8 Contoh Toxic Masculinity dan Pengertiannya

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Toxic masculinity adalah istilah yang sering digunakan dalam psikologi dan juga kehidupan masyarakat. Ada beberapa contoh dari toxic masculinity yang terjadi di dalam masyarakat saat ini.
Untuk memahami itu istilah toxic masculinity maka harus dimulai dari pengertiannya lebih dulu. Untuk lebih jelasnya simak pembahasan berikut ini.
Pengertian dan Contoh Toxic Masculinity
Dikutip dari buku Kata Dochi karya Dochi Sadega, (2021) toxic masculinity adalah istilah yang sudah berkembang menjadi norma sosial tentang bagaimana laki-laki seharusnya berperilaku.
Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan perilaku dan sikap yang dianggap merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain, yang dikaitkan dengan laki-laki.
Toxic masculinity lahir dari konstruksi sosial masyarakat patriarkis, yang menekankan bahwa laki-laki harus memiliki sifat-sifat tertentu, seperti kuat, tangguh, agresif, dominan, dan tidak boleh menunjukkan emosi .
Beberapa contoh perilaku yang termasuk toxic masculinity adalah:
Tidak boleh mengeluh dan menangis
Melakukan tindak kekerasan pada orang lain
Menunjukkan dominasi dan kekuasaan terhadap orang lain
Melakukan kekerasan dan agresivitas seksual terhadap pasangan dan orang lain
Menolak bantuan dan kenyamanan dari orang lain
Menyembunyikan perasaan dan masalah yang dialami
Menganggap wanita sebagai objek seksual atau bawahan
Menjaga citra maskulin dengan cara berlebihan, seperti mengonsumsi alkohol, merokok, atau berjudi .
Cara Mencegah Toxic Masculinity
Untuk mencegah toxic masculinity, diperlukan perubahan paradigma dan budaya yang lebih inklusif dan egaliter. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:
Menghargai dan menghormati perbedaan gender dan identitas seksual
Mengedepankan komunikasi yang asertif, empatik, dan jujur
Mengenali dan mengelola emosi dengan cara yang sehat dan konstruktif
Mencari bantuan profesional jika mengalami masalah psikologis atau emosional
Mendukung gerakan sosial yang menentang diskriminasi dan kekerasan berbasis gender
Menjadi contoh positif bagi generasi muda dalam menunjukkan sikap dan perilaku yang menghargai kesetaraan gender .
Jadi toxic masculinity adalah perilaku dan sikap yang merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain, yang dikaitkan dengan laki-laki.
Istilah ini lahir dari konstruksi sosial masyarakat patriarkis, yang menekankan bahwa laki-laki harus memiliki sifat-sifat tertentu, seperti kuat, tangguh, agresif, dominan, dan tidak boleh menunjukkan emosi.
Baca juga: Jenis-jenis Stres yang Paling Sering Dialami Seseorang
Saat ini ada banyak contoh toxic masculinity yang ada di dalam masyarakat dan terkadang hal tersebut sangat merugikan seseorang. Jadi sudah menjadi kewajiban untuk mengubah paradigma tersebut. (WWN)
