Konten dari Pengguna

8 Cara Menghilangkan Trauma pada Anak yang Perlu Diketahui Orang Tua

info psikologi

info psikologi

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Cara Menghilangkan Trauma pada Anak. Sumber: Pexels.com/Josh Willink
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Cara Menghilangkan Trauma pada Anak. Sumber: Pexels.com/Josh Willink

Cara menghilangkan trauma pada anak adalah informasi yang penting untuk diketahui oleh orang tua. Pasalnya, trauma pada anak dapat memiliki pengaruh terhadap kejiwaannya dan perkembangannya.

Ketika trauma pada anak tidak diatasi dengan baik, anak dapat mengalami beberapa persoalan dalam kehidupannya. Salah satu contoh adalah seseorang dengan trauma masa kecil dapat menjadi pribadi yang memiliki kecemasan atau ketakutan berlebih.

8 Cara Menghilangkan Trauma pada Anak

Ilustrasi Cara Menghilangkan Trauma pada Anak. Sumber: Pexels.com/Pixabay

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti dari kata trauma adalah keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani. Setiap orang memiliki kemungkinan untuk mengalami trauma dalam kehidupannya.

Beberapa orang dewasa biasanya lebih mudah untuk menyadari trauma dan cara untuk mengatasi trauma yang ada pada dirinya. Namun, hal ini tidak berlaku pada anak-anak.

Anak belum memiliki kematangan intelektual dan emosional. Kondisi tersebut membuat anak sangat membutuhkan orang tua untuk membantunya memahami dan mengatasi trauma.

Cara menghilangkan trauma pada anak ada banyak bentuknya. Namun, orang tua dapat mengupayakan 8 cara berikut untuk mengatasi trauma pada buah hatinya.

1. Melakukan Konsultasi dengan Psikolog

Psikolog adalah seorang ahli di bidang ilmu mental atau kejiwaan. Oleh sebab itu, melakukan konsultasi dengan psikolog yang kredibel dapat menjadi langkah awal dalam menangani dan membimbing pemulihan anak dari trauma.

2. Mengenali Reaksi Anak terhadap Taruma

Cara kedua yang dapat orang tua lakukan untuk mengatasi trauma pada anak adalah mengenali reaksi anak terhadap trauma. Guna mengenali reaksi ini orang tua dapat mengamati perilaku anak serta melakukan diskusi bersama psikolog.

3. Memberikan Rasa Aman untuk Anak

Trauma adalah ketakutan berlebih terhadap sesuatu yang pernah memberikan kesan buruk. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memberikan rasa aman kepada anak dalam menghadapi ketakutannya.

4. Berkomunikasi dengan Anak

Komunikasi adalah pertukaran pesan antara dua orang, bukan sekedar berbicara. Orang tua dapat melakukan komunikasi dua arah untuk memahami perasaan, ketakutan, keinginan, dan harapan anak.

kumparan post embed

5. Melakukan Validasi atas Perasaan Anak

Orang tua perlu melakukan validasi atas perasaan anak. Hal ini akan membantu anak memahami bahwa ada orang yang mengerti atas perasaannya sekaligus memberikan ketenangan untuknya.

6. Memberikan Dukungan kepada Anak

Setiap anak akan selalu membutuhkan dukungan dari orang tuanya, terlebih lagi saat menghadapi trauma. Dukungan dari orang tua dapat menjadi semangat bagi anak untuk menghadapi rasa takutnya dan sembuh dari trauma.

7. Bersikap Sabar

Trauma pada anak dapat menimbulkan perilaku dan reaksi yang berbeda-beda. Orang tua perlu bersikap sabar agar anak tidak semakin tertekan karena dimarahi.

8. Melakukan Kegiatan Positif

Selain tujuh pendekatan secara emosional, orang tua juga dapat melakukan kegiatan positif bersama anak. Contoh kegiatan itu adalah kegiatan-kegiatan yang anak suka, seperti menggambar, membaca buku, dan sejenisnya.

Itulah penjelasan mengenai cara menghilangkan trauma pada anak yang dapat orang tua terapkan. Namun, pada tahap intervensi awal ada hal-hal yang perlu diperhatikan.

Mengutip dari buku berjudul Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol. 1 E/15 karya Kliegman dan Behrman, dkk. (2000: 105), intervensi awal harus diarahkan pada penentuan beratnya trauma, kerentanan anak terhadap trauma, dan reaksi anak pada trauma. Oleh sebab itu, orang tua membutuhkan konsultasi dengan psikolog untuk mengenal ketiga hal tersebut.

Sekian penjelasan kali ini. Semoga anak-anak Indonesia dapat bebas dari trauma mendalam dan tumbuh menjadi pribadi yang baik budi. (AA)