50 Contoh Pantun Karmina dan Penjelasannya

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pantun merupakan salah satu puisi lama yang memiliki banyak jenisnya, salah satunya adalah pantun karmina. Terdapat berbagai contoh pantun karmina yang bisa menjadi bacaan saat waktu luang atau referensi belajar ketika diperlukan.
Mengutip dari buku Kumpulan Pantun untuk SD-SMP, Inur Hidayati (2017:8), pantun karmina juga disebut dengan pantun kilat. Pantun terdiri atas dua larik dalam setiap baitnya. Baris pertama pantun karmina merupakan sampiran, sedangkan baris kedua adalah isinya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Penjelasan tentang Pantun Karmina
Keberadaan pantun sudah ada sejak zaman dulu yang biasa dipakai masyarakat untuk menyampaikan pesan atau sesuatu. Pantun karmina merupakan bentuk kembangan pantun dalam versi pendek.
Berdasarkan buku Pantun dan Puisi Lama Melayu, Eko Sugiarto (2016:40-41), yang menjelaskan bahwa pantun karmina merupakan puisi yang terdiri dari dua baris sehingga sering disebut sebagai pantun kilat atau pantun singkat.
Sama seperti halnya pantun, karmina tergolong dalam karya sastra asli Melayu yang pada mulanya merupakan sastra lisan. Maka dari itu, bentuk karya tulis pantun karmina tidaklah tetap.
Penggunaan pantun karmina, biasanya untuk menyampaikan sindiran atau ungkapan secara langsung. Sampai saat ini, pantun ini masih sering digunakan dalam budaya Betawi. Meski demikian, masyarakat Betawi lebih cenderung menyebutnya sebagai pantun bukan karmina.
Hal ini dikarenakan istilah karmina yang tidak sepopuler pantun, sehingga kebanyakan masyarakat lebih mudah menyebutnya dengan sebutan pantun bukan pantun karmina atau pantun kilat.
Adapun fungsi dari pantun karmina yaitu sebagai sindiran, sebagai sarana dalam mengungkapkan perasaan dan gagasan, sarana menyampaikan nasihat, sebagai selingan percakapan, humor dan lelucon, dan lainnya.
Berikut adalah ciri-ciri pantun karmina sebagaimana dikutip dari buku Pantun dan Puisi Lama Melayu, Eko Sugiarto (2016:40):
Setiap bait terdiri dari dua baris.
Baris pertama merupakan sampiran.
Baris kedua merupakan isi (biasanya berisi sindiran).
Memiliki jeda baris yang ditandai oleh koma (,).
Bersajak lurus, a-a.
Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata.
Menurut p2k.stekom.ac.id, dalam struktur pantun karmina sebenarnya berasal dari empat baris yang setiap baris bersuku kata empat atau lima. Kemudian, kedua baris tersebut diucapkan seolah-olah menjadi sebuah kalimat seperti contoh berikut ini:
Pisang kepok pisang berbiji, Anak mondok, diambil istri.
Kemudian dijadikan:
Pisang kepok, pisang berbiji, Anak mondok, diambil istri.
Berdasarkan buku Mengenal Sastra Lama: Jenis, Definisi, Ciri, Sejarah, dan Contoh, Eko Sugiarto (2015:40), pantun karmina tidak lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, melainkan hanya sesekali saja, dan itu terjadi pada hal-hal tertentu.
Misalnya, pantun karmina akan digunakan untuk memberikan nasihat dengan jenaka, mengolok-olok dan menyindir secara halus sambil bergurau di waktu santai atau senggang.
Pada mulanya, semakin tua umur dan semakin tinggi status sosial seseorang, maka orang tersebut akan semakin dituntut untuk dapat menguasai pantun dengan tema tertentu.
Sebagai orang yang dituakan, maka orang tersebut harus menguasai pantun nasihat, menguasai pantun adat bagi pemangku adat, menguasai pantun tentang agama bagi pemuka agama, dan lain sebagainya.
Sementara itu, bagi para remaja, penguasaan pantun di zaman dulu menjadi tuntutan agar terhindar dari bahan ejekan dalam suatu pergaulan, terutama dalam kegiatan berbalas pantun yang biasanya diselipkan dalam berbagai acara.
Namun saat ini, penggunaan pantun karmina justru lebih sering dalam kehidupan sehari-hari bagi anak muda, yaitu dengan memanfaatkan layanan pesan singkat seperti chatting, caption, atau bercandaan, dan sebagainya.
Di era saat ini, perkembangan pantun karmina juga sudah banyak mengalami perubahan yang tidak terlalu taat pada aturan-aturan berpantun yang begitu ketat.
Terlebih, banyak kalangan muda yang kreatif dalam menggunakan karmina sebagai plesetan humor yang menggelitik untuk didengar.
Contoh Pantun Karmina
Berikut adalah daftar contoh pantun karmina dengan berbagai tema yang menarik:
Dahulu parang sekarang besi, Dahulu sayang sekarang benci.
Sudah gaharu cendana pula, Sudah tahu bertanya pula.
Kayu lurus dalam lalang, Kerbau kurus banyak tulang.
Ada ubi ada talas, Ada budi ada balas.
Banyak udang banyak garam, Banyak orang banyak ragam.
Lain dulang lain kakinya, Lain orang lain hatinya.
Pinggan tak retak nasi tak dingin, Tuan tak kehendak kami tak ingin.
Ujung bendul dalam semak, Kerbau mandul banyak lemak.
Gendang gendut tali kecapi, Kenyang perut senanglah hati.
Sebab pulut santan binasa, Sebab mulut badan binasa.
Ikan kakap makan kepompong, Banyak cakap suka berbohong.
Ada jelaga di kereta, Mata terjaga hati tertata.
Tari saman indah gerakannya, Tanda iman lapang dadanya.
Bunga mawar bunga kenanga, Apa kabar kawan semua?
Potong bebek angsa masak di kuali, Kamu punya siapa kok cakep sekali.
Makan rendang minum jamu, Aku datang hanya untukmu.
Ada itik di atas atap, Dulu cantik sekarang tetap.
Burung gelatik di pohon pepaya, Kamu cantik siapa yang punya?
Pohon bayam pohon rumput, Dapat salam dari cewek imut.
Dalam nampan ada pepaya, Kamu tampan banyak yang suka.
Empat dikali empat enam belas Sempat tidak sempat harus balas.
Burung perkutut burung kutilang, Kamu kentut tidak bilang-bilang.
Dari Sabang sampai Merauke, Wajah abang memang oke.
Satu menit enam puluh detik, Kamu genit tapi cantik.
Baju batik baunya apek, Kamu cantik hatiku klepek-klepek.
Tidur siang pakai selimut, Hai sayang, kamu memang imut.
Bikin peti pakai kayu, Pasti lagi mikirin aku.
Minum sekoteng bersama raja, Orangnya ganteng rajin bekerja.
Dua sampan di atas papan, Sudah tampan hidupnya mapan.
Kembang sepatu berbau wangi, Cinta suciku seindah pelangi.
Buah duku buah jeruk, Semoga hariku tak lagi buruk.
Pak haji pakai sorban, Terima kasih sudah berkorban.
Burung elang burung kutilang, Saya pulang membawa uang.
Rumah kosong banyak petaka, Kamu bohong masuk neraka.
Air panas di dalam panci, Kurang pantas memuji diri.
Tiada umat sepandai nabi, Tuntutlah ilmu sebelum mati.
Ke Mekkah untuk i'tikaf, Kalau salah minta maaf.
Burung cenderawasih burung irian, Terima kasih cukup sekian.
Buah duku buah kedondong, Sudah pemalu suka berbohong.
Kura-kura dalam perahu, Pura-pura tidak tahu.
Lihat kapal berbaris rapat, Mari beramal selagi sempat.
Burung hinggap di atas dahan, Jauhi niat bermegah-megahan.
Kakek tua dipanggil abah, Sikap serakah membawa musibah.
Buah nangka buah tomat, Semoga kita mendapat rahmat.
Pergi ke desa bersama paman, Marilah kita perkuat iman.
Pakai baju yang agak lebar, Tunaikan subuh dengan sabar.
Beli bensin satu tangki, Bersihkan hati dari dengki.
Buah kedondong di dalam gerbong, Jadi orang janganlah sombong.
Buahnya ranum kulitnya luka, Bibir tersenyum banyak yang suka.
Memancing ikan di sekitar alam, Cukup sekian dan wassalam.
Peranan Pantun dalam Kehidupan
Mengutip dari buku Pantun dan Puisi Lama Melayu, Eko Sugiarto (2017:17), selain dalam upacara adat, pantun juga sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama bagi orang tua.
Apabila pembicaraan mengarah pada nasihat, maka pantun-pantun nasihat akan keluar, jika percakapan bersifat candaan dan gurauan, maka pantun-pantun bernada jenaka atau sindiran yang akan diucapkan.
Jika dibandingkan dengan dulu, pantun saat ini menjadi sarana hiburan terutama bagi remaja. Meski tidak sepopuler zaman dulu, pantun masih menjadi hal yang diminati oleh masyarakat.
Berikut beberapa peranan pantun dalam kehidupan sebagaimana dikutip dari buku Kamus Lengkap Pantun Indonesia, Miftah Fauzi (2014:8):
Secara umum, pantun memiliki peran sebagai alat penguat dalam menyampaikan pesan. Di samping itu, adanya pantun juga sebagai pemelihara bahasa. Di mana, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan seseorang dalam menjaga alur berpikir.
Pantun melatih seseorang berpikir tentang makna sebelum berujar. Selain itu, dengan berpantun seseorang akan belajar berpendapat secara asosiatif, bahwa suatu kata dapat memiliki keterkaitan dengan kata yang lain.
Secara sosial, seseorang yang bisa berpantun biasanya akan dihargai, karena pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain dengan kata-kata.
Itulah sederet contoh pantun karmina dan penjelasannya. Keberadaan pantun karmina masih sering dipakai masyarakat sampai sekarang. Semakin berkembangnya zaman dan teknologi, karmina menjadi cara berkomunikasi yang sudah banyak mendapat modifikasi. (fat)
baca juga: 191 Contoh Pantun Nasehat yang Menenteramkan Hati
