37 Pantun Menyindir Musuh sebagai Referensi

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pantun menyindir musuh dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengungkapkan kekesalan terhadap seseorang. Pasalnya, mengungkapkan rasa kesal terhadap orang yang menyebalkan bukanlah masalah yang mudah. Banyak cara yang dapat digunakan, salah satunya yaitu dengan menggunakan pantun.
Sindir-menyindir kini telah menjadi fenomena yang lumrah di dalam kehidupan masyarakat. Hal itu merupakan bentuk balasan untuk musuh atau untuk orang yang sudah kelewat batas dalam berkata atau bertindak.
Melalui sindiran tersebut, dapat membuat orang yang mendengar menjadi tersadar atas perbuata buruk yang telah dilakukan. Selain itu, dengan melontarkan sindiran juga dapat membuat perasaan menjadi tenang dan lebih lega.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Pantun
Sebelum membahas tentang pantun menyindir musuh, sebaiknya pahami terlebih dahulu pengertian dari pantun. Berdasarkan buku yang berjudul Kamus Lengkap Pantun Indonesia Kamus Pantun Paling Lengkap yang Pernah Ada, Agus Priyanto SPd, (2014:7), pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.
Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa.
Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a- a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a).
Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak.
Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
1. Ciri-Ciri Pantun
Ciri-ciri pantun dapat dilihat berdasarkan bentuknya. Ciri-ciri ini tidak boleh diubah. Jika diubah, pantun tersebut akan menjadi seloka, gurindam, atau bentuk puisi lama lainnya. Ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut:
Tiap bait terdiri atas empat baris (larik).
Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata.
Rima akhir setiap baris adalah a-b-a-b.
Baris pertama dan kedua merupakan sampiran.
Baris ketiga dan keempat merupakan isi.
2. Jenis-Jenis Pantun
Berdasarkan buku Menenal Sastra Lama, Eko Sugianto (2015:7), berdasarkan maksud/isi/temanya pantun dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu pantun anak-anak, pantun remaja/dewasa, dan pantun orang tua.
Masing-masing kelompok menunjukkan kekhasan tema sesuai dengan perilaku pemiliknya.
Pantun anak-anak menggambarkan dunia anak-anak yang biasanya berisi rasa senang dan sedih. Oleh karena itu, jenis pantun anak dibagi dua, yaitu pantun bersuka cita dan pantun berduka cita.
Pantun remaja atau dewasa berisi kehidupan remaja/dewasa. Tema cinta sangat dominan dalam pantun remaja/dewasa. Pantun remaja atau dewasa dibagi beberapa jenis, yaitu pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan/percintaan, dan pantun perceraian/perpisahan.
Pantun orang tua berisi pendidikan dan ajaran agama. Pantun jenis ini dibagi menjadi beberapa macam, di antaranya pantun nasihat, pantun adat, pantun agama, pantun budi, pantun kepahlawanan, pantun kias, dan pantun peribahasa.
Berdasarkan tema-tema tersebut, pantun digunakan sesuai dengan kebutuhan atau posisi masing-masing kelompok masyarakat. Pantun anak- anak biasanya dipakai saat bermain atau digumamkan saat sedih.
Pantun remaja/dewasa, khususnya pantun muda (pantun cinta kasih), digunakan untuk bersilat lidah dalam memadu cinta kasih. Pantun orang tua dipakai dalam pertemuan adat sebagai selingan penegas dalam berdialog atau berdebat.
Selain itu, pantun orang tua juga digunakan sebagai kias dan ibarat ketika orang tua menasihati anak/cucunya.
Contoh Pantun Menyindir Musuh
Berikut adalah kumpulan contoh pantun menyindir musuh yang dapat dijadikan sebagai referensi yang sebagian diambil dari buku yang berjudul Buku Pintar Majas, Pantun, dan Puisi, Ulin Nuha Masrucin, (2017:118):
Janganlah beli keripik
Jika kamu sudah makan ketan
Percuma wajahmu cantik
Jika hati kaya setan
Berjemur di pinggir pantai
Sambil makan ikan bawal
Bodymu memang aduhai
Tapi hanya untuk dijual
Pagi makan roti
Siang makan bakso urat
Cinta ini sungguh mati
Kamu tega berkianat
Sudah sering baca koran
Kalau beli koran pagi
Sudah banyak pengorbanan
Tidak satupun kau hargai
Lempar jangkar dari kapal
Dermaga kapal betawi
Dasar kamu cewek binal
Semua cowok kau layani
Kau rajut tali temali
Hanya untuk gantung diri
Dasar kamu cewek genit
Tidak punya harga diri
Suruh pergi ke kota kerinci
Beli tiket banyak yang antre
Sungguh tidak mengherankan lagi
Tengok makin banyak cewek matre
Jalan-jalan ke kota Semarang
Terlihat gabus di dalam kerajang
Saya heran tengok gadis saat ini
Bodi tidak bagus gunakan pakaian jarang
Kecap asin tidak butuh diseduh
Jolok mangga dengan galah pan- jang
Silap sedikit segera selingkuh
Tersebut dia lelaki mata kerajang
Kunang-kunang terbang kesana
Terkena hujan badannya basah
Pinjam uang sambil memaksa
Bayar hutangnya sangatlah susah
Pagi hari makan bawang
Terlihat ular berkelat kelit
Terlalu sering meminjam uang
Giliran dipinjam sungguh pelit
Hidup bahagia dengan iman
Nafsu maksiat dapat terhalang
Bagaimana bisa disebut teman
Dia menusuk dari belakang
Raja rela membangun satu dinasti
Jangan pernah ada yang mencelakai
Lain di mulut lain di hati
Berteman hanya bisa melukai
Obat tabib terkenal manjur
Kaki sakit ditutup selimut
Kusangka kamu teman yang jujur
Rupanya kamu musuh dalam selimut
Dahulu elok cantik gulita
Indah seperti bunga taman
Daripada kehilangan bahagia
Lebih baik aku kehilangan teman
Bagus hati jika kamu tabah
Saat kamu membaca surat biru
Jika dinasehati tidak juga berubah
Baiknya kucari teman baru
Jengkol itu menyengat baunya
Bau seperti api dupa
Mendekat jika ada maunya
Sudah pernah ditolong tapi lupa
Sungguh mahal bunga melati
Bagus untuk hiasan permaisuri
Teman sejati memang susah dicari
Tetapi teman palsu banyak di sini
Si kancil suka makan kentang
Lari melihat gajah besar
Waktu susah kamu dikasih utang
Sampai kaya belum juga dibayar
Mama suka lagu keroncong
Papa suka lagu dangdutan
Belum kaya kamu sudah sombong
Sudah kaya kamu lupa daratan
Intan berlian intan mutiara
Hadiah istimewa dari sang raja
Hiduplah secara sederhana
Meski kaya tidak usah pamer harta
Aku suja jalan-jalan di taman
Untuk bersantai menunggu petang
Aku punya seorang teman
Kalau datang hanya meminta utang
Apalah arti dari sebuah taman
Terlihat elok di waktu pagi
Apalah artinya dari seorang teman
Ditagih utang, malah dia pergi
Enak sekali rasa kue ketan
Ketan berasal dari ladang selatan
Kenapa dia mengaku teman
Taetpi suka melakukan penghianatan
Air sumur ada dalam timba
Akan dibawa ke dalam hutan
Gaya seperti harimau rimba
Rupanya hanya kucing penyakitan
Bunga melati baunya harum
Tumbuhnya di atas perbukitan
Mulut besar pandai mengaum
Sekali disentak dia gemetaran
Padang pasir penuh dengan singa
Kumpulan hewan rusa yang dicari
Puasku menabur bunga
Rupanya terinjak jadi duri
Langit cerah berwarna merah
Seperti api yang mulai padam
Salah sedikit langsung marah
Bagaikan api di dalam sekam
Hujan gerimis dingin terasa
Di pagi hari pergi ke kebun lada
Mulut manis rupanya berbisa
Pandai berjanji, buktipun tidak ada
Kereta kuda kalau disewa
Pergi berangkat keliling kota
Jangan penah bersikap jumawa
Hanya karena bikin kecewa
Naik kereta disopir masinis
Di perjalanan melihat gadis
Ada orang bibirnya manis
Tetapi omongnya kelewat sadis
Terkena hujan, bajunya lusuh
Adik dipeluk sama pengasuh
Untuk yang merasa jadi musuh
Jangan pengecut membuat rusuh
Artis idola memang tenar
Sering hadir di konser besar
Jika memang merasa benar
Beri bukti, jangan hanya koar-koar
Penyu muncul tidak punya cangkang
Pergi jauh mengejar udang
Untuk yang nusuk dari belakang
Kamu itu hanyalah pecundang
Banyak ikandi Pulau Bacan
Jumbahnya banyak seperti karang
Gayanya kekar layaknya macan
Rupanya hanya seekor kumbang
Banyak kecebong di pinggir jala
Ada juga anak ikan nila
Jangan sombong mempunyai harta
Bisa-bisa jatuh menderita
Ujung jalan hutannya lebat
Kalau malam gelap gulita
Lama sudah kita bersahabat
Kenapa harus dusta di antara kita
Itulah kumpulan pantun menyindir musuh yang dapat dijadikan sebagai referensi. Kira-kira pantun nomor berapa yang akan digunakan? (Ria)
Baca juga: 191 Contoh Pantun Nasehat yang Menenteramkan Hati
