Konten dari Pengguna

Perempuan Biasa yang Hatinya Bercahaya

Muhammad Ibnu Shina

Muhammad Ibnu Shina

Mahasiswa Sastra Indonesia - Universitas Pamulang Tukang tidur, ngopi dan berkhayal.

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ibnu Shina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar adalah koleksi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar adalah koleksi pribadi.

Sorot matanya teduh bagaikan cuaca mendung di sore hari. Siapa pun yang melihatnya akan merasakan kedamaian. Tetapi, mungkin juga hanya saya saja yang merasakannya. Sebab orang lain nampaknya kerap kali mengabaikannya. Di mata mereka, ia hanya sebatas mesin yang dapat seenaknya diperintah tanpa dihargai sebagai manusia yang setara. Walau pun tak terucap dari bibir mereka, saya bisa membacanya dari setiap gerakan orang-orang itu.

Persepsi setiap manusia terhadap sesuatu memang selalu berbeda-beda. Saya sudah paham dan sadar akan hal itu. Termasuk cara pandang orang terhadap dirinya. Saya tak menyalahkan mereka. Namun, Saya hanya ingin mengajak mereka untuk sedikit melihat sesuatu tak hanya melalui mata yang menempel di wajah. Sesekali, saya ingin mereka melihat dengan mata hatinya, melihat manusia dengan perasaannya sebagai manusia juga.

Cara manusia menjalani hidup itu beragam. Semua dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan, pendidikan, daya nalar, situasi, kondisi, dan lain-lain. Namun, yang jelas semua sudah diatur dengan sedemikian rupa oleh Tuhan semesta alam. Bagaimana pun, situasi seorang manusia dalam menjalani hidup, baik di tempat terhormat mau pun di tempat sampah sekali pun, tidak boleh kita sebagai manusia memandang manusia lain dengan sebelah mata. Sebab tetap saja, mereka juga manusia.

Perempuan itu memang unik. Wajahnya biasa saja, tak secantik perempuan-perempuan terkenal dengan jutaan pengikut di media sosial. Penampilannya juga tak terlalu menarik, pakaiannya cenderung asal, wajahnya tak terpoles make up sebagaimana perempuan lain yang ingin terlihat cantik seraya ingin dilihat oleh para lelaki. Dia biasa saja, sangat-sangat biasa saja.

Jika perempuan itu biasa saja dan anda bertanya apa maksud saya menyebut perempuan itu unik di paragraf sebelumnya, sebentar lagi anda akan mendapatkan jawabannya.

Saya selalu mengibaratkan perempuan adalah bunga di taman istana. Yang mana setiap lelaki akan dapat menikmati kecantikannya dengan mudah. Bahkan, lelaki dapat memetiknya secara sembarangan, sebab bunga itu sangat jelas terlihat dan selalu menggoda untuk dipetik.

Namun, perempuan dengan sorot mata teduh itu bukan bunga yang tumbuh di taman istana, melainkan setangkai bunga cantik yang tumbuh di dalam gua yang gelap gulita. Kecantikannya tidak bisa dilihat dan dipetik oleh sembarang orang. Hanya orang tertentu saja yang sanggup masuk dan bertahan dalam gelapnya sebuah gua yang dapat melihat kecantikannya.

Harum bunga itu hanya bisa dihirup oleh seseorang yang telah berhasil masuk dan bertahan di dalam gua yang gelap gulita itu. Cahayanya akan jelas terlihat di dalam kegelapan. Kecantikannya hanya dirasakan oleh mereka yang telah memahami sakitnya penderitaan di dalam gua.

Artinya, kecantikan perempuan biasa itu terletak jauh di dalam hatinya bukan pada wajah apalagi penampilannya. Dan kecantikan yang terletak di dalam hati itu hanya bisa dilihat oleh hati pula, bukan dengan mata serta logika.

Perempuan itu biasa saja, seperti saya katakan sebelumnya. Bahkan, cenderung dianggap tidak ada oleh orang-orang. Sebab, hampir tak ada yang menarik dari wajah dan penampilannya. Namun tidak bagi saya, saya selalu merasa tersentuh setiap melihat gerakan perempuan biasa itu. Dalam setiap gerakannya semacam mengandung nasihat bagi diri saya. Salah satunya untuk selalu merasa bersyukur terhadap kehidupan ini.

Kecantikan perempuan itu tidak akan bisa anda lihat hanya lewat mata dan logika. Sebab kecantikan dan cahayanya terletak di dalam hatinya. Sekeras apa pun anda berusaha, tak akan anda temukan cahaya itu. Sebab kecantikan perempuan itu tersembunyi di dalam dirinya yang gelap gulita, dan satu-satunya cara untuk dapat melihat kecantikan yang tersembunyi itu adalah dengan masuk seraya memahami isi hatinya.

Setiap hari, perempuan itu senantiasa tersenyum kepada setiap orang yang ditemuinya saat bekerja. Padahal, terkadang saya sadar bahwa senyumnya itu palsu. Hakikatnya, hatinya sedang menjerit dan menderita, entah karena apa sebabnya. Senyumannya hanya sebagai perisai dari tembakan derita yang sebenarnya sudah tak sanggup lagi ia tahan.

Setiap hari, perempuan itu akan selalu berjuang. Tak kenal lelah, apalagi menyerah. Ia selalu bergerak dengan dipenuhi tetesan peluh yang membasahi kening dan pipinya. Perempuan itu, selalu belajar untuk ikhlas dalam setiap gerakan dan tingkah lakunya. Tak peduli perempuan-perempuan lain yang jauh berada di tempat yang lebih tinggi darinya, ia akan selalu ikhlas untuk menjalani hidup walau berada di tempat yang paling bawah sekali pun.

Tak jarang pahitnya hinaan harus ia rasakan, baik secara langsung mau pun tidak langsung. Namun, ia selalu membalas semua itu dengan senyuman. Walau hatinya sakit bagaikan tertusuk jarum yang tajam.

Perempuan itu begitu lembut bagaikan sutra. Sentuhannya selalu memberikan kedamaian serta rasa nyaman. Tatapan matanya mampu meluluhkan hati yang keras. Senyumannya selalu mampu meredam setiap amarah yang membara.

Tidak perlu anda bertanya atau menduga-duga siapa perempuan yang saya maksud. Sebab, sosok perempuan ini benar-benar ada atau tidaknya masih saya jadikan misteri.

Intinya, saya mengajak anda semua untuk belajar lebih peka terhadap setiap manusia yang kita temui di mana pun. Jangan pernah memandang sebelah mata atau bahkan merendahkan manusia lain. Sebab, keindahan manusia pada hakikatnya terletak di dalam hati, bukan pada apa yang terlihat oleh mata.