Konten dari Pengguna

4 Perbedaan Egois dan Egosentris yang Sekilas Tampak Sama

info psikologi

info psikologi

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perbedaan egois dan egosentris. (Foto hanya ilustrasi, bukan tempat yang sebenarnya). Sumber: Pexels/Andrea Piacquadio.
zoom-in-whitePerbesar
Perbedaan egois dan egosentris. (Foto hanya ilustrasi, bukan tempat yang sebenarnya). Sumber: Pexels/Andrea Piacquadio.

Dalam ranah psikologi, orang-orang kerap mendengar istilah egois dan egosentris. Meski sekilas terdengar mirip, ternyata terdapat perbedaan egois dan egosentris yang signifikan.

Orang dengan sikap egois dan egosentris bisa ditemukan di mana pun kita berada. Hal ini bisa terjadi baik saat menghadapi seorang anak maupun orang dewasa lainnya dalam interaksi sosial.

Perbedaan Egois dan Egosentris yang Harus Diketahui

Perbedaan egois dan egosentris. (Foto hanya ilustrasi, bukan tempat yang sebenarnya). Sumber: Pexels/Yan Krukau.

Secara garis besar, konsep egois dan egosentris berakar pada rasa cinta pada diri sendiri. Namun terdapat beberapa perbedaan mendasar antar keduanya. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Pengertian

Menurut buku 101 Trik Hancurkan Pikiran-Pikiran Negatif, Denieda Fanun (2019: 202), egois adalah sikap seseorang yang mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain.

Sementara itu, egosentris merupakan keadaan di mana seseorang tidak berdaya untuk memahami keadaan dari sudut pandang orang lain.

2. Tahapan perkembangan

Sikap egois terjadi ketika seseorang sudah bisa memutuskan suatu hal dengan matang. Ini terjadi saat seseorang memasuki usia remaja hingga dewasa.

Sementara sikap egosentrisme muncul pada salah satu tahapan perkembangan anak, di mana dirinya dinilai belum memiliki pemahaman mental yang sempurna.

Biasanya, ini terjadi pada anak dengan rentang usia 2 hingga 7 tahun. Konsep egosentrisme ini pertama kali diutarakan oleh psikolog asal Swiss, Jean Piaget pada tahun 1920.

Meskipun demikian, sikap egosentrisme dapat berlanjut hingga memasuki masa remaja. Sikap ini terlihat saat individu yakin bahwa setiap keputusan yang dibuat akan terus diamati dan dihakimi oleh orang lain.

3. Karakteristik

Saat seseorang memiliki sikap egois, maka karakteristik yang muncul adalah memiliki empati yang rendah, sulit menerima kritikan dan senang menyalahkan orang lain.

Sementara karakteristik individu yang egosentris adalah fokus pada dirinya sendiri dan cenderung beranggapan sudut pandang orang lain serupa dengan apa yang ia pahami.

4. Dampak

Perbedaan egois dan egosentris berikutnya bisa terlihat dari dampak yang terjadi. Saat seseorang bersikap egois maka hubungan dengan orang lain rentan rusak. Hal ini bisa berdampak pada keutuhan keluarga bahkan kelangsungan bisnis.

Sementara, sikap egosentris pada anak justru penting untuk dipenuhi agar ketika dewasa ia mampu mampu menghargai pendapat orang lain.

Bila tidak, saat dewasa ia bisa terus menerus merasa cemas karena beranggapan bahwa setiap keputusan yang dibuat dalam hidupnya akan selalu dikritik orang lain.

Baca Juga: 5 Bahaya Menikah dengan NPD yang Perlu Diketahui

Ketika orang memahami perbedaan egois dan egosentris, maka semakin mudah ia menentukan bagaimana cara bersikap. Semoga informasi ini dapat membantu. (MFR)