Wanita Berteman Pemikir, Mencintai Penyair, dan Menikahi Si Tajir, Benarkah?

Mahasiswa Sastra Indonesia - Universitas Pamulang Tukang tidur, ngopi dan berkhayal.
Tulisan dari Muhammad Ibnu Shina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya menemukan kutipan yang cukup menarik. Kutipan tersebut kurang lebih berbunyi, “Wanita berteman pemikir (filsuf), mencintai penyair, dan menikahi si tajir.” Jujur saya tertawa saat membaca kutipan tersebut. Kalimat dalam kutipan tersebut bagi saya lucu tetapi saya pun merasa sedikit agak tertusuk sebab hal tersebut sepertinya banyak saya temukan dalam kehidupan nyata.
Seperti contoh dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka. Hayati seorang wanita cantik yang mencintai Zainuddin si pemikir sekaligus penyair. Tetapi pada akhirnya, Hayati malah memilih menikah dengan Aziz, si lelaki tajir nan kaya raya.
Saya tidak menilai semua wanita seperti itu. Tetapi, tak dapat dibantah wanita pun banyak yang seperti itu. Untuk itu saya ingin sedikit menguraikan satu persatu kemungkinan-kemungkinan penyebab dari terciptanya kutipan tersebut.
1. Berteman pemikir (filsuf)
Saya rasa untuk bagian ini tak hanya wanita yang ingin berteman dengan pemikir atau filsuf. Laki-laki pun pasti senang berteman dengan seseorang yang dianggap memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan. Kebijaksanaan lebih mulia dibandingkan kecerdasan. Terkadang, kecerdasan tanpa kebijaksanaan akan menghasilkan penghakiman intelektual.
Sedangkan, kebijaksanaan sekalipun tanpa kecerdasan tetap akan menghasilkan rasa nyaman seraya dapat menggugah pikiran yang buntu. Tetapi, tetap bagi saya orang yang bijaksanaan pada hakikatnya merupakan seorang pemikir yang cerdas juga. Orang yang bijaksana senantiasa membukakan jalan atau memberikan solusi dalam setiap problematik kehidupan manusia.
2. Mencintai penyair
Siapa wanita yang hatinya tak tersentuh kala mendapat syair-syair cinta yang diciptakan dengan penuh perasaan dan kejujuran oleh seorang penyair? Lewat keindahan kata-kata, seorang penyair kerap kali mengungkapkan isi hatinya kepada wanita yang dicintainya. Kata-kata indah itu biasanya mampu menembus relung hati wanita yang dicintai tersebut. Sebagaimana sebuah kutipan, “Pintu masuk ke dalam hati wanita adalah melalui telinganya.” Sebab mungkin, kebanyakan wanita sadar atau tidak itu senang dilihat seraya dipuji kecantikan maupun kecerdasannya. Dan penyair adalah sosok yang paling ideal dalam mencintai tipe wanita seperti itu.
3. Menikahi si tajir
Dalam cinta, memang perkara kecerdasan, harta, maupun bentuk fisik tidak menjadi ukuran. Seseorang dimungkinkan untuk jatuh cinta terhadap siapa saja, terlepas dari fisiknya dan hartanya yang minim. Namun, sialnya ketika cinta ingin diwujudkan dalam bentuk pernikahan, maka tak dapat dibantah seorang pria perlu memiliki bekal yang cukup. Dari segi mental maupun dari segi harta harus dipersiapkan. Sebab, menikahi wanita berarti juga menikahi seluruh keluarga juga kehidupannya. Boleh jadi si wanita tak pandang harta, namun kita perlu juga memikirkan perasaan keluarganya, terutama kedua orang tuanya yang sudah susah payah membesarkannya dengan mengorbankan tenaga juga harta.
Mari kita coba uraikan dari ketiga persoalan tersebut. Wanita berteman pemikir atau filsuf. Sebagai makhluk yang sering dikatakan lebih cendrung menggunakan perasaannya dibandingkan logika, maka wanita butuh seorang teman yang memiliki logika tajam untuk dapat dijadikan teman bicara atau diskusi mengenai perkara-perkara yang tak dapat diselesaikan hanya dengan perasaan wanita tersebut. Ia butuh berbagai pemikiran mendalam dari seorang pemikir dalam setiap langkah di hidupnya agar tak mengalami salah langkah. Oleh karena itu ia butuh berteman dengan seorang pemikir.
Wanita mencintai penyair. Bagi saya, penyair adalah salah satu sosok yang paling mengerti tentang perasaan manusia. Dan ketika penyair jatuh cinta kepada seorang wanita, maka sudah dapat dipastikan perasaan itu jujur apa adanya. Wanita butuh dicintai dan dimengerti. Oleh karena itu, wanita akan sangat merasa bahagia kala mendapati cinta dari seorang penyair.
Wanita akan senantiasa merasakan sensasi-sensasi cinta setiap harinya. Kata-kata yang bagai hembusan angin surga itu akan selalu dinikmati oleh telinga wanita yang haus dicintai. Kata-kata itu disimpan di dalam hatinya lalu menjelma menjadi rasa bahagia yang penuh bunga-bunga.
Penyair memang memiliki segudang rasa cinta di dalam hatinya, namun biasanya tidak diiringi dengan harta yang banyak. Sebab, kontemplasi seorang penyair bukan tentang memiliki harta sebanyak-banyaknya, melainkan menumbuhkan dan menyebarkan rasa cinta di hati terhadap seluruh makhluk dan alam semesta. Oleh karena itu, kita sering temukan penyair-penyair yang kalah dalam urusan cinta dan wanita. Tapi, tidak semuanya begitu ya.
Seberapa besar pun cinta seorang penyair bila ia tidak memiliki kepastian, pada akhirnya wanita akan memilih si tajir sebagai pendamping hidupnya. Memang perasaan cinta terhadap penyair tersebut tidak akan hilang dengan mudah. Namun, tetap saja pada akhirnya wanita butuh yang namanya kepastian. Sehingga rasa cinta tersebut akan kalah oleh kepastian yang biasanya dimiliki oleh si tajir.
Semakin dewasa, wanita akan semakin berpikir bahwa kepastian lebih penting dari sekadar rasa cinta. Sehingga, wanita akan mengorbankan rasa cintanya tersebut untuk mendapatkan sebuah kepastian, sekalipun itu datang dari orang yang tidak ia cintai.
Singkatnya, wanita berteman pemikir sebab wanita itu butuh dibimbing dan diarahkan. Mencintai penyair, artinya wanita butuh dicintai dengan sepenuh hati. Menikahi si tajir, artinya wanita butuh kepastian akan masa depan. Dan semua itu ditujukkan untuk mencapai satu rasa yang semua wanita ingin memilikinya, yakni rasa bahagia. Tetapi pertanyaannya, apakah dengan menikah sudah pasti akan membawa wanita pada kebahagiaan sejati?
Tulisan ini berdasarkan pandangan subjektif penulis dan sama sekali tidak berniat untuk menghakimi jenis kelamin manapun. Pembaca sekalian boleh saja berbeda pendapat seraya menentang pemikiran ini. Jadi, jangan jadikan tulisan ini sebagai landasan atas kesimpulan bahwasanya wanita adalah makhluk yang materialis ya. Sebab, Penulis sendiri pun terlahir dari seorang makhluk mulia yang bernama wanita.
