Kumparan Logo
Konten Media Partner

10 Bulan Keliling Indonesia, Pemuda Lampung Terdampar di NTB Akibat Corona

Info Dompuverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Muhammad Rega, Pemuda asal Lampung yang backpacker hingga ke Dompu, NTB, perjalanannya terhalang Corona. Foto: Ilyas Yasin
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Rega, Pemuda asal Lampung yang backpacker hingga ke Dompu, NTB, perjalanannya terhalang Corona. Foto: Ilyas Yasin

Info Dompu - Setelah memutuskan melakukan perjalanan sendirian mengejar mimpinya untuk keliling desa-desa di Indonesia, Muhammad Rega terdampar di Desa Tembalae, sebuah wilayah di Dompu, Nusa Tenggata Barat (NTB). Bukan tanpa sebab, di tengah wabah Corona, Dompu kini menjadi pilihan Rega untuk sementara waktu.

“Saya start dari Bandar Lampung sejak 27 Juni 2019, hari Kamis habis Lebaran. Jadi sudah hampir 10 bulan,” terangnya, Selasa (14/4).

Jawa Barat (Jabar) adalah provinsi pertama yang dikunjunginya begitu keluar dari Bandar Lampung. Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Cisarua, Pengalengan, Sumedang, Ciamis, Cirebon adalah kota yang pernah didatanginya. Tak terhitung jumlah desa yang pernah disinggahinya. Rega mengaku lupa nama-nama desa yang disinggahinya tersebut.

Pada akhir November 2019, Rega beralih dari Jabar ke Jawa Tengah (Jateng). Magelang adalah kota pertama yang disinggahinya. Tapi di desa pertama di Magelang, dirinya mendapat penolakan untuk tinggal karena baru saja menggelar Pilkades sehingga masyarakatnya terbelah.

Ilustrasi. Pixabay

Akhirnya ia hanya tidur semalam di desa tersebut, padahal Rega ingin bermalam beberapa hari untuk menyelami kehidupan di desa. Tapi posisinya sebagai orang asing menimbulkan kecurigaan warga.

Di Jawa Tengah ia mengunjungi Yogyakarta, Kulonprogo, dan Demak. Tapi di Yogyakarta Rega bertahan beberapa hari sembari nongkrong bersama banyak komunitas di kota pelajar tersebut.

Setelah itu ia beralih ke Jawa Timur dan berkunjung ke Madiun, Malang, Ponorogo, Bondowoso, Madura, Banyuwangi, Bondowoso dan di Kediri. Di tempat terakhir, atas desakan orangtuanya, ia mengambil kursus bahasa Inggris 1 bulan di Pare. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan. Sayangnya saat di Banyuwangi dan hendak menyeberang ke Bali ternyata Pulau Dewata sudah lockdown, sehingga terpaksa ia balik ke Surabaya.

Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, ia menyeberang menggunakan ferry selama 20 jam menuju Pelabuhan Lembar, Lombok Barat. Sempat bermalam di komunitas Vespa Mataram, Rega ingin ke desa wisata Desa Sade tapi sudah ditutup.

Doc Muhammad Rega

Di Lombok, Rega menghabiskan waktu selama 8 hari. Ia juga tak bisa ke mana-mana lantaran berlaku masa tanggap darurat Corona oleh Pemerintah NTB. Dia juga mengaku menerima penolakan saat menginap di kos temannya.

“Bukan salah mereka sih, tapi wajar orang waspada dalam situasi mencekam seperti sekarang,” ujarnya.

Ditambahkan saat di Jawa Timur (Jatim), ia juga menerima perlakuan yang sama. Saat hendak tidur di masjid atau pom bensin juga sempat diusir secara halus begitu orang tahu dirinya orang asing. Untuk membiayai perjalanannya, Rega mengaku selain tabungannya sejak 2017, arisan, jual sepeda dan PS, juga diberi uang saku oleh orangtuanya. Selama di perjalanan orangtuanya juga sering mengiriminya uang.

Warga Kelurahan Sumberrejo Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung ini mengaku kedua orangtuanya sering was-was atas keselamatan dirinya selama kasus Corona ini. Orang tua juga mengontaknya untuk mengetahui keberadaan dirinya.

Sambil melihat situasi, sekarang Rega hendak kembali ke Lampung melalui jalur wilayah timur. “Mungkin saya harus ke Makassar, Kalimantan, kemudian mencari jalur laut yang ke Lampung,” ujarnya.

Ilustrasi. Pixabay

Namun ia juga tak bisa menyembunyikan kegelisahannya karena Makassar pun sudah termasuk zona merah penyebaran wabah Corona. Dia mengaku takut jika harus pulang melalui Pulau Jawa, terlebih Jakarta yang menjadi penyebaran Corona paling banyak korbannya.

Di tambah lagi beberapa wilayah sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di sisi lain ia juga praktis tak bisa mengunjungi desa-desa seperti biasa karena wabah ini.

Karena perjalanannya tidak menyasar desa tertentu maka Rega mengaku tak pernah kesasar di sepanjang perjalanannya.

Yah, karena tujuannya ke desa maka kalau bisa diterima di desa tertentu maka di situlah saya bermalam,“ ujarnya.

Dia juga menggunakan aplikasi Google Map sebagai pemandu jalan. Dia juga mengaku mendapat banyak keajaiban dan pertolongan di sepanjang perjalanannya.

“Mungkin ini doa ibuku yang gelisah dengan keadaanku,” ujarnya lirih.

Selain diberi bantuan, penginapan juga ada yang memberinya uang. Di Demak ia malah dikasih uang Rp 100 ribu oleh seorang petani sehingga membuat dirinya terharu.

Diceritakan, ia memilih jalur wilayah timur, termasuk ke Dompu, juga karena relatif aman dibandingkan dengan Pulau Jawa. Sambil melihat situasi, katanya, dirinya akan segera balik ke Lampung.

Sementara saat ini Rega menginap di rumah kenalannya Imam Amarijami Saputra di Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu.

kumparan post embed

-

Ilyas Yasin

-----------------------------------------

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!