingan baru: orang bicara, tapi tak benar-benar saling mendengarkan. Semua berlomba menjadi yang paling terlihat, tapi tak ada yang benar-benar hadir.
Søren Kierkegaard, filsuf eksistensialis dari Denmark, pernah mengatakan bahwa "keputusasaan terbesar adalah kehilangan diri sendiri." Dan dia dia yang kini hidup dalam layar dan algoritma sedang berada dalam keputusasaan itu. Bukan karena orang lain merampas jati dirinya, tapi karena dia sendiri yang melepaskannya, perlahan dan tanpa sadar.
Pendidikan, yang dulu membentuk karakter dan akhlak, kini digeser oleh pelatihan algoritmik: bagaimana agar konten viral, bagaimana cara membangun personal branding, bagaimana menjadi “influencer”. Nilai-nilai kehidupan digantikan oleh nilai pasar. Ia pun ikut dalam pusaran itu, demi merasa bernilai di mata dunia, meski harus mengorbankan prinsip-prinsip yang dulu ia junjung.
Ia lupa bagaimana rasanya berbincang tanpa gangguan notifikasi. Ia lupa bagaimana rasanya merenung dalam diam tanpa tergoda membuka layar. Ia bahkan lupa suara hatinya sendiri, karena terlalu sering mendengarkan opini publik. Jati dirinya terurai, perlahan tapi pasti, hingga satu hari ia menyadari bahwa dirinya yang sekarang bukan lagi dirinya yang dulu.
Namun, belum terlambat.
Di tengah laju digital yang tak bisa dihentikan, ia mulai mencari kembali serpihan dirinya yang hilang. Ia menonaktifkan sejenak media sosial, mengambil jarak dari dunia maya, dan mulai membaca buku yang memberinya waktu untuk berpikir. Ia menulis jurnal harian, bukan untuk dibagikan, tapi untuk mengingat siapa dirinya. Ia kembali bertemu orang-orang secara langsung, bercakap dari hati ke hati, tanpa perantara layar.
Ia menyadari bahwa teknologi bukan musuh. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita membiarkan teknologi mengambil alih kendali atas hidup kita. Digitalisasi seharusnya menjadi alat, bukan tuan. Ia adalah sarana untuk mengembangkan potensi, bukan menggantikan eksistensi.
Martin Heidegger, filsuf Jerman abad ke-20, pernah memperingatkan bahwa teknologi modern dapat mengubah cara manusia memahami keberadaan. Ia menyebut kondisi ini sebagai Gestell, yaitu ketika manusia hanya melihat dunia sebagai sumber daya yang bisa dikendalikan. Namun ia juga percaya bahwa dalam keterasingan itu, manusia bisa menemukan kembali makna aslinya jika ia berani hening dan merenung.
Perjalanan menemukan jati diri memang tak pernah mudah, apalagi di era ketika identitas bisa direkayasa dengan sekali edit. Tapi justru di situlah tantangannya: bagaimana tetap menjadi diri sendiri ketika dunia mendesak kita untuk menjadi orang lain.
Kini, dia mulai menapak jalan baru. Jalan yang tak selalu terang dan viral, tapi jujur. Jalan yang tak ramai tepuk tangan, tapi tenang dalam hati. Ia belajar untuk hadir sepenuhnya, bukan hanya eksis secara visual. Ia memilih menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar akun yang aktif.
Dan di situlah, ia perlahan menemukan kembali dirinya.
