Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Potensi Robusta dan Arabica, Dua Jenis Kopi di Tanah Tambora

Kopi Tambora. Foto: Instagram @oi_ammo_coffee

Info Dompu - Bagi pencinta kopi mungkin tidak asing dengan nama robusta dan arabica. Dua jenis kopi tersebut tumbuh di berbagai wilayah di Indonesia, juga di lereng gunung Tambora, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Selain memiliki keindahan alam yang memesona, gunung Tambora menjadi salah satu kawasan penghasil kopi bagi masyarakat Dompu dan beberapa wilayah di NTB.

Kopi robusta Tambora lebih dulu dikenal dibandingkan kopi arabica. Robusta Tambora hadir dengan berbagai varietas yang bisa dinikmati di berbagai kedai di Dompu secara langsung. Bahkan penikmat kopi bisa membawa pulang kemasan roasted bean atau biji kopi yang sudah disangrai dan telah dikemas dengan rapi di kedai-kedai tersebut atau pun di berbagai gerai oleh-oleh khas Dompu.

Sedangkan kopi jenis arabica Tambora masih langka di Dompu. Setidaknya begitu yang diungkapkan oleh Jaya Kusuma Wan Akbar (29 tahun), salah satu pelaku kopi Dompu.

"Di Tambora kopi arabica masih langka, juga potensi kopi arabica Tambora lebih besar daripada robusta" ungkap Jaya.

Jaya mengatakan bahwa dari segi harga, kopi arabica Tambora berbeda dengan robusta. Juga proses lainnya yang harus dikontrol pasca panennya, proses penjemuran, proses roasting, hingga penyeduhan.

Biji Kopi Tambora. Foto: Instagram @oi_ammo_coffee

Lebih lanjut, Salmi (24 tahun), owner Kopi Aksara yang berlokasi di Jogja, menjelaskan perbedaan klasifikasi dua jenis kopi ini via voice note WhatsApp (7/4). Terdapat beberapa perbedaan antara kopi robusta dengan arabica, terutama dalam proses penanaman.

"Kopi arabica umumnya ditanam di atas ketinggian 1.000 mdpl, sedangkan kopi robusta hidup di bawah ketinggian 1.000 mdpl. Pertumbuhan kedua jenis kopi tersebut sangat dipengaruhi oleh iklim, suhu, kelembaban, sinar matahari, kerapatan hutan, bahkan serangga yang hidup di sekitarnya, jadi hutan bagi tanaman kopi adalah rumah" ungkap Salmi.

Baik robusta atau arabica membutuhkan perawatan yang intens untuk mencapai hasil panen terbaiknya. Baginya kedua jenis kopi tersebut memiliki potensi pasar yang sama besar, sekalipun terdapat perbedaan harga dari keduanya.

Beragam varietas kopi. Foto: Dokumen Kopi Aksara

Terkait potensi kopi Tambora, Salmi memberikan tanggapan karena kedai kopi yang dikelolanya juga mendapat orderan kopi Tambora. Mahasiswa jurusan sastra Universitas Negeri Yogyakarta yang merupakan putra asli Dompu ini mengungkapkan bahwa kopi arabica dan robusta Tambora bisa sama-sama memiliki potensi pasar.

"Kopi arabica memang memiliki harga yang lebih mahal dibanding robusta, tetapi permintaan pasar pada kedua jenis kopi tersebut bisa jadi sama besarnya. Jadi Tambora memiliki potensi yang besar untuk muncul di kancah perkopian nasional maupun internasional jika benar-benar serius dalam pengelolaannya, baik jenis robusta maupun arabica. Tambora tidak boleh kalah dengan tetangganya seperti Bajawa dan Manggarai, Flores dan Bali, Kintamani yang sudah lebih dulu dikenal di nasional maupun internasional" jelas Salmi.

Kopi Tambora yang sudah dikemas. Foto: Instagram @oi_ammo_coffee

Potensi kopi Tambora harus diimbangi dengan perawatan yang baik. Jaya yang merupakan owner Oi Ammo Coffee mengungkapkan bahwa ketika dipanen buah kopi (cherry) harus berwarna seperti merah cerah/merah kecoklatan, yang menandakan bahwa buah kopi tersebut sudah benar-benar matang. Tingkat kematangan kopi akan semakin menentukan kualitasnya, semakin tinggi kualitas kopi maka petani kopi bisa menjual biji kopinya dengan harga yang lebih mahal dan mendapatkan keuntungan yang lebih pantas.

"Saat dipanen buah kopi harus berwarna merah seperti ceri. Biasanya setelah dipetik, sebelum dilakukan proses penjualan, petani kopi akan menjemur kopi hingga berwarna coklat kehitaman" cerita Jaya yang sudah bekerja sama dengan petani di lereng Tambora untuk stok kopi di kedainya.

Jaya juga menjelaskan bahwa umumnya musim panen kopi arabica Tambora sekitar bulan April hingga bulan Juni. Sedangkan masa panen robusta Tambora sekitar bulan Juni hingga bulan September.

Untuk jenis robusta, Jaya mengatakan baru di kedainya memiliki varietas tertinggi yaitu fine robusta Tambora.

“Kelas tertingginya kopi robusta Tambora adalah kopi fine robusta, dan di Dompu hanya kami saja yang menyediakannya. Kopi fine robusta itu pengelolaannya sudah menggunakan rumah plastik" ujar Jaya.

Jaya pun berencana ke depannya akan menggunakan rumah plastik (dome) untuk salah satu proses pasca panen kopi jenis arabica, yang ia lihat sangat potensial agar kualitasnya lebih meningkat.

-

Penulis: Nining dan Intan

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Kamis,23/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22