Street Food: Dekat tetapi Berisiko

Saya seorang mahasiswa program studi Gizi dari Universitas Airlangga, Surabaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Indira Dwi Intan Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Street Food Praktis, Favorit, namun Berisiko

Siapa yang tidak kenal dengan street food?. Murah di kantong, menarik di mata, dan populer di kalangan anak muda. Viralnya street food di kalangan anak muda menyebabkan jumlah street food menjadi marak dan tersebar di mana-mana. Akses pembelian makanan street food semakin mudah dengan jarak yang dekat dari daerah tempat tinggal, tempat wisata, maupun kampus dan perkantoran. Street food semakin merajalela dengan berbagai jenis makanan yang disajikan, mulai dari rasa manis, asin, mengenyangkan perut, hingga geli-geli di mulut.
Kepopuleran street food dibuktikan dengan banyaknya jumlah street food yang terdaftar dalam data BPS pada tahun 2023, yaitu sebanyak 4,85 juta penyedia makan dan minuman. Tingginya jumlah street food di Indonesia didorong dengan jumlah peminat yang tinggi. Sebagai penyedia makanan yang praktis dan mudah ditemukan, street food menjadi pilihan yang tepat untuk mengisi energi sebelum dan sesudah beraktivitas. Namun, apakah makanan street food memiliki gizi yang baik dan tepat untuk dikonsumsi secara sering? Nah, hal itu akan kita bahas di bawah ini!
Apa Sih Makanan Bergizi Itu?
Jika ditanya terkait makanan bergizi, pada dasarnya semua makanan yang dapat dikonsumsi memiliki gizi yang baik. Namun, sesuatu hal yang berlebihan akan membawa keburukan. Konsep ini lah yang perlu dimengerti dalam pemilihan makanan. Zat gizi dibagi menjadi dua jenis, yaitu zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro merupakan sumber zat gizi utama yang digunakan untuk beraktivitas hingga memperbaiki sel tubuh sehingga harus dikonsumsi dalam jumlah besar dan cukup. Sedangkan, zat gizi mikro merupakan zat gizi yang dikonsumsi dalam jumlah kecil dan cukup untuk mendukung sistem kesehatan tubuh. Energi, protein, karbohidrat, dan lemak termasuk ke dalam zat gizi makro, zat gizi seperti vitamin A, D, E, K, B, C, dan lainnya.
Adapun istilah makanan bergizi baik, yaitu makanan yang mengandung zat gizi lengkap dan dikonsumsi secara seimbang sesuai kebutuhan per hari. Di Indonesia sendiri memiliki prinsip asupan gizi seimbang yang bernama ‘Isi Piringku’ sebagai panduan yang disebarkan oleh Kemenkes terkait porsi makanan sekali makan yang berisi makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, dan buah-buahan, serta minuman. Melalui panduan ini, harapannya kita dapat mengonsumsi makanan secara baik dan cukup.
Bagaimana Penerapan Street Food dengan Isi Piringku?
Street food tidak hanya terkait jajanan ringan saja, tetapi ada berbagai macam yang dapat dijual, seperti makanan berat layaknya soto, sate, nasi goreng dan lainnya yang dijual oleh pedagang kaki lima. Harga yang ditawarkan pun dapat menyelamatkan isi dompet terutama di tanggal tua. Hal ini lah yang menjadi prioritas utama bagi mayoritas masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa, pekerja kantor, dan lainnya. Tetapi apakah porsi makanan street food telah sesuai dengan Isi Piringku? Jawabannya adalah tergantung perilaku konsumsi individu itu sendiri.
Sering kali ditemukan, pilihan bahan makanan street food disesuaikan dengan preferensi individu masing-masing. Mulai dari permintaan menambahkan porsi nasi, mengurangi porsi sayur, dan lain sebagainya. Padahal terdapat kemungkinan bahwa porsi normal yang diberikan oleh pedagang kaki lima telah sesuai dengan panduan ‘Isi Piringku’. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa sajian makanan yang terdapat pada street food mayoritas termasuk dalam makanan pokok dan lauk-pauk, yaitu makanan dengan tinggi energi, gula, dan lemak. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa penerapan panduan ‘Isi Piringku’ belum sepenuhnya berjalan dengan baik.
Bagaimana Pengaruh Akses dengan Konsumsi Masyarakat?
Kemudahan akses konsumsi pangan terutama pada zat gizi energi, gula, dan lemak yang disediakan oleh street food turut berkontribusi dengan adanya gangguan gizi, terutama pada kondisi obesitas. Kondisi obesitas ini dapat diakibatkan oleh asupan energi, gula, dan lemak yang tinggi, misalnya pada makanan gorengan yang sering ditawarkan oleh street food, minuman dengan tambahan gula yang tinggi, dan makanan utama dengan porsi raksasa. Minimnya aktivitas fisik layaknya olahraga dan lebih banyak duduk menghabiskan waktu berada di depan laptop ataupun handphone turut berkontribusi pada peningkatan risiko obesitas.
Hal ini terkait dengan berlebihnya asupan zat gizi didukung dengan kurangnya aktivitas fisik karena kesibukan yang mengharuskan untuk terpaku pada satu pekerjaan. Zat gizi yang masuk dalam tubuh jika dikonsumsi berlebih akan terus menumpuk dan tidak dapat disalurkan dengan baik karena tubuh belum merasa butuh adanya tambahan energi akibat aktivitas fisik yang kurang. Zat gizi yang semakin menumpuk tersebut menyebabkan pertambahan berat badan hingga mencapai pada kondisi obesitas yang jika diabaikan terus-menerus akan berisiko terkena penyakit tidak menular, seperti sakit jantung, diabetes, kolesterol tinggi, dan lainnya.
Maka dari itu, untuk menghindari hal tersebut perlu adanya keseimbangan asupan dan aktivitas fisik yang dilakukan oleh masyarakat. Selain itu, selaras dengan kemudahan akses pangan tinggi energi, gula, dan lemak, perlu adanya kemudahan akses terhadap bahan pangan sehat layaknya sayuran dan buah-buahan dengan variasi yang menarik. Pemberlakuan penyesuaian sajian makanan dengan panduan ‘Isi Piringku’ juga perlu dilakukan lebih masif untuk memperbaiki pola konsumsi masyarakat menjadi lebih sehat. Pemberian kemudahan akses, mudah dijangkau, dan dekat menjadi pisau bermata dua tergantung pada keseimbangan penyediaan asupan yang mendukung kesehatan masyarakat.
Indira Dwi Intan Putri
Mahasiswa S1 Gizi FKM Universitas Airlangga Surabaya
REFERENSI:
