Buku: Teman Perjalanan Pemuda Asal Lampung Selama 10 Bulan Keliling Indonesia

Info Dompu - Sebagai seorang backpacker, selain membawa perlengkapan standar seperti tenda, hammock, senter, kompor portable, dan panci, ternyata buku menjadi teman yang selalu menemani Muhammad Rega (25), backpacker asal Kota Bandar Lampung selama melakukan perjalanan keliling Indonesia, termasuk buku elektronik (e-book) yang terdapat dalam smartphone miliknya.
"Membaca buku biasa saya lakukan, terutama jika memasuki desa-desa yang tidak terjangkau sinyal ponsel," ujar Rega, ketika ditemui di rumah temannya di Dusun Restu Desa Tembalae Kecamatan Pajo Kabupaten Dompu, Kamis (16/4).
Selama 10 bulan di perjalanan, aktivis YLBHI Kota Bandar Lampung ini mengaku telah menamatkan hampir 20 buku. Buku-buku tersebut baik yang dibawanya sejak dari rumah maupun yang dibelinya di perjalanan sebagai kenang-kenangan saat berkunjung ke kota tertentu.
“Untuk efisiensi di perjalanan, buku-buku yang telah dibaca biasanya saya kirim ke rumah atau saya titipkan di teman seperti di Yogyakarta,” jelasnya.
Rega sedang membaca “Das Kapital”-nya Karl Marx yang cukup tebal di atas hammock. Dengan buku, ia tidak merasakan kesepian selama di perjalanan.
“Dengan buku saya bisa membunuh waktu, nggak kehabisan hiburan atau mengalahkan rasa bosan atau sendirian. Pokoknya, selama ada buku yang belum habis dibaca saya merasa aman aja,” selorohnya.
Meski menyukai buku-buku 'kiri' tapi alumni Fakultas Hukum Universitas Lampung ini mengaku tidak otomatis menjadikan kiri sebagai garis ideologinya. Menurutnya, setiap pembaca buku harus mampu menjaga jarak dengan buku yang dibacanya.
Rega menyukai buku fiksi, filsafat, sejarah maupun sains. Dia menjelaskan, melakukan perjalanan sendirian memberikan banyak kesempatan kepadanya untuk menyalurkan hobi membacanya.
“Saya juga sebenarnya suka melakukan perjalanan dengan teman lain, tapi memang ada porsinya sendiri-sendiri sih,” ujarnya.
Dengan melakukan perjalanan sendirian, katanya, ia sedang menantang dirinya sendiri apakah ia mampu menghadapi segala situasi sendirian, terlebih dengan kelainan genetik hemofolia yang dideritanya.
Saat berada di tempat-tempat yang disinggahinya, Rega selalu memosting foto-fotonya di Instagram miliknya baik dengan petani yang ditemuinya di desa maupun saat mengikuti aksi demonstrasi dengan kaum buruh dan mahasiswa di beberapa kota yang pernah dilaluinya.
Sayangnya, Rega mengaku enggan berfoto yang menampilkan wajahnya sendiri atau berswafoto. Begitu pun, berfoto dengan keluarga baru yang menampungnya selama di perjalanan.
“Saya anggap itu ranah privasi. Saya takut yang bersangkutan enggan difoto,” ujarnya memberinya alasan.
Dia mengaku terharu karena banyak mendapatkan bantuan, termasuk tinggal beberapa hari di rumah-rumah warga yang pernah disinggahinya di desa. Selama di perjalanan ia tidak pernah tidur di penginapan karena diberi tumpangan oleh penduduk desa yang ditemuinya.
“Inilah hebatnya jika jadi backpacker di desa. Saya sangat tersentuh dengan ketulusan mereka meski saya orang asing. Situasinya mungkin berbeda jika saya melakukan perjalanan di kota,” ujarnya.
Setelah kembali ke rumah di Bandar Lampung, katanya, ia akan meminta orangtuanya untuk menelpon semua keluarga yang pernah menolongnya selama di perjalanan.
“Iya, nanti saya minta ke ayah bunda untuk menelepon dan ngucapin terima kasih kepada orang-orang yang telah menolongku,” harapnya.
Saat ini Rega tertahan di Dompu, NTB, karena tidak dapat melanjutkan perjalanannya karena wabah Virus Corona (COVID-19) yang sedang melanda Indonesia.
Dia mungkin akan memilih menempuh jalur di wilayah timur guna menghindari pulau Jawa yang sudah tergolong zona merah penyebaran virus mematikan ini. Rega mulai meninggalkan kota kelahirannya dan memulai perjalanan sejak 27 Juni 2019.
Ia masih menyimpan impian untuk berkunjung ke desa-desa adat di Flores, Nusa Tenggara Timur. Sayangnya langkahnya harus terhenti karena wabah Corona.
-
Ilyas Yasin
