Konten dari Pengguna

Ketika Hati Pecinta Bercerita

Muhammad Ibnu Shina

Muhammad Ibnu Shina

Mahasiswa Sastra Indonesia - Universitas Pamulang Tukang tidur, ngopi dan berkhayal.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ibnu Shina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar merupakan koleksi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar merupakan koleksi pribadi.

Saya mengenalnya beberapa tahun yang lalu. Kala itu, saya adalah pribadi yang tidak peduli perihal cinta. Saya lebih mementingkan urusan diri saya sendiri dibanding mengurusi cinta, kasih sayang dan sebagainya. Namun, dengan tiba-tiba ia hadir dalam kehidupan saya dengan membawa hal yang sampai saat ini tidak bisa saya pahami tetapi masih bisa saya rasakan kesejukannya. Itulah pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan manisnya cinta juga kasih sayang.

Dalam pandangan umum, mungkin dia bukan yang paling cantik dan menawan, dia biasa-biasa saja. Awalnya saya juga melihatnya demikian, saya tidak jatuh cinta pada pandangan pertama seperti orang kebanyakan. Bahkan, saya cenderung mengabaikan keberadaannya dalam hidup saya kala itu. Maklum, saat itu saya masih menjadi orang yang melihat keindahan sesuatu hanya dari luar saja, tidak pernah menggali keindahan yang ada di dalamnya.

Suatu hari, saya sampai di satu titik dimana saya memandang bahwasanya cinta hanyalah suatu hal yang fana dan penuh sandiwara belaka. Saya merasa skeptis terhadap cinta, kecuali pada cinta dari seorang ibu yang melahirkan kita dan memberikan kasih sayangnya tanpa batas. Sampai pada akhirnya, tanpa terduga, dia datang dengan segala bentuk kepedulian yang amat besar terhadap saya.

Saat itu saya benar-benar tidak mengerti, bagaimana bisa ada yang begitu peduli terhadap saya padahal saya tidak pernah memberi sedikitpun rasa simpati maupun empati kepadanya. Kepedulian yang tidak pernah saya dapatkan dari orang lain selain ibu saya. Saat melihatnya tersenyum dari kejauhan, saya merasa hati saya sejuk bagai sedang berada di kutub selatan. Kesederhanaannya yang membuat saya melihat dia adalah yang paling cantik. Lebih cantik dari insan-insan cantik yang pernah saya lihat sebelumnya, lebih indah dari pemandangan alam yang pernah saya lihat di pantai atau pegunungan sekalipun. Sungguh, saya benar-benar tidak mengerti.

Seseorang akan jatuh cinta pada jiwa raga kekasihnya, namun rasanya saat itu saya terlebih dahulu jatuh cinta pada jiwanya sebelum saya mencintai raganya. Sulit sekali saya menjelaskannya. Hingga akhirnya, saya mengakui bahwa saya benar-benar mencintai dia seutuhnya, tanpa saya tahu alasannya. sampai saat ini. Iya, sampai saat ini saya belum menemukan alasan kenapa bisa mencintainya dan senantiasa mengingatnya.

Jujur, sampai saat saya menuliskan tuisan ini, saya belum pernah sama sekali menggenggam tangannya, mencium keningnya, apalagi memeluk raganya dengan pelukan hangat. Namun, percaya tidak percaya saya sudah merasakan semua itu lewat jiwa saya setiap saya mengingat dirinya. Saya senantiasa memeluknya dalam jiwa setiap saya terlelap dalam mimpi, lembut tangannya sampai saat ini masih menyentuh hati ini dengan penuh kasih sayang dan membuat saya mabuk kepayang.

Saya dan dia memang lebih sering berkomunikasi jarak jauh, bila berdekatan rasanya kelu lidah saya untuk bicara dan tuli rasanya telinga saya untuk mendengar. Sampai saat ini pun saya tidak terlalu ingat bagaimana indah suaranya. Seingat saya, suaranya mampu menggetarkan hati dan membawanya ketempat yang amat tinggi. Suaranya melebihi merdunya suara ombak laut yang datang dan pergi di sepinya malam hari yang dingin dan berangin.

Beberapa cinta sempat hadir dalam kehidupan saya. Cinta dengan kepedulian dan keindahan yang dirasa melebihi kepedulian dan keindahan dia. Namun sungguh, tidak pernah lagi saya temukan rasa yang saat itu saya rasakan bersamanya. Setiap saya menghabiskan banyak waktu dengan cinta lain di siang hari, hanya kerinduan kepada dia yang saya rasakan saat malam hari tiba. Biar lisan ini sering menggoda insan-insan cantik lain, namun saya bersumpah! Hanya namanya yang senantiasa disebut-sebut oleh hati ini setiap detiknya.

Saya masih mencintainya. Bahkan, bila dia memiliki kekasih lain sekalipun, saya akan turut mencintai kekasihnya. Sebab, saya tak hanya mencintai dirinya, saya mencintai segala sesuatu yang berkaitan dengannya juga apapun yang berasal darinya.

Berlebihan? Terserah apa pendapat kalian. Mungkin anda melihat saya sebagai orang yang sedang membual belaka dan saya yakin sahabat-sahabat dekat yang mengenal saya sebagai pribadi yang ‘suka bercanda’ akan jijik bila membaca tulisan ini. Namun sungguh, hati saya berkata demikian adanya, dan masih sangat banyak yang belum terungkapkan.

Isi hati seorang pecinta memang sulit untuk diceritakan lewat lisan atau pun tulisan. Sebab, segala hal yang berasal dari hati hanya akan dirasakan oleh hati pula. Dan dengan segenap rasa dan kerinduan yang mendalam, saya tuliskan perasaan ini terhadap dia yang saya cintai sampai detik ini dengan berharap kerinduan ini sedikit terobati. Mohon maaf bila diri ini terlalu pengecut dalam mengungkapkan rasa, saya pun sadar dia sudah bahagia tanpa adanya saya.

Bila anda tanya siapa yang saya maksud? Maka hanya dia yang merasakan hatinya seperti disentuh oleh jemari-jemari atau dia yang tiba-tiba tersenyum sendiri saat membaca tulisan ini yang tahu jawabannya. Bahagia selalu, untukmu yang kucinta!

Tak henti-hentinya bayangan wajahmu senantiasa hadir kala saya menulis dari kalimat pertama hingga kalimat terakhir. You’re The Best!