45 Contoh Pantun Jenaka 4 Baris dengan Berbagai Tema

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebanyakan pantun biasanya terdiri dari 4 baris dalam setiap baitnya, seperti pantun jenaka. Ada berbagai contoh pantun jenaka 4 baris menggelitik yang dapat membuat pembaca atau orang yang mendengarnya tertawa.
Mengutip dari buku Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SD/MI Kelas V, Tim Tunas Karya Guru (2017:39), berdasarkan isinya, pantun dibagi menjadi beberapa macam, seperti pantun jenaka, nasihat, pantun teka-teki, pantun agama.
Selain itu, pantun jenaka biasanya digunakan untuk bersenda gurau dalam keadaan suka cita karena berisi sindiran atau candaan lucu untuk menghibur pendengar atau pembaca.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Pantun
Berdasarkan buku Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SD/MI Kelas V, Tim Tunas Karya Guru (2017:38), pantun merupakan rangkaian kata-kata indah yang berisi nasihat, sindiran, atau tujuan lainnya.
Dalam bahasa Jawa, pantun berasal dari pantun atau pari yang berarti padi. Sedangkan dalam kesusasteraan Jawa, ikatan puisi yang mirip dengan pantun disebut dengan parikan.
Pantun juga digunakan sebagai penghalus kata dalam berkomunikasi. Pada mulanya, pantun disampaikan secara lisan, namun saat ini pantun juga disampaikan melalui tulisan.
Sebuah pantun memiliki aturan yang terikat di dalamnya, seperti ciri-ciri pantun berikut ini:
Tiap bait terdiri atas 4 baris (larik).
Kalimat dalam tiap baris terdiri atas 8-12 suku kata.
Rima akhir setiap baris adalah a-b-a-b.
Baris pertama dan kedua merupakan sampiran.
Baris ketiga dan keempat berupa isi atau pesan yang ingin disampaikan.
Jenis-Jenis Pantun
Sebagai puisi lama, pantun memiliki beragam jenis, mulai dari pantun nasihat, pantun jenaka, hingga pantun anak-anak. Berikut macam-macam pantun berdasarkan buku Bahasa Indonesia untuk SMK, Utami Pratiwi (2021:46-47):
1. Pantun Nasihat
Hakikatnya, pantun dibuat untuk memberikan anjuran kepada seseorang. Oleh karena itu, tema dalam pantun yang paling sering dijumpai adalah pantun nasihat dengan tujuan untuk menyampaikan pesan moral atau didikan.
2. Pantun Jenaka
Isi dari pantun jenaka adalah sesuatu yang lucu dan menarik. Akan tetapi, tidak jarang pula jika pantun jenaka digunakan untuk mengekspresikan sindiran dan keadaan suatu masyarakat yang dikemas secara ringan dalam bentuk humor.
3. Pantun Agama
Selain pantun nasihat, pantun agama juga memiliki peranan dalam memberikan pesan moral dan didikan kepada pendengar atau pembaca.
Pantun ini berisi tentang pembahasan mengenai manusia dan Tuhan-Nya dengan isi lebih spesifik karena memegang nilai-nilai dan prinsip agama tertentu.
4. Pantun Teka-teki
Pertanyaan atau teka-teki juga bisa dikemas dalam sebuah pantun, di mana pantun ini disebut dengan pantun teka-teki.
Pada bagian isi di larik terakhir, selalu diakhiri dengan pertanyaan. Adapun tujuan pantun teka-teki adalah sebagai hiburan dan mengeratkan kebersamaan.
5. Pantun Berkasih-kasihan
Isi dan jenis dalam pantun berkasih-kasihan berhubungan dengan cinta dan kasih sayang. Biasanya, pantun ini terkenal di kalangan muda-mudi Melayu untuk mengungkapkan perasaannya kepada seseorang yang disukainya.
6. Pantun Anak
Selain untuk orang dewasa, pantun juga bisa diberikan kepada anak-anak dengan isi yang lebih ringan dan berkaitan dengan hal-hal yang menyenangkan buat si kecil.
Tujuan pantun anak adalah sebagai upaya untuk memperkenalkan pantun dan memberikan pesan, misalnya didikan moral.
Contoh Pantun Jenaka 4 Baris, Lucu dan Menggelitik
Berikut adalah contoh pantun jenaka 4 baris yang lucu untuk referensi berpantun dan bahan bacaan:
Menggegar batang limau Terikat lembing dekat kendil Gemetar tulang harimau Melihat kambing menyandang bedil.
Ada belalang di buah salak Kelat rasa mulut tak gusar Siapa yang tak ingin tergelak Melihat kera ikut ke pasar
Jalan-jalan ke Kota Sumedang Ada kambing makan rumput Anak-anak begitu senang Melihat kakek bergoyang dangdut
Patah tanduknya si induk lembu Melompat pematang berlarian Gelisah duduknya si pemburu Melihat kijang berlarian
Pohon manggis di tepi rawa Tempat lebah menyimpan madu Sedang menangis nenek tertawa Melihat kakek bermain gundu
Di sini kosong di sana kosong Tak ada batang tembakau Bukan saya berkata bohong Ada katak memikul kerbau
Harum bau kembang melati Dipetik adik dengan tangkainya Semua orang menjadi geli Melihat sapi naik kuda
Kupu-kupu terbang melintang Hinggap mengisap bunga layu Hati di dalam menaruh bimbang Melihat ikan membaca buku
Ke pasar membeli gunting Jangan lupa membeli pita Sangatlah heran si induk kucing Melihat tikus naik kereta
Burung terbang memakai topi Terbang ke awan seperti mimpi Tertawa hati karena geli Melihat kuda asyik bernyanyi
Orang Sasak pergi ke Bali Membawa pelita semuanya Berbisik pekak dengan tuli Tertawa si buta melihatnya
Hang Abu berburu singa Singa ditembak oleh pemburu Hati siapa tak akan tertawa Nenek lari dikejar ibu
Limau purut di tepi rawa Buah dilanting belum masak Sakit perut sebab tertawa Melihat kucing duduk berbedak
Pergi ke pasar membeli bebek Bebek dimasak nikmat sekali Adik tertawa geli melihat kakek Giginya copot usai makan roti
Bunga anggrek berwarna abu Daun diramu menjadi obat Sungguh kesal hati ibu Adik ngompol langsung disunat
Kue klepon bertabur kelapa Sungguh unik bentuknya bulat Saya geli melihat papa Tertawa lebar kemasukan lalat
Sore hari main ke lapang Hujan datang semua buyar Makan banyak hingga kenyang Dikira traktir disuruh bayar
Tari Barong dari Bali Duduk nongkrong sambil cerita Perut sakit menahan geli Melihat kucing memakai mahkota
Berenang jauh para ikan Mereka bebas hatinya senang Badan kurus kurang makan Kalau ditiup goyang-goyang
Bus mogok kehabisan solar Dipakai muat mengangkut bayam Kasihan Minem tidur di tikar Mata melotot dipatuk ayam
Anak kucing bermain tali Kera duduk membaca koran Bagaimana hati tak geli Kepala botak suka sisiran
Mobil pickup mobil sedan Mobil resmi mobil bodong Anda sopan kami segan Anda songong kami todong
Jam berdetak tak terarah Mata melirik kepala benjut Anak siapa yang suka marah Mata melotot seperti badut
Buah pisang buah tomat Disimpan dalam lumbung padi Pantas tercium bau menyengat Rupanya Wawan belum mandi
Sungguh baik asam belimbing Tumbuh dekat limau lungga Sungguh elok berbini sumbing Biar marah tertawa juga
Membeli sabun di warung Warung baru milik Sudirman Diam-diam menutup hidung Bau kentut penuhi ruangan
Asam kandis asam jawa Satu peti di dalam kereta Jikalau nenek sudah tua Hati kakek tetaplah cinta
Duduk manis di bibir pantai Lihat gadis aduhai tiada dua Masa muda kebanyakan santai Sudah renta sulit tertawa
Yogyakarta kota kelahiran Penuh arak gemar berilmu Gelak senyum juga heran Melihat kucing berbaju biru
Ke SPBU membeli bensin Bensin bagus di Pangandaran Menahan diri agar tak bersin Malah kentut tak tertahankan
Pergi ke hutan bertemu gajah Gajar lari dikejar kanguru Adik sudah siap menuju sekolah Ternyata sekarang hari Minggu
Makan ikan pakai sambal teri Jangan lupa dengan lalapan Hati akan terasa sepi Jika tidak ada pasangan
Beli baut beli sekrup Beli online dari Jombang Dua anak sudah cukup Dua istri masih kurang
Berakit-rakit ke hulu Berenang-renang ke tepian Ayo berangkat ke penghulu Daripada cuma temenan
Tukang bangunan memegang paku Pakunya terbang terkena angin Hati siapa tak kaku Melihat gajah makan es lilin
Cicak mati dikerubung semut Puyuh terbang ke awa Hati siapa tak akan terpaut Melihat kata berkalung jala
Pagi-pagi minum teh hangat Agar sehat dicampur jamu Walau ketek bau menyengat Aku setiap di sampingmu
Beli rendang di Kota Padang Beli soto di Brastagi Kalau ada umur panjang Boleh kita menikah lagi
Berangkat kerja sehabis subuh Tidak lupa menggosok gigi Bersatu kita teguh Bercerai kita ya nikah lagi
Anak ayam turun lima Mati satu di lumbung padi Sudah pasti senyum orangnya Mendengar kambing bersuara babi
Kue lapis di dalam kotak Kue dibeli di dekat panggok Ayah tertawa terbahak-bahak Melihat kera mengisap rokok
Anak kucing di dalam kapal Kapal berlayar sampai Sumatra Adik tertawa terpingkal-pingkal Melihat monyet berkacamata
Jalan-jalan di sore hari Lihat banteng sedang kerokan Emang nasib badan ini Sudah ganteng jadi rebutan
Sungguh besar hewan badak Jika berjalan terseok-seok Nenek tertawa terbahak-bahak Melihat kakek bermain TikTok
Elok rupanya pohon mangga Tumbuh subur di dekat pohon jambu Elok rupanya adikku membaca Tulisan terbalik tak pernah tahu
Nuansa humor dan sindiran yang dibalut dengan candaan dalam contoh pantun jenaka 4 baris, membuat isi yang terkandung tersampaikan dengan ringan. Sehingga, selain memperoleh sebuah pesan, pendengar dan pembaca juga bisa mendapatkan hiburan. (fat)
Baca juga: 191 Contoh Pantun Nasehat yang Menenteramkan Hati
