Konten dari Pengguna

Pedoman WHO tentang Pemberian MPASI yang Aman

I

Info Gizi

Kumpulan artikel yang membahas seputar gizi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Info Gizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bayi dalam periode MPASI. Foto: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bayi dalam periode MPASI. Foto: Pexels.

Dalam memberikan MPASI, orang tua dapat berpegangan pada pedoman yang diterbitkan World Health Organization (WHO). Pedoman ini membantu orang tua merancang pola makan seimbang dan mengurangi risiko gangguan kesehatan pada bayi usia 6-23 bulan. Berikut panduan lengkap yang merangkum inti pedoman pemberian MPASI menurut WHO.

Apa Itu MPASI dan Mengapa Penting Mengikuti Pedoman WHO?

Pemberian MPASI merupakan tahap penting dalam pertumbuhan bayi. Menurut dokumen resmi WHO Guideline for complementary feeding of infants and young children 6-23 months of age, MPASI adalah makanan tambahan di luar ASI yang diberikan pada bayi mulai usia enam bulan.

Definisi MPASI menurut WHO

MPASI atau Makanan Pendamping ASI adalah makanan dan minuman yang diberikan saat ASI saja tidak lagi mencukupi kebutuhan nutrisi bayi. Tahapan ini memastikan asupan zat gizi penting tetap terjaga.

Pentingnya MPASI yang aman untuk tumbuh kembang bayi

Pola pemberian MPASI yang benar dapat mendukung pertumbuhan fisik, mengoptimalkan proses belajar makan, dan membantu perkembangan organ pencernaan. Aman tidaknya makanan yang diberikan sangat berpengaruh pada proses ini.

Risiko jika pemberian MPASI tidak sesuai pedoman

Bayi yang mendapat MPASI sembarangan berisiko mengalami diare, infeksi, alergi, hingga kekurangan nutrisi. Oleh sebab itu, mengikuti pedoman resmi menjadi langkah pencegahan utama.

Baca juga: Mengapa MPASI Harus Kaya Zat Besi dan Protein untuk Mencegah Stunting

Kapan dan Bagaimana Memulai MPASI Berdasarkan WHO?

Penentuan waktu dan pola MPASI menentukan keberhasilan adaptasi bayi terhadap makanan baru. WHO merekomendasikan MPASI diberikan pada waktu tertentu dengan cara yang bertahap.

Usia ideal memulai MPASI menurut WHO

Pedoman menyebutkan bahwa usia paling tepat memulai MPASI adalah 6 bulan. Pada usia ini, kebutuhan energi dan zat gizi sudah meningkat sehingga ASI saja tidak cukup.

Tanda-tanda bayi siap menerima MPASI

Beberapa tanda bayi siap MPASI antara lain sudah bisa duduk dengan tegak, menunjukkan minat pada makanan, dan mampu menelan makanan lembut. Perhatikan juga gerakan motorik bayi yang mulai aktif.

Frekuensi dan porsi pemberian MPASI (6-23 bulan)

Bayi 6-8 bulan cukup diberi MPASI 2-3 kali sehari, sedangkan usia 9-23 bulan frekuensi bisa meningkat menjadi 3-4 kali. Porsi disesuaikan dengan usia dan daya makan anak.

Prinsip Keamanan Pemberian MPASI Menurut WHO

Keamanan saat penyiapan dan penyajian MPASI sangat ditekankan dalam pedoman WHO. Langkah sederhana namun efektif dapat melindungi bayi dari penyakit yang disebabkan makanan.

Kebersihan dan sanitasi saat menyiapkan MPASI

Cuci tangan sebelum menyiapkan dan menyuapi bayi, bersihkan peralatan makan, serta pastikan lingkungan dapur tetap higienis. Kebiasaan ini meminimalisir kontaminasi bakteri.

Pemilihan bahan makanan yang aman dan bergizi

Gunakan bahan segar, matang sempurna, dan bebas zat tambahan berbahaya. Pastikan asupan protein, vitamin, dan mineral tercukupi sesuai kebutuhan anak.

Cara penyimpanan dan penyajian MPASI yang dianjurkan

Simpan makanan matang dalam wadah bersih dan tutup rapat. Hidangkan MPASI pada suhu hangat dan jangan menghangatkan makanan berulang kali.

Rekomendasi Jenis Makanan dan Pola Pemberian MPASI

Agar pertumbuhan optimal, MPASI harus memenuhi unsur gizi sekaligus sesuai perkembangan anak. Pola pemberiannya sebaiknya bervariasi dan beradaptasi dengan usia bayi.

Jenis makanan yang disarankan untuk usia 6-23 bulan

Bayi dianjurkan mengonsumsi makanan pokok seperti nasi atau kentang, sumber protein hewani, sayuran berwarna, buah segar, serta sedikit minyak sehat.

Variasi dan tekstur makanan sesuai usia bayi

Mulai dengan tekstur halus lalu perlahan tingkatkan menjadi lebih kasar. Perubahan ini membantu merangsang kemampuan mengunyah dan belajar makan mandiri.

Makanan yang harus dihindari menurut WHO

Hindari makanan tinggi garam, gula, madu sebelum usia 1 tahun, serta makanan keras atau kecil yang berisiko tersedak.

Tips Praktis dan Tantangan dalam Penerapan Pedoman WHO

Orang tua sering dihadapkan pada tantangan seperti alergi, GTM (gerakan tutup mulut) hingga keterbatasan waktu. Solusi yang direkomendasikan adalah melibatkan strategi adaptif dan dukungan keluarga.

Cara mengatasi alergi dan intoleransi makanan

Berikan satu jenis makanan baru dalam beberapa hari agar mudah memantau reaksi alergi. Jika muncul gejala, hentikan dan konsultasikan ke dokter.

Strategi menghadapi bayi yang susah makan

Ciptakan suasana makan yang menyenangkan, tawarkan makanan baru beberapa kali tanpa paksaan, dan biarkan anak mengeksplor makanan sesuai keinginannya.

Dukungan keluarga dan edukasi seputar MPASI

Berbagi tugas dan informasi antar anggota keluarga akan membuat proses MPASI lebih lancar. Edukasi dari tenaga kesehatan juga sangat membantu.

Kesimpulan dan Pentingnya Mengikuti Pedoman WHO

Penerapan pedoman WHO tentang pemberian MPASI yang aman sangat mendukung pertumbuhan dan kesehatan bayi secara menyeluruh. Mengikuti strategi pemberian MPASI yang direkomendasikan membantu orang tua menghadirkan makanan sehat sekaligus mencegah risiko penyakit yang bisa muncul dari pengolahan makanan yang kurang tepat.

Jika masih ragu atau menghadapi kendala, konsultasikan ke tenaga medis. Terapkan prinsip keamanan dan variasi makanan sejak dini agar bayi tumbuh kuat dan sehat.

(Reviewed by Sari Khairinisa S.Gz)