Konten dari Pengguna

4 Puisi tentang Pulang yang Menyentuh Perasaan

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Puisi tentang Pulang, sumber foto (Thought Catalog) by unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Puisi tentang Pulang, sumber foto (Thought Catalog) by unsplash.com

Puisi tentang pulang adalah ungkapan perasaan yang bisa diutarakan ketika merindukan rumah. Puisi tema ini sangat cocok digunakan oleh para perantau yang merindukan kampung halaman.

Meskipun demikian, pulang tidak selalu dikaitkan dengan rumah. Dalam karya sastra puisi, pulang bisa direpresentasikan ke dalam berbagai hal, misalnya pulang ke dalam diri sendiri atau pulang ke pangkuan Tuhan.

Puisi tentang Pulang yang Menyentuh Perasaan

Ilustrasi Puisi tentang Pulang, sumber foto (Ksenia Makagonova) by unsplash.com

Mengutip buku Smart Plus Saintek SMA oleh Tim Presiden Eduka (2020), puisi adalah karya sastra yang menggunakan bahasa padat dan mengandung makna tertentu. Bahasa yang digunakan dalam puisi adalah bahasa kiasan. Berikut adalah puisi tentang pulang yang menyentuh perasaan:

1. Saatnya Kembali

Oleh Mad Rifai

Sudah saatnya kembali ke asrinya desa

Yang hijaunya tenteramkan jiwa yang senak

Sudah saatnya kembali ke teduhnya rumah

Yang selalu hadirkan rasa nyaman dari penatnya kebisingan

Sudah saatnya kembali ke pangkuan ibu

Yang kasih sayangnya takkan pudar oleh waktu

Sudah saatnya kembali ke gendongan ayah

Yang tanpa henti peluh tercurah walau tubuh sudah payah

Dan bila saatnya kembali ke peraduan-Nya

Yang diharap hanya ampunan bagi hamba yang tak bosan bergumul dosa

2. Senja dan Pulang

Oleh Ahmad Zubeir Rangkuti

Senja akan membawamu pulang,

Pulang dari kesunyian hati,

Dan rindu akan tetap berlabuh

Pada takdir yang tak bertanda,

Aku dan kesendirian tetap berlari menuju masa depan,

Tak apa jika belum menemukan

Yang pas di hati,

Karena katanya,

Semesta akan melabuhkanmu pada hati yang pas dan waktu yang tepat,

Karena katanya juga,

Sesuatu yang indah layak untuk dinanti,

Dan senja sore ini,

Akan tetap bersahabat dengan sunyi

3. Pulang ke Dapur Ibu

Oleh M. Aan Mansyur

Aku hidup diantara orang - orang yang memilih melakukan usaha lebih keras untuk menyakiti orang lain daripada menolong diri sendiri.

Aku ingin pulang ke dapur ibuku, melihatnya sepanjang hari tidak bicara.

Aku ingin menghirup seluruh kebahagiannya yang menebal jadi aroma yang selalu membuat anak kecil dalam diriku kelaparan.

Aku ingin hidup dan diam bersama ibuku.

Aku akan menyaksikan ia memetik sayur di kebun kecilnya di halaman belakang untuk makan malam yang lengang.

Aku ingin membiarkannya tersenyum menatapku makan tanpa bernapas.

Aku ingin melihat ibuku tetap muda dan mudah tersenyum.

Aku ingin menyimak seluruh katayang tidak ia ucapkan.

Aku ingin hari-harinya sibuk

Menebak siapa yang membuatku tiba - tiba suka bernyanyi di kamar mandi

4. Sajak yang Pulang

Ihda Asyrofi

Pada sebuah jalan kenangan

Beribu syair kini menyepi

Merambah pada kesunyian malam

Yang satir-satirnya perlahan runtuh

Menyisih ke tepian pantai

Dalam dekapan senja putih

Risau penyair berbisik:

Kini tak ada lagi kata terucap

Bergeming di antara ruang kosong

Sajak-sajak indah hanya mengaliri kertas putih

Tertuang suka-suka, hambar tak ada makna

Seperti angin yang cepat berlalu

Melalui sebuah pesan rahasia

Dititipkannya wasiat permisi

Atas kepulangan syair

Pada dinding yang rapuh sore itu

Baca juga: (3 Puisi tentang Rumah yang Penuh Makna Mendalam)

Puisi tentang pulang yang disebutkan di atas dapat mewakili perasaan yang merindukan “rumah” tempat ingin kembali. (DLA)