Jimly Bandingkan Pilgub DKI dengan Pilkada Sula Maluku Utara

Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang juga Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie berbicara tentang riuh Pilgub DKI. Menurut dia jangan sampai urusan Pilgub DKI malah membuat semangat kebangsaan menurun. Masyarakat terpecah belah dengan isu SARA.
Baca juga: Jimly: Ketua KPU DKI Tak Langgar Etik Terima Honor Rp 3 Juta
"Apalagi paslonnya cuma 2. Selesai urusan Pilkada, bangsa ini mulai turun," kata Jimly dalam diskusi negara pancasila versus negara agama di Hotel Arya Duta, Jakarta, Sabtu (8/4).
Kemudian Jimly mengungkapkan dengan fenomena Pilkada di Sula Maluku Utara pada 2015 lalu. Di Sula, mayoritas penduduknya Islam 90 persen. Tetapi di sana yang menang menjadi bupati Hendrata Thes dan Zulfahri Abdullah. Hendrata ini seorang protestan dan Tionghoa.

"Pilkada yang lalu misalnya, di Kabupaten Sula Malut, daerah basis islam, 90% penduduknya muslim, kemarin yang terpilih itu agamanya protestan dan etnis tionghoa. Mengapa terpilih? Karena rakyatnya suka. Terakhir perkara di MK, menang dia," urai dia.
Kemudian, menurut Jimly, kalau hal serupa terjadi di DKI, yang menang bukan yang beragama Islam semua harus menerima. Juga sebaliknya kalau dari non Islam yang kalah juga harus menerima.
"Kalau nanti di DKI, seandainya yang menang itu bukan temennya Hendrata, itu artinya orang tidak mau dia, fair saja. Tapi kalau dia menang, artinya rakyat mau dia. Maka itu jadi pelajaran, sebab siapapun yang menang nanti, jadi gubernur kita semua," urai dia.
Bayangkan ada kasus lucu sekali, ada rapat pleno (KPU DKI) di Borobudur (Hotel Borbudur), Paslon 2 (Ahok-Djarot) sudah naik ke atas, KPU tidak tahu menahu kalau dia sudah datang. Yang ini curiga, jadi miskomunikasi yang tidak perlu. Lalu ini merembet ke macam-macam. Alhamdulillah 2 kelompok ini dua-duanya mengadukan ke DKPP
Soal Pilgub DKI ini diakui Jimly banyak terjadi miskomunikasi. Juga kekurangan etika berpolitik.
"Saya rasa, soal etika ini saatnya kita populerkan. Saya sering menggambarkan, beragama itu baru separuh. Nanti menjelang masuk surga, sama malaikat itu disetop. Jadi saya bilang, kita jangan hanya selesai di urusan legalitas. Kemajuan bangsa hanya diukur keimanan, tradisi berbangsa itu ada di kehidpuan bangsa," jelasnya.
