Arti Trauma Bonding dalam Psikologi: Ciri dan Cara Mengatasinya

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tak jarang korban kekerasan sulit atau bahkan enggan dipisahkan dari pelaku. Kondisi tersebut disebut sebagai trauma bonding. Masih banyak orang yang asing dengan arti trauma bonding dalam psikologi.
Bagi sebagian orang, trauma bonding mungkin terlihat aneh. Namun, hal ini sebenarnya kerap terjadi kepada para korban kekerasan.
Penjelasan Arti Trauma Bonding dalam Psikologi
Apa arti trauma bonding dalam psikologi? Dikutip dari buku Trauma Bonding and Interpersonal Crimes, Reid (2024:4), trauma bonding: istilah yang digunakan oleh Dutton dan Painter (1981) sebagai label deskriptif untuk perkembangan ikatan psikologis antara pelaku kekerasan dan korban, terutama digunakan dalam konteks kekerasan dalam hubungan intim.
Trauma bonding atau ikatan trauma merupakan hasil dari siklus pelecehan atau kekerasan yang terjadi secara terus menerus. Biasanya, kekerasan tersebut akan diselingi dengan tindakan-tindakan yang positif.
Contohnya memberikan hadiah atau permintaan maaf. Hal ini dapat membuat korban merasa bingung, memiliki ikatan, dan ketergantungan emosional kepada pelaku kekerasan.
Ikatan trauma juga dapat disebabkan oleh faktor lainnya. Seperti pelaku yang mengisolasi korban dari teman dan keluarga dan manipulasi dengan cara gaslighting. Lantas, apa saja ciri trauma bonding?
1. Mengabaikan Tanda Bahaya
Ciri pertama dari trauma bonding adalah mengabaikan tanda-tanda bahaya dari pasangan atau orang lain yang memberikan perlakuan buruk. Biasanya, korban akan menyembunyikan perlakuan buruk yang diterimanya dan sulit untuk menerima dan menyangkal kekerasan. Justru, orang lain yang menyadari adanya kekerasan terhadap korban.
2. Menjauhkan Diri
Ciri kedua adalah menjauhkan diri dari orang lain. Hal ini dilakukan karena korban cenderung menyembunyikan berbagai perlakuan buruk sehingga tidak terpisahkan dari pelaku. Alasan korban melakukan ini adalah karena merasa mendapatkan kasih sayang dari pelaku.
Keputusan yang satu ini juga disebabkan oleh faktor lainnya, seperti malu atas kekerasan yang terjadi dan ancaman dari pelaku.
3. Menyalahkan Diri Sendiri
Korban merasa bahwa pelaku memiliki alasan untuk melakukan kekerasan. Hal ini bahkan dapat menyebabkan korban malah menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi.
Cara Mengatasi Trauma Bonding
Ikatan traumatis ini memang sulit untuk diputus. Agar dapat memutuskan ikatan traumatis dibutuhkan waktu dan keyakinan. Berikut beberapa cara untuk mengatasi trauma bonding.
Menyadari bahwa perilaku buruk atau kekerasan tidak boleh ditoleransi.
Meminta pendapat orang lain.
Tidak merasa malu dan bersalah saat menjadi korban kekerasan atau pelecehan seksual.
Belajar untuk mencintai diri sendiri.
Baca juga: 5 Cara Mengatasi Clumsy, Sifat yang Sering Menyulitkan Diri
Arti trauma bonding dalam psikologi adalah ikatan psikologis yang terjadi antara pelaku kekerasan dan korban. Ikatan trauma ini dapat terjadi karena beberapa hal. Mulai dari siklus kekerasan, isolasi, dan manipulasi. (FAR)
