Konten dari Pengguna

6 Cara Mengukur Kesiapan Menikah yang Tidak Boleh Diabaikan

info psikologi

info psikologi

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cara Mengukur Kesiapan Menikah. Hanya Ilustrasi, Bukan Gambar Sebenarnya. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Cara Mengukur Kesiapan Menikah. Hanya Ilustrasi, Bukan Gambar Sebenarnya. Sumber: Pixabay

Cara mengukur kesiapan menikah harus dilakukan sebelum memutuskan memasuki jenjang pernikahan. Pasalnya, rumah tangga yang sehat membutuhkan kesiapan dari kedua pihak.

Dikutip dari buku Nikah Siri, Yani C Lesar (2012:46), menikah tidak hanya untuk menjalin hubungan suami istri di dunia, namun juga perjuangan meraih kebahagiaan dunia akhirat.

Dalam pernikahan, terdapat banyak sekali ujian yang harus dilalui bersama. Oleh karena itu, menikah sebaiknya dilakukan saat sudah benar-benar siap.

Cara Mengukur Kesiapan Menikah, Wajib Cek Dulu

Cara Mengukur Kesiapan Menikah. Hanya Ilustrasi, Bukan Gambar Sebenarnya. Sumber: Pixabay

Kesiapan menikah harus dimiliki sebelum memutuskan membangun rumah tangga bersama pasangan. Berikut ini cara pengukurannya.

1. Usia

Usia menjadi tanda kesiapan fisik, baik bagi pria maupun wanita. Meskipun tidak terdapat patokan usia, namun ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan.

Dalam UU tertulis setidaknya berusia 19 tahun untuk bisa menikah. Hal ini berkaitan dengan tubuh yang sudah mampu bereproduksi dengan baik.

2. Kemampuan Berkomunikasi

Dalam rumah tangga, komunikasi harus terjalin jujur dan terbuka supaya hubungan bertahan lama. Ketika kedua sejoli sudah bisa membahas hal krusial, seperti keuangan sampai rencana masa depan, ini sudah menjadi tanda kesiapan.

Salah satu kemampuan komunikasi adalah mendengarkan keluh kesah pasangan.

3. Memahami Peran dan Tanggung Jawab

Setelah resmi menjalin pernikahan, tentu terdapat peran serta tanggung jawab yang berbeda. Jika hal ini sudah dipahami dengan baik, maka seseorang dapat dikatakan siap berumah tangga.

Orang yang belum memahami peran serta tanggung jawab pernikahan cenderung masih bersikap egois terhadap pasangan. Apabila memutuskan menikah, akan ada banyak konflik di dalamnya.

4. Kestabilan Finansial

Cara mengukur kesiapan menikah berikutnya adalah dari kondisi keuangan. Baik pria maupun wanita dapat dikatakan siap jika sudah memiliki kondisi finansial yang stabil.

Dalam hal ini bukan berarti kaya raya, namun mampu memenuhi kebutuhan dasar bersama. Pasalnya, finansial yang belum stabil akan meningkatkan stres dalam rumah tangga.

5. Komitmen

Komitmen menjadi salah satu pondasi terpenting dalam rumah tangga. Seseorang yang siap menikah sudah sadar bahwa pernikahan berlangsung sampai maut memisahkan.

Terdapat tanggung jawab serta peran dalam rumah tangga yang membutuhkan komitmen kuat, terutama ketika terjadi tantangan tertentu.

6. Siap Menerima Kekurangan Pasangan

Siap menikah berarti juga siap menerima kekurangan pasangan, bukan hanya kelebihannya. Ukuran kesiapan menikah salah satunya mampu menerima pasangan apa adanya, tanpa berusaha mengubahnya menjadi sempurna.

Baca Juga: 4 Pertanyaan Sebelum Menikah yang Wajib Ditanyakan pada Pasangan

Setelah mengetahui cara mengukur kesiapan menikah, apakah sejauh ini pasangan terlihat sudah siap? (LAU)