Kepala BNPT Laporkan Penembakan 6 Terduga Teroris di Tuban ke Presiden

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius  (Foto: Sigid Kurniawan/Antara)
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius (Foto: Sigid Kurniawan/Antara)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Aliyus menghadap Presiden Jokowi. Suhardi memberikan penjelasan mengenai insiden penembakan Polantas di Tuban, Jawa Timur dan tewasnya enam terduga teroris.

Baca juga: Serangan Teror di Tuban Aksi Balasan Penangkapan di Lamongan

"Saya dipanggil bapak presiden untuk melaporkan perkembangan masalah penanggulangan terorisme dan radikalisme di Indonesia dan juga terkait masalah aktual kejadian kemarin di Jawa Timur," jelas Suhardi di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/4).

Dari kasus di Tuban, lanjut Suhardi, menjadi bukti kalau sel-sel kelompok terduga teroris itu masih ada.

"Sekarang masih dalam pengembangan, jadi kami memang tidak terlalu terbuka dulu jadi masih pengembangan. bukan ini saja artinya beberapa penangkapan sebelum yang di Tuban itu beberapa hari sebelumnya ada tiga orang yang diamankan dan itu terkait dengan kejadian yang di Banten dan sebagainya. artinya. Kita berterima kasih kepada teman-teman di Densus 88 sudah sangat aktif untuk itu," beber dia.

Menurut Suhardi, lebih jauh pihaknya memaparkan perkembangan dan situasi aktual termasuk apa yang sudah dilakukan selama ini, di samping penindakan atau hard approach.

"Kita kembangkan juga ada juga soft approach yang kita laksanakan supaya balance berimbang jadi penanganan masalah terorisme tidak hanya dalam aspek penindakan saja tapi kita mengedepankan masalah-masalah di bulu yang menjadi variabel daripada terjadinya terorisme itu sendiri termasuk juga masalah pembinaan mantan mantan napi teroris," urai dia

Suhardi juga memaparkan kalau para pelaku teror di Tuban mendapatkan senjata api dari wilayah Filipina Selatan.

"Kan itu berkaitan dengan masalah Filipina. itu juga kita dalami dan yang lainnya masih kita ini jaringan itu menunjukkan bahwa sel-sel itu masih ada masih berjalan artinya kewaspadaan kita bagaimana kita memberikan pemahaman kepada masyarakat agar hati-hati dalam menerima informasi dari luar karena semuanya masih melalui sosial media," tegasnya.

Dari identifikasi kartu identitas milik pelaku yang meninggal dunia:

1.Nama : Adi Handoko

Kec.Tersono, Kab. Batang

2. Nama : Satria Aditama

Alamat :

Kec. Ngaliyan - Semarang

3. Nama :Yudhistira Rostriprayogi

Kec. Gemuh, Kab. Kendal

4. Nama : Endar Prasetyo

Kec.Tersono, Kab. Batang

Untuk 2 pelaku lain yang meninggal dunia, belum dapat teridentikasi. Dari hasil pengecekan db terhadap nomor hp milik pelaku, yang digunakan Irsyad.