2 Contoh Khutbah Idul Adha 2024 Menyentuh Hati

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Khutbah Iduladha menjadi salah satu hal wajib yang terdapat dalam rangkaian salat Idulfitri. Maka tidak heran jika banyak ustaz yang mencari contoh khutbah Idul Adha 2024 sebagai referensi.
Khutbah Iduladha dikumandangkan setelah mengerjakan salat sebelum membaca doa. Banyak tema yang bisa diangkat mulai dari kisah tentang ketaatan dan keikhlasan, ibadah haji, atau kurban.
Hari Raya Iduladha menjadi salah satu hari raya yang dinantikan umat Islam. Pasalnya pada hari raya ini, umat Islam dianjurkan untuk berkurban bagi yang mampu. Hewan kurban yang dapat disembelih mulai dari unta, sapi, kerbau, domba, dan kambing.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Contoh Khutbah Idul Adha 2024
Berikut merupakan contoh khutbah Idul Adha 2024 yang penuh makna dan menyentuh hati dikutip dari buku yang berjudul Kumpulan Tema Khutbah Pilihan, K. H. Abdul Qodir, S.H.I., dkk., (2021:29):
1. Islam Hidup Sebab Ilmu Agama
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan. Hadirin rahimakumullah, Allah subhanahu wa ta'ala memuji para ulama dalam firman-Nya:
رفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير (سورة المجادلة (١١)
Maknanya: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS al Mujadilah:11)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَثْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (سورة الحجرات: (۱۳)
Maknanya: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian menurut Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang tampak dan tersembunyi dari keadaan hamba" (QS al Hujurat: 13).
Bagaimana mungkin sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, sedangkan Rasululluh shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
الأنبياء (رواه البخاري) العلماء ورثة :
Maknanya: "Para ulama adalah pewaris para Nabi" (HR Al- Bukhari). Dan yang diwariskan oleh para nabi kepada para ulama bukanlah harta benda akan tetapi sesuatu yang lebih berharga dibandingkan harta benda, yaitu ilmu agama.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengenai keutamaan orang yang berilmu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ (رواه الترمذي)
Maknanya: "Keutamaan orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya atas ahli ibadah yang mengetahui sahnya ibadah adalah seperti perbandingan keutamaanku atas orang yang paling rendah derajatnya di antara kalian" (HR At-Tirmidzi).
Keutamaan ini disebabkan tidak lain karena manfaat orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya itu meluas ke berbagai lapisan masyarakat, tidak terbatas pada dirinya sendiri. Berbeda dengan orang yang ahli ibadah yang manfaatnya hanya terbatas pada dirinya sendiri.
Hadirin rahimakumullah,
Cukup sebagai bukti atas keutamaan ilmu bahwa orang yang tidak berilmu sekalipun, jika dikatakan berilmu, maka ia tidak akan menolak dan pasti merasa senang.
Sebaliknya jika orang yang tidak berilmu dikatakan bodoh, pasti ia akan menolak dan tidak mau dikatakan bodoh. Oleh karena itulah, baginda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kita agar menuntut ilmu agama dan mengabarkan kepada kita betapa besar pahala yang diperoleh oleh orang yang menuntut ilmu agama. Beliau bersabda:
يا أبا ذر، لأن تغدو فتتعلم بابا من العلم خير لك من أن تصلي ألف ركعة ( حديث ثابت رواه ابن ماجه )
Maknanya: "Wahai Abu Dzarr, jika engkau pergi lalu belajar satu bab ilmu agama, maka itu lebih baik bagimu daripada melakukan shalat sunah seribu rakaat" (HR Ibnu Majah).
Hal ini dikarenakan menuntut ilmu agama hukumnya wajib sedangkan melakukan salat-salat sunah sebanyak apapun hukumnya tetaplah sunah. Tentu perbuatan yang wajib lebih utama daripada perbuatan yang sunnah. Dalam hadis lain, baginda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا عُبِدَ اللهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ فِقْهِ فِي الدِّين ( رواه البيهقي في شُعَبِ الإِيمَانِ)
Maknanya: "Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama daripada dengan ibadah yang didasarkan pada pemahaman terhadap agama" (HR Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman). Dalam hadis yang sangat populer di kalangan para santri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
من يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفقهه في الدين (رواه البخاري ومسلم)
Maknanya: "Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan yang agung, maka Allah akan berikan kepadanya pemahaman yang mendalam tentang ilmu agama (dengan dimudahkan untuk belajar kepada para ulama yang terpercaya)." (HR al-Bukhari dan Muslim)
Saudara-saudara seiman, para ulama mengatakan bahwa menyibukkan diri dengan menuntut ilmu agama lebih utama dari melakukan ibadah-ibadah badaniyah yang sunnah.
Hal itu dikarenakan manfaat ilmu meluas dan bermanfaat bagi diri orang yang berilmu dan orang lain. Sedangkan ibadah- ibadah badaniyyah yang sunah manfaatnya terbatas pada diri sendiri.
Keutamaan tersebut juga dikarenakan ilmu dapat menentukan sah atau tidaknya berbagai macam ibadah.
Sahnya ibadah membutuhkan ilmu dan bergantung kepadanya, sedangkan ilmu tidak bergantung kepada ibadah. Seseorang yang beribadah tanpa dasar ilmu akan melakukan bentuk ibadah yang rusak yang akan membuatnya celaka di akhirat.
Keutamaan tersebut juga dikarenakan para ulama adalah pewaris para Nabi dan hal ini tidak berlaku bagi ahli ibadah yang bukan ulama. Ilmu juga tetap ada pengaruh dan manfaatnya meski pemiliknya sudah meninggal.
Keberadaan ilmu juga menyebabkan hidupnya syariat dan terpeliharanya ajaran-ajaran agama. Ilmu agama adalah hidupnya Islam. Artinya, dengan ilmu agama, seseorang akan mampu menjaga keislamannya dan keislaman orang lain.
Dan dengan ilmu agama, ajaran-ajaran Islam akan terjaga kemurniannya dari pihak-pihak yang berupaya untuk menyelewengkannya. Oleh karenanya, disebutkan dalam sebuah hadis:
ولفقيه وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابد (رواه البيهقي في شعب الإيمان)
Maknanya: "Satu orang faqih (orang yang mendalam pengetahuan agamanya) lebih sulit bagi setan untuk menggoda dan menjerumuskannya daripada seribu ahli ibadah" (HR al Bayhaqi dalam Syu'ab al-Iman).
Hadirin rahimakumullah, demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
2. Hikmah Dibalik Aneka Musibah dan Bencana
Hadirin yang dimuliakan Allah Swt
Marilah kita bersama berusaha meningkatkan ketakwaan kepada, dalam arti meningkatkan kesungguhan kita untuk melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala hal yang dilarang. Mudah-mudahan kita senantiasa termasuk golongan hamba yang mendapatkan petunjuk di jalan kebenaran.
Hadirin Rahimakumullah
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sekali musibah yang melanda negeri kita. Dari banjir bandang, amukan angin topan, tanah longsor, hingga gempa bumi dan jebolnya tanggul-tanggul penahan air. Alam seolah begitu murka dengan keserakahan umat manusia yang dengan rakus mengeksploitasinya tanpa henti.
Setidaknya, dari beberapa peristiwa ini kita dapat memetik hikmah mengapa musibah selalu saja menimpa? Mungkin kita akan menemukan banyak pendapat mengapa ini terjadi. Para ahli geologi, barangkali akan mengatakan: Ini hanya peristiwa alam biasa. Mungkin para dukun juga akan mengatakan: kejadian-kejadian tersebut adalah penanda pergantian zaman. Namun yang demikian adalah pendapat, sah-sah saja jika kita percaya, namun tidak wajib kita imani.
Hadirin rahimakumullah
Terlepas dari segala kelakuan dan antisipasi manusia, dalam pandangan al-Qur'an, aneka musibah adalah merupakan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah Swt. Takdir yang telah digariskan oleh-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat at-Taubat ayat 51:
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ الله لنا هو مَوْلانا وعلى اللَّهِ فَالْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Artinya: Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia- lah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal,
Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa setiap peristiwa yang terjadi semuanya telah digariskan Allah. Dan hanya kepada Allah, kita berlindung. Lalu mengapakah Allah menimpakan bencana kepada umat-Nya? Umat yang mengimani dan menyembah-Nya dalam ajaran yang benar dan hak? Mengapa bukan orang-orang kafir saja ditumpas dengan bencana?
Jawabnya adalah, karena di balik setiap takdir, pastilah terdapat makna yang tersembunyi. Termasuk dalam beberapa musibah yang melanda. Dan bagi saudara- saudara kita yang tertimpa musibah namun masih hidup setidaknya dapat memetik hikmah atas apa yang menimpa mereka. Mereka yang lolos dari bencana adalah orang- orang yang beruntung karena masih sempat ditegur oleh Allah Swt.
Mereka yang selamat masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kualitas ketakwaan, keimanan dan hidupnya. Mereka masih sempat meminta ampunan atas segala kesalahan serta berbuat kebajikan sepanjang sisa hidupnya untuk menghapuskan dosa.
Bencana menjadi teguran bagi yang selamat, demikian pula bagi yang berada jauh dari tempat kejadian. Orang-orang yang tidak terkena bencana, mendapatkan cobaan dari dampak bencana.
Mereka yang sentosa berkewajiban menolong yang kepayahan. Mereka yang hidup berkewajiban menyelenggarakan jenazah bagi yang meninggal.
Mereka yang masih memiliki banyak harta, berkewajiban memberikan makanan dan pakaian serta menolong dengan segenap kemampuan kepada mereka yang kehilangan segalanya.
Memberi makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang telanjang dan memfasilitasi yang kehilangan tempat tinggal.
Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat; dan Allah selalu akan menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. (HR Muslim)
Hadirin yang dimuliakan Allah
Bencana adalah juga sebuah teguran dari Allah kepada orang-orang beriman, namun lalai menjalankan perintah-Nya.
Peringatan ini sudah seringkali tampak melalui beberapa peristiwa serupa yang seringkali melanda negeri ini. Namun selalu saja kita belum bisa memperbaiki diri, sikap dan perbuatan.
Padahal beberapa musibah yang terjadi adalah akibat dari perbuatan dan ulah kita sendiri sebagai bangsa. Jika alam di negeri ini rusak, siapakah yang melakukan? Tentu adalah kita sendiri. Bukan negara lain, karena takkan ada negeri lain dapat merusak negara kita kecuali kita sendiri yang mengizinkan mereka. Allah Swt berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41:
ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ .
Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).
Adapun bagi kita semua, rentetan musibah yang terjadi hendaklah menjadi tadzkirah (pengingat) bahwa bencana memilukan tersebut dapat terjadi di tempat kita jika Allah menghendaki.
Seharusnyalah bagi kita untuk selalu berdoa, bertaqarrub, dan beristighfar semoga Dia selalu menganugerahkan keselamatan dan ampunan bagi kita semua. Dan jika demikian, maka Allah memberi peringatan kepada kita supaya kembali ke jalan yang benar.
Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin.
Itulah dua contoh khutbah Idul Adha 2024 yang dapat dijadikan sebagai referensi. (Adm)
Baca juga: Idul Adha 2024 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Lengkapnya
