5 Contoh Puisi tentang 17 Agustus untuk Merayakan HUT RI ke-78

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari kemerdekaan Indonesia akan segera tiba. Tentunya akan ada banyak perayaan menyambut hari spesial tersebut. Salah satunya biasanya diadakan lomba cipta puisi bertema HUT RI. Contoh puisi tentang 17 Agustus kali ini juga bisa dijadikan acuan untuk membuat puisi tema serupa.
Dengan adanya contoh puisi tersebut, maka orang-orang yang tertarik mengikuti lomba cipta puisi bisa memiliki inspirasi. Jadi, nantinya mereka bisa mempersiapkand iri dengan baik.
5 Contoh Puisi tentang 17 Agustus yang Bagus dan Bermakna
Merayakan hari kemerdekaan dengan berkarya dan membuat perenungan mendalam merupakan salah satu cara yang terbaik, dari pada hanya sekadar pesta menghambur-hamburkan uang. Para generasi muda harus bisa menghargai kemerdekaan dan mengisinya dengan baik.
Dikutip dari buku Antologi Puisi Kemerdekaan, Alfin Nirhayatul Islamiyah, dkk, 2021, dan buku Spesial Antologi Puisi bertajuk Hari Kemerdekaan Indonesia, Shinta .N., Shavna Agitsni, dkk., berikut lima contoh puisi tentang 17 Agustus untuk merayakan HUT RI yang ke-78.
1. Puisi Kemerdekaan Karya Tika Madjid
17 kemarin
Terasa menggemparkan
Terasa menggembirakan
Ada pekik kemenangan
Ada pekik kebahagiaan
Bahagia bisa kembali ke tanah mulia
Bahagia bisa bersama ibu pertiwi
Kini 17 agustus bergema kembali
Ada yang bergolak dihati
Ingin menangis
Ingin meratap
Tapi kepada siapa
Ibu pertiwiku sedang gundah gulana
Ibu pertiwiku sedang kecewa
Oleh hempasan rasa amarah
Hempasan rasa serakah
Hempasan rasa ..
Kemana sang perkasa Kemana sang pejuang pusaka
Kemana mereka? 17 Agustusku
Jangan berlari dariku
Jangan menghindariku
Aku tak sanggup melihat derai air matamu
Aku takkan bisa melihat muram wajahmu
Aku ..
Aku sudah hampir kehilangan ibu pertiwiku
Jangan pergi ..
Tetaplah bersamaku
Menapaki langkah yang pernah kita lalui
Menuai asa yang pernah kita rasakan
Mari kita susul ibu pertiwi
Mengamit tangannya
Mencuri senyumnya
2. Indonesiak Karya Diyah Fadilah
Indonesiaku,
Kini kau 'tlah terlepas dari belenggu penjajah?’
Dulu ditindas, ditebas hingga dirampas
Hingga satu persatu rakyat tewas
Indonesiaku,
Terbebas dari penjajah tak semudah membalik tangan
Detik demi detik merelakan keringat bertetesan
Satu malam pun serasa ribuan tahun
Indonesiaku,
Kini sang dwiwarna telah berkibar
Semerbak harumnya bagaikan mawar
Sampai tak terasa puluhan tahun terlewatkan
Indonesiaku,
Semoga kisahmu tak pernah pupus
Tak hanya suka namun juga duka
Bukan hanya tinggal sebuah cerita
3. Tanyaku Sederhana Karya Muhammad Sifak Almurtadho
Aku adalah seribu tahun lalu mencoba melawan semua kalah
Dan luka untuk kubawa pergi merenggut semua kalimat asa untuk merdeka angkasa surya menopang semua deru ombak derita ringkus habis semuanya!
Tanpa ada orang yang tersisa.
Semua tulisan-tulisan dari penyair terkenal ini adalah bukti nyata kalau dulu negara ini menelan jutaan jiwa sampai merdeka!
Saat ini, negara ini dijajah mati oleh pribumi sendiri Bukannya benar pertanyaanku?
Sudahi semua pertingkaian ini, atau merdeka dua kali?
Ringkus peristiwa!
Kita merdeka karena kita berbeda!
4. Perayaan ala Orang Bodoh Karya Denik A Nuramal
Tanggal merah di kalender duduk tersenyum merekah
Katanya ada perayaan ditunggu-tunggu dengan merah dan putih.
Mengubur marah, menggembala sejarah
Begitu perayaan ala orang-orang bodoh
Bukan tentang huru-hara dan hore
Berdiri di tengah terik menyaksikan bendera sedang ditarik
Kata orang-orang pandai scrupa itu cintai negeri
Perayaan ala orang-orang bodoh
Tak pernah semeriah karangan bunga dibalut upacara khidmat
Dihadapan rajut darah dan tulang yang dijahit oleh doa lamat-lamat
Meski kemerdekaan dalam isi kepala umat
Adalah debat kusir yang tak mengenal kata tamat
Sebab perayaan ala orang bodoh
Serupa: mencangkul kebun subuh hari dan pulang saat keringat sudah terkumpul rapi
Atau menjala ikan di lautan bahala
Beberapa merayakan kemerdekaan dengan seribu gelengan kepala
Saat menyeduhkan kopi untuk para pelupa
Bahwa kita adalah penjajah, penjarah, dan pemusnah kemerdekaan sesama
5. Merdeka, Kini dan Nanti Karya Ahmad Suryadi
Merdeka ini adalah upaya yang tak kenal lelah
Usaha yang tak pernah menyerah
Merdeka ini adalah cucuran keringat dan darah
Yang setia mencucur hingga melimpah ruah
Merdeka ini adalah lelah
Lelah yang dirasakan oleh setiap jiwa
Merdeka ini tak mudah digapai
Karena berjuta ton darah raib serta tergadai
Merdeka didapat dengan taruhan nyawa
Demi merdeka jutaan nyawa dan jiwa melayang
Demi merdeka untuk senyum esok yang lebih
Demi merdeka untuk senyum bangsa Indonesia
Demi merdeka ibu pertiwi, kini dan nanti.
Baca juga: 4 Puisi tentang Pahlawan yang Berjasa bagi Bangsa
Contoh puisi tentang 17 Agustus tadi tak hanya cocok untuk menyambut HUT RI yang ke 78 nanti, tapi juga bisa dijadikan acuan dalam pembuatan puisi tema nasionalisme. Selamat berkarya. (nov)
