Diplomasi Budaya : PPI Bartın di Şiremir Çavuş İlkokulu Turki

PPI Turki adalah organisasi pelajar yang berbentuk perhimpunan yang mewadahi seluruh pelajar dan mahasiswa Indonesia yang ada di Turki. PPI Turki berasaskan Pancasila dan UUD 1945.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari PPI Turki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BARTIN — Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Bartın kembali menorehkan jejak positif dalam upaya diplomasi budaya di Turki. Pada Jumat (8/5/2026), delegasi mahasiswa Indonesia bersama mahasiswa Turkmenistan sukses berkolaborasi menggelar acara pengenalan budaya lintas negara (kültür tanıtımı) di Şiremir Çavuş İlkokulu, Bartın.
Delegasi PPI Bartın yang diterjunkan berjumlah 10 orang, meliputi jajaran Ketua, Divisi Budaya dan Minat Bakat (BMB), Divisi Jaringan dan Kerjasama (JK), serta delegasi budaya lainnya. Tiba di lokasi pada pukul 10.30 waktu setempat, rombongan mahasiswa internasional ini langsung disambut hangat oleh pihak sekolah.
Acara edukatif ini dikemas secara interaktif dan dibagi menjadi dua sesi utama. Pada sesi pertama di dalam kelas, para siswa disuguhkan presentasi visual komprehensif mengenai identitas kebangsaan Indonesia dan Turkmenistan. Dimulai dari delegasi Indonesia, pengenalan mencakup filosofi bendera negara, keragaman pakaian adat, hingga keunikan bahasa daerah, yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan kebudayaan oleh delegasi Turkmenistan.
Antusiasme siswa memuncak pada sesi kedua ketika kegiatan berpindah ke area luar ruang (lapangan). Para murid diajak menyaksikan langsung pesona pertunjukan tarian tradisional yang dibawakan secara apik dan bergiliran oleh mahasiswa Indonesia dan Turkmenistan. Kemeriahan dan kehangatan semakin terasa di penghujung acara saat para mahasiswa berbaur, menari, dan bermain permainan interaktif bersama siswa-siswi Şiremir Çavuş İlkokulu.
Kepala Sekolah Şiremir Çavuş İlkokulu, Veysel Çimkeoğlu, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif kegiatan ini. Beliau menekankan bahwa Indonesia dan Turkmenistan selalu dipandang sebagai "negara saudara" oleh masyarakat Turki, sehingga kehadiran para mahasiswa sangat mempererat ikatan emosional tersebut.
"Anak-anak kita sedang dalam tahap mengenali dunia dan keragaman budayanya. Mendapatkan pengetahuan budaya secara langsung dari warga asli negaranya jauh lebih efektif, membekas, dan berdampak dibandingkan sekadar membacanya dari buku atau internet. Kegiatan ini sungguh memperluas visi dan cara pandang mereka terhadap dunia," ungkap Veysel.
Melihat dampak positif dan antusiasme luar biasa dari siswa kelas 4 yang menjadi audiens utama pada hari ini, pihak sekolah menaruh harapan besar agar program kolaborasi edukatif semacam ini dapat diselenggarakan kembali di masa mendatang untuk menjangkau kelas-kelas lainnya.
Penulis: Muhammad Dihya Rafi Akhtar
