13 Kata-kata Jawa Penuh Makna tentang Kehidupan sebagai Perenungan

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa Jawa dikenal sebagai bahasa yang memiliki perbendaharaan kata cukup unik dan selalu menerapkan petuah nenek moyang. Tidak heran mengapa banyak orang mencari kata-kata Jawa penuh makna sebagai bahan renungan atau sekadar caption media sosial.
Bukan hal yang asing, bila masyarakat Jawa dikenal dengan prinsipnya dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan budaya adi luhur ajaran nenek moyang. Salah satu diantaranya yaitu paribasan atau petuah atau pepatah tentang kehidupan.
Kata-Kata Jawa Penuh Makna
Di era modern ini, kata-kata Jawa penuh makna banyak dicari karena dapat memberikan banyak pelajaran bijak untuk menjalani kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai moral. Dijadikan penuntun untuk menyikapi sebuah permasalahan dengan bijaksana.
Mengutip buku Nasihat-nasihat Hidup Orang Jawa oleh Iman Budhi Santosa (2021), nilai pesan dalam peribahasa atau nasihat hidup orang Jawa mampu menembus ruang dan waktu.
Berikut adalah kumpulan kata-kata Jawa penuh makna tentang kehidupan sebagai renungan:
“Aja ngomong waton, nanging ngomonga nganggo waton.” (Jangan asal berbicara. Tetapi bicaralah dengan menggunakan patokan atau alasan yang jelas).
“Aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa.” (Jangan merasa bisa, tetapi bisa merasa–maksudnya adalah jangan merasa sombong, gegabah, atau terlalu membanggakan diri, tetapi bisalah merasakan perasaan orang lain).
“Ajining dhiri dumunung ing lathi, ajining raga saka busana.” (Nilai pribadi terletak di bibir. Nilai raga tercermin dari pakaian).
“Giri lusi, janma tan kena ingina.” (Gunung, cacing tanah, manusia, tidak boleh dihina).
“Witing tresna jalaran saka kulina.” (Awal mula cinta dapat tumbuh karena sering bertemu).
“Wong Jawa nggone semu, sinamun ing samudana, sesadone ingadu manis.” (Orang Jawa cenderung semu atau terselubung, ditutup kata-kata tersamar, masalah apapun dihadapi dengan muka manis).
“Anak polah bapa kepradah, bapa kesulah anak kapolah.” (anak bertingkah, bapak atau orang tua yang bertanggung jawab. Orang tua dihukum dengan dihujani tombak, anak ikut merasakannya).
“Cilik diitik-itik, bareng gedhe dipasang benik.” (Ketika kecil, dipasangi lubang kancing. Setelah besar, dipasangi kancing baju).
“Desa mawa cara, negara mawa tata.” (Desa mempunyai adat sendiri, negara memiliki tatanan, aturan, atau hukum tertentu).
“Kawula mung saderma, mobah mosik kersaning Hyang Sukmo.” (Lekukan yang kita mampu, selebihnya serahkan kepada Tuhan).
“Ojo kagetan, ojo gumunan, mulat sariro angroso wani.” (Jangan mudah terkejut, jangan mudah kagum, sadar akan diri sendiri dan berani akan kebenaran).
“Sapa sing nandhur bakale ngundhuh.” (Siapa yang menanam akan menuai).
“Nrimo ing pandum andhap asor” (Menerimanya dengan cara yang rendah hati).
Kata-kata Jawa penuh makna di atas merupakan petuah yang disampaikan oleh nenek moyang dan hingga kini masih diterapkan oleh sebagian besar masyarakat. (LAIL)
Baca juga: 8 Kata Mutiara Jawa Kuno tentang Kehidupan
