Konten dari Pengguna

13 Contoh Puisi tentang Ibu yang Penuh Kasih Sayang

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Contoh Puisi Tentang Ibu, Foto: Unsplash/lielos.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Contoh Puisi Tentang Ibu, Foto: Unsplash/lielos.

Pada 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu Nasional. Ada banyak cara untuk memperingati dan mengungkapkan kasih sayang kepada ibu. Contoh puisi tentang ibu ini bisa menjadi salah satunya.

Dikutip dari buku Menulis Puisi: Panduan Memikirkan Kata karya Sabiq Carebesth (2024: 87), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh ritme, matra, rima, dan penyusunan larik dan bait.

Daftar isi

Contoh Puisi tentang Ibu

Ilustrasi Contoh Puisi Tentang Ibu, Foto: Unsplash/b-bee.

Mendekati Hari Ibu Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Desember, banyak anak yang mulai mempersiapkan hadiah atau ucapan. Salah satunya adalah memberikan kata-kata melalui puisi.

Meski terlihat sederhana, jika diberikan dengan hati yang ikhlas maka bisa menjadi kado yang mewah. Puisi ini juga bisa menjadi cara mengungkapkan rasa sayang, rasa cinta, dan perhatian kepada Ibu.

Inilah contoh puisi tentang Ibu yang penuh kasih sayang untuk merayakan Hari Ibu.

1. Cinta Tak Berujung

Ibu, kau mentari di pagi hari,

Menghangatkan hati yang sunyi,

Dengan pelukanmu yang abadi,

Aku temukan cinta sejati.

Keringatmu, bukti perjuangan,

Doamu, tameng dalam perjalanan,

Tak ada kata cukup tuk membalas,

Kasihmu tulus, tak pernah lepas.

Di wajahmu, tergurat lelah,

Namun senyummu tetap merekah,

Mengajarkan arti sabar dan tabah,

Hingga hidupku tak lagi gundah.

Ibu, kau pelita sepanjang masa,

Pemberi cahaya dalam gulita,

Aku berjanji menjaga cinta,

Hingga akhir waktu tiba.

2. Ibu (Chairil Anwar)

Pernah aku ditegur

Katanya untuk kebaikan

Pernah aku dimarah

Katanya membaiki kelemahan

Pernah aku diminta membantu

Katanya supaya aku pandai

Ibu....

Pernah aku merajuk

Katanya aku manja

Pernah aku melawan

Katanya aku degil

Pernah aku menangis

Katanya aku lemah

Ibu....

Setiap kali aku tersilap

Dia hukum aku dengan nasihat

Setiap kali aku kecewa

Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat

Setiap kali aku bangun dalam kesakitan

Dia ubati dengan penawar dan semangat

Dan bila aku mencapai kejayaan

Dia kata bersyukurlah pada Tuhan

Namun....

Tidak pernah aku lihat air mata dukamu

Mengalir di pipimu

Begitu kuatnya dirimu....

Ibu....

Aku sayang padamu....

Tuhanku....

Aku bermohon padaMu

Sejahterakanlah dia

Selamanya....

3. Bunda Air Mata (Emha Ainun Najib)

Kalau engkau menangis

Ibundamu yang meneteskan air mata

Dan Tuhan yang akan mengusapnya

Kalau engkau bersedih

Ibundamu yang kesakitan

Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan

Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu

Dan jangan bikin satu kalipun untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu

Kalau Ibundamu menangis,

para malaikat menjelma butiran-butiran air matanya

Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda

membuat para malaikat itu silau dan marah kepadamu

Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci

sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala menutup pintu sorga bagimu

4. Surga di Telapak Kaki Ibu

Ibu, di telapak kakimu,

Tersimpan surga penuh restu,

Tak henti kau doakan diriku,

Agar hidupku tak jatuh dan pilu.

Langkahmu, saksi pengorbanan,

Kata-katamu, penuh kebijaksanaan,

Setiap tangis yang kau sembunyikan,

Adalah bukti cinta yang tak terhentikan.

Biar waktu terus berlalu,

Rambutmu memutih, tubuhmu rapuh,

Namun kasihmu tetap menyatu,

Mengalir dalam nadiku yang utuh.

Ibu, pahlawan tanpa medali,

Cintamu abadi dan suci,

Ku berdoa setiap pagi,

Agar bahagiamu selalu menyinari.

5. Pelukan Ibu

Dalam pelukanmu, kutemukan damai,

Seolah dunia berhenti sejenak,

Tak ada beban yang terasa berat,

Hanya kasih yang lembut dan hangat.

Tanganmu selalu siaga menolong,

Menyeka air mata yang berlinang,

Kau tak pernah mengenal lelah,

Demi bahagiaku, kau bertaruh darah.

Ibu, kaulah penjaga mimpiku,

Penuntun di setiap jalanku,

Dengan senyummu yang menenangkan,

Hidupku terasa penuh keberkahan.

Semoga ku bisa membalas cintamu,

Meski kecil dibanding jasamu,

Ibu, namamu selalu di doaku,

Hingga akhir hayat, aku mencintaimu.

6. Ibu (Sapardi Djoko Damono)

Ibu masih tinggal di kampung itu, ia sudah tua.

Ia adalah perempuan yang menjadi korban mimpi-mimpi ayahku

Ayah sudah meninggal,

ia dikuburkan di sebuah makam tua di kampung itu juga,

beberapa langkah saja dari rumah kami.

Dulu Ibu sering pergi sendirian ke makam,

menyapu sampah, dan kadang-kadang, menebarkan beberapa kuntum bunga.

"Ayahmu bukan pemimpi," katanya yakin meskipun tidak berapi-api,

"ia tahu benar apa yang terjadi."

Kini di makam itu sudah berdiri sebuah sekolah,

Ayah digusur ke sebuah makam agak jauh di sebelah utara kota.

Kalau aku kebetulan pulang, Ibu suka mengingatkanku untuk menengok makam ayah, mengirim doa.

Ibu sudah tua, tentu lebih mudah mengirim doa dari rumah saja.

"Ayahmu dulu sangat sayang padamu, meskipun kau mungkin tak pernah mempercayai segala yang dikatakannya."

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, sambil menengok ke luar jendela pesawat udara, sering kubayangkan Ibu berada di antara mega-mega.

Aku berpikir, Ibu sebenarnya lebih pantas tinggal di sana, di antara bidadari-bidadari kecil yang dengan ringan terbang dari mega ke mega

dan tidak mondar-mandir dari dapur ke tempat tidur,

memberi makan dan menyusui anak-anaknya.

"Sungguh, dulu ayahmu sangat sayang padamu," kata Ibu selalu,

"meskipun sering dikatakannya bahwa ia tak pernah bisa memahami igauan-igauanmu."

7. Ibu, Sang Malaikat

Ibu, kau malaikat tanpa sayap,

Membawaku terbang dalam harap,

Setiap langkahmu adalah doa,

Mengiringiku melawan dunia.

Kau tak pernah meminta balas,

Hanya senyumku yang kau harap,

Cintamu tulus, tanpa batas,

Menyelimuti hati yang penat.

Meski waktu terus berjalan,

Kasihmu takkan pernah pudar,

Dalam pelukanmu, kutemukan,

Rindu yang selalu bersandar.

Ibu, kaulah segalanya bagiku,

Mentari di pagi dan malamku,

Terima kasih atas semua cintamu,

Aku mencintaimu selalu.

8. Bayangan di Balik Pintu

Ibu, kau sering sembunyi di balik pintu,

Menatapku dari kejauhan,

Dalam hatimu, kau menyebut namaku,

Berharap aku terus bertahan.

Aku ingat tanganmu yang lembut,

Menyeka keringat di wajahku,

Kini tanganku ingin menggenggam,

Menguatkanmu di hari yang kelam.

Waktu telah mengubah segalanya,

Namun cintamu tetap sama,

Ibu, bayanganmu adalah kenangan,

Yang akan selalu ku genggam dalam ingatan.

Terima kasih, ibu tercinta,

Untuk kasih yang tak pernah sirna,

Aku akan menjaga setiap doa,

Demi bahagiamu selamanya.

9. Hati Ibu yang Lembut

Hati ibu, selembut sutra,

Menyimpan kasih yang tak terhingga,

Menghapus duka di setiap luka,

Menjadi pelipur di kala nestapa.

Bibirnya melantunkan doa,

Menguatkan langkahku di dunia,

Di setiap tetes air matanya,

Ada cinta yang tak tergantikan selamanya.

Ibu, maafkan jika aku alpa,

Tak selalu hadir saat kau butuh,

Namun dalam hatiku, kau takkan hilang,

Kau adalah alasan aku berjuang.

Di bawah langit yang luas ini,

Namamu kusebut di setiap sujud,

Semoga surga menjadi hadiahmu,

Atas segala cinta yang kau labuhkan padaku.

10. Saat Aku Menutup Mata (Mosdalifah)

Saat ku menutup mata bunda

Aku tak ingin mata itu melihat ku dengan penuh air

Saat ku menutup mata bunda

Aku tak ingin hati itu seakan tergores

Saat ku menutup mata bunda

Aku ingin bibir itu tersenyum

Aku tidak ingin engkau terluka

Bunda,

Mungkin ini adalah lihatan yang sangat bagimu

Tapi aku tak ingin melihat dengan seakan tak sanggup melepaskanku

Bunda,

Aku hanya ingin engkau merelakanku

Dan mengantarkan aku pulang ke rumahku dengan senyum

Saat ku menutup mata bunda

Aku ingin kau tahu

Bahwa aku menyayangimu

Bahwa aku mencintaimu

Aku bahagia bisa jadi anakmu

11. Ibu, Embun Pagi

Ibu, kau adalah embun pagi,

Menyegarkan hati di kala sunyi,

Setiap langkahmu penuh arti,

Membimbingku ke jalan yang suci.

Dalam suaramu, kutemukan tenang,

Dalam tatapmu, terang menerang,

Kau tak pernah lelah memberi,

Kasih tulus yang tak terganti.

Meski waktu mengikis usia,

Cintamu tetap hangat membara,

Aku berjanji untuk menjaga,

Segala doa dan harap yang kau jaga.

Ibu, kau cinta sepanjang masa,

Mentari dalam segala cuaca,

Namamu akan selalu ku bawa,

Hingga akhir perjalanan jiwa.

12. Pengorbanan Tanpa Kata

Ibu, kau tak butuh kata,

Untuk tunjukkan betapa kau cinta,

Keringat dan air mata jadi cerita,

Demi hidupku yang kau jaga.

Saat ku kecil, kau peluk erat,

Kini dewasa, kau tetap dekat,

Memberiku cinta tanpa syarat,

Meski hidup sering membuat penat.

Kau adalah bukti kekuatan sejati,

Dengan senyum di tengah sunyi,

Pengorbananmu, ibu, takkan terganti,

Menginspirasi setiap langkahku ini.

Aku bersyukur dalam doaku,

Diberi ibu sepertimu,

Cintamu adalah anugerah,

Yang menjadikanku tak pernah lelah.

13. Hujan dan Doa Ibu

Ibu, hujan di luar terasa damai,

Mengingatkanku pada doa-doa panjangmu,

Setiap tetesnya membawa kasih,

Membasahi hidupku dengan berkah.

Dalam sunyi, kau menyebut namaku,

Di setiap malam tanpa lelah,

Hingga aku melangkah lebih kuat,

Menggapai mimpi yang pernah kau titipkan.

Kau tak pernah meminta pujian,

Hanya senyumku yang kau harapkan,

Ibu, doamu adalah sayap,

Yang membawaku terbang ke puncak harapan.

Aku ingin menjadi hujan bagimu,

Membasuh lelah dalam jiwamu,

Ibu, cintamu adalah keajaiban,

Yang takkan pernah pudar oleh zaman.

Baca Juga: 50 Pantun Hari Ibu yang Menyentuh Hati untuk Bunda Terkasih

Itulah contoh puisi tentang Ibu yang bisa diberikan pada Hari Ibu nanti. Melalui puisi ini bisa menjadi sarana menunjukkan kasih sayang, cinta, perhatian, dan rasa syukur kepada ibu. (Umi)