Konten dari Pengguna

Perbedaan Stunting di Daerah Pedesaan dan Perkotaan

I

Info Gizi

Kumpulan artikel yang membahas seputar gizi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Info Gizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Anak di Pedesaan. Foto : Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak di Pedesaan. Foto : Pexels.

Perbedaan stunting di daerah pedesaan dan perkotaan menggambarkan kesenjangan dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak yang masih terjadi di Indonesia. Pemahaman tentang faktor dan solusi stunting di kedua wilayah sangat dibutuhkan agar upaya pencegahan berjalan efektif dan merata.

Pengertian dan Gambaran Umum Stunting di Indonesia

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi yang berlangsung cukup lama dan berulang. Masalah ini berdampak pada tinggi badan yang tidak sesuai dengan usia serta memengaruhi perkembangan otak dan kecerdasan anak. Di Indonesia, kasus stunting masih menjadi tantangan besar, terutama di wilayah yang berisiko tinggi.

Menurut Dea Widya Astari dkk dalam kajian jurnal Disparitas Stunting di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan: Systematic Review, stunting adalah masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan anak secara fisik dan kognitif.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tubuh anak, tetapi juga berpengaruh pada kualitas hidup generasi mendatang. Oleh sebab itu, upaya penanggulangan stunting menuntut strategi khusus, terutama di daerah dengan prevalensi tinggi.

Baca juga: Peran Kekurangan Zat Besi dalam Perkembangan Otak Anak

Perbandingan Prevalensi Stunting di Pedesaan dan Perkotaan

Stunting bisa ditemukan di daerah perkotaan maupun pedesaan. Namun, ada perbedaan angka yang cukup mencolok antara kedua wilayah tersebut. Wilayah pedesaan umumnya menunjukkan angka stunting yang lebih tinggi. Situasi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari sosial ekonomi hingga akses kesehatan.

Sementara itu, stunting di kota cenderung mengalami penurunan karena fasilitas dan paparan informasi yang lebih baik. Namun, tantangan tetap ada terutama di kawasan pinggiran kota dengan tingkat kepadatan penduduk yang lebih tinggi.

Data Statistik dan Temuan Penelitian

Masih dalam jurnal Disparitas Stunting di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan: Systematic Review, ditemukan bahwa prevalensi stunting di pedesaan cenderung lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Hal tersebut dipengaruhi dampak kumulatif dari keterbatasan akses dan mutu layanan di desa.

Hasil survei nasional dan riset kesehatan menunjukkan rata-rata stunting di pedesaan bisa mencapai 30% ke atas, berbeda dengan rata-rata di perkotaan yang berada di kisaran 20–25%. Kondisi ini tidak saja menunjukkan disparitas, melainkan juga menjadi peringatan ketidakmerataan pembangunan.

Faktor Penyebab Perbedaan Stunting antara Pedesaan dan Perkotaan

Ada sejumlah faktor yang memengaruhi tingginya angka stunting di pedesaan bila dibandingkan perkotaan. Beberapa di antaranya adalah pendapatan keluarga, kualitas pendidikan, ketersediaan fasilitas kesehatan, dan cara pengasuhan anak yang diterapkan di rumah.

Faktor Sosial Ekonomi

Faktor sosial ekonomi menjadi tantangan utama dalam perbedaan kejadian stunting antara desa dan kota. Keluarga di desa seringkali mengalami keterbatasan finansial, pekerjaan tidak tetap, dan rendahnya tingkat pendidikan orang tua. Hal ini berpengaruh langsung pada kecukupan gizi dan pola makan sehari-hari anak.

Sementara di kota, kemudahan akses kerja dan pendidikan membuat keluarga lebih mampu memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak. Namun, tekanan hidup dan persaingan ekonomi di kota juga bisa menjadi sumber masalah baru bagi sebagian kelompok.

Faktor Akses dan Ketersediaan Layanan Kesehatan

Ketersediaan fasilitas kesehatan di desa relatif terbatas, baik dari segi jumlah maupun mutu pelayanan. Sebagian besar puskesmas dan posyandu di desa masih kekurangan tenaga ahli, alat kesehatan, dan program edukasi yang memadai. Sedangkan di kota, kehadiran rumah sakit, klinik swasta, serta kampanye kesehatan lebih mudah dijangkau masyarakat.

Kondisi geografis juga turut berperan, di mana masyarakat desa sering dihadapkan pada infrastruktur jalan dan transportasi yang kurang mendukung, sehingga membuat pelayanan kesehatan tidak optimal.

Faktor Pola Asuh dan Edukasi Gizi

Pengetahuan keluarga, terutama ibu, akan gizi seimbang dan pengasuhan bayi menjadi unsur penting. Di pedesaan, angka stunting cenderung lebih tinggi karena edukasi gizi mengenai MPASI (makanan pendamping ASI), variasii makanan, dan peningnya imunisasi belum tersebar merata.

Sementara itu, di kota, masyarakat umumnya lebih mudah mendapatkan informasi dan edukasi dari berbagai media dan program pemerintah. Meski begitu, masih ada tantangan dalam praktik pemberian makan yang benar di perkotaan, misalnya akibat pola hidup sibuk orang tua.

Dampak Kesenjangan Angka Stunting bagi Masa Depan Anak

Ketidakmerataan prevalensi stunting antara desa dan kota memiliki dampak jangka panjang bagi anak-anak. Anak yang mengalami stunting, apalagi di desa, mengalami gangguan pertumbuhan fisik dan juga penurunan kemampuan belajar. Dalam jangka panjang, mereka berpotensi mengalami masalah kesehatan, keterbatasan produktivitas, bahkan peluang kerja yang lebih kecil.

Stunting juga berdampak pada kualitas SDM bangsa. Jika disparitas stunting tidak segera diatasi, kualitas dan daya saing generasi muda Indonesia di pasar global akan kian tertinggal.

Upaya Penanggulangan Stunting di Pedesaan dan Perkotaan

Penanggulangan stunting di Indonesia sudah menjadi prioritas nasional dengan pelibatan banyak pihak. Sukses atau tidaknya sebuah program sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, serta sektor swasta dan akademisi.

Intervensi Pemerintah dan Stakeholder

Beberapa program prioritas yang telah dilaksanakan antara lain adalah pemberian makanan tambahan di posyandu, edukasi menyusui, penataan lingkungan sehat, serta kampanye sanitasi. Kementerian Kesehatan juga bekerja sama dengan daerah menggelar pelatihan bagi kader dan bidan desa untuk penanganan dini stunting.

Di perkotaan, berbagai program promosi gizi disesuaikan dengan karakteristik masyarakat urban. Masyarakat lebih didorong untuk rajin cek kesehatan dan aktif mengikuti seminar gizi secara daring.

Rekomendasi Berdasarkan Temuan Studi

Kolaborasi lintas sektor dan peningkatan edukasi gizi sangat diperlukan untuk mengatasi perbedaan stunting antarwilayah. Penyuluhan berbasis komunitas, pelibatan tokoh masyarakat, dan pemanfaatan teknologi informasi perlu terus diperkuat khususnya di pedesaan.

Selain itu, pemberdayaan ekonomi keluarga berkontribusi signifikan untuk menciptakan ketahanan pangan rumah tangga. Dukungan psikososial dan pengawasan tumbuh kembang anak sejak usia dini juga tidak boleh diabaikan.

Kesimpulan dan Saran

Perbedaan stunting di daerah pedesaan dan perkotaan menunjukkan bahwa ketidakmerataan akses nutrisi dan layanan kesehatan masih menjadi masalah utama di Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh faktor sosial ekonomi, pola asuh, serta keterbatasan edukasi di wilayah pedesaan.

Mengatasi tantangan ini membutuhkan sinergi kebijakan yang berpihak pada masyarakat desa. Edukasi gizi, penguatan fasilitas kesehatan, dan peningkatan kapasitas ekonomi keluarga harus menjadi fokus utama. Kesadaran dan peran aktif masyarakat kunci dalam mewujudkan generasi sehat tanpa stunting.

(Reviewed by Sari Khairinisa S.Gz.)