Konten dari Pengguna

6 Puisi Hujan Singkat yang Menggugah Hati

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kumpulan Puisi Hujan Singkat, https://unsplash.com/@osmanrana
zoom-in-whitePerbesar
Kumpulan Puisi Hujan Singkat, https://unsplash.com/@osmanrana

Membaca puisi hujan singkat yang memiliki arti filosofis yang dalam bisa melegakan pikiran yang sedang suntuk. Apalagi jika akhir- akhir ini sering kali hujan turun sehingga terasa sangat relate dengan perasaan hati.

Untuk kamu yang suka dengan hujan dan selalu memikirkan sesuatu di kala hujan, perlu membaca kumpulan puisi hujan singkat di bawah ini.

Kumpulan Puisi Hujan Singkat

hatiKumpulan Puisi Hujan Singkat, https://unsplash.com/@ewitsoe

Puisi hujan singkat tak hanya bisa menggambarkan kesedihan. Namun bagi penyair puisi, hujan memiliki banyak makna yang bisa dikembangkan menjadi kalimat- kalimat yang indah.

Inilah deretan puisi hujan singkat yang dapat menggugah hatimu dikuti dari buku Sajak Sajak Sunyi, Budhi Setyawan, (2017) dan Himne Senja Penulis, Guru Bahasa Indonesia SMK Kabupaten Kendal (2019) :

1. Buah Hujan

Hujan pun runtuh dari dahan dahan awan

Membawa pesan haru jantung laut

Selepas melewati udara kota desa dan hutan

Menyadap bermacam kisah yang membuat waktu hanyut

Lapis kelopak kenangan perlahan membuka dan mekar

Seperti tersentuhi pekabaran, panggilan nyanyian surga

Yang mencurah mencipta sajak dalam arus memusar

Menyuburkan kata kata yang menggelombang cahaya

Mengapa doa doa bumi telah memanggilnya turun

Karena mimpi api telah terlampau kuasa menjalar

Maka pohon langit melepaskan ranum buah rimbun

Sebelum semesta menyerpih terhampar terbakar

2. Doa di Bawah Hujan

Petir memekik merobek sepi

Saat angin melindapkan irama hari

Dan kilat yang menjalari langit

Menjadi obor bagi kuncup cemas

Lalu mendung yang tergantung melepaskan

Pegangannya dari pundak langit yang hening

Jatuh menjadi serbuk nyala rindu

Menggenangi remah waktu

Kupejamkan mataku dengan keras

Hingga aku tak lagi tahu

Mana yang lebih deras

Air hujan atau air mataku

Tetes tetesnya menghidupkan mata air

Ayat ayat yang mengalir menyirami

Pohon pohon anggur

Di kebun keabadian

3. Dalam Hujan, Oleh : Cornado Setyo Sakti

Ada rindu, mengharu biru

Ada kata, terselip dalam tanya

Ada resah, berubah jadi gelisah

Ada sedih, terasa pedih

Ada gembira, diujung cerita

Jika tanya, menjadi mengapa

Jika rasa, menjadi duka

Jika pilu, menjadi kelambu

Jika sangkaan, sebatas gurauan

Jika harapan, sebatas impian

Dalam hujan….

Izinkan aku menjadi kekasihmu

Menunggu tanpa tahu

Pelangi di ujung waktu

4. Hujan Malam Ini, Oleh : Endang Nuraini

Malam ini hujan kembali mengguyur

Menghapus segala gundah yang menggelayut

Menepis segala resah yang mendesah

Membasuh duka, lara, nestapa

Menangis bersama hujan

Kan sembunyikan kepedihan

Kerisauan

Keputusasaan

Malam ini hujan kembali mengguyur

Meratapi siang yang congkak

Penuh kemunafikan

Tipu daya

Keangkaramurkaan

Malam ini hujan kembali mengguyur

Menuntun kita

Melupakan masa lalu

Mengubur perihnya luka

Mengais mimpi yang terkoyak

Merajut asa yang tersisa

5. Teh Hangat dan Hujan , Oleh Wahyu Wiji Sayekti

Kubungkus rapat, sekali.

Sampai tak ada yang curi dengar,

Tak ada mata-mata,

Atau bahkan yang bertanya pura-pura.

Teh hangat dan hujan,

Cukuplah mereka saja,

Tidak dengan yang lain.

Sembari menghabiskan detik pada jam dinding besar itu,

Kubungkus rapat semua rapal yang keluar dari suaramu dan suaraku.

Mari habiskan sisa hujan kemarin,

Hingga tegukan terakhir pada hangat gelas kita.

Lalu biarkan mereka bertanya-tanya. . .

6. Petrikor, Oleh : Zesty Dyanda

Siapa bilang hujan penuh kenangan?

Tapi itu benar adanya

Lalu aku harus berlama-lama menunggu ia turun

Demi secangkir aroma memori yang menyeruak dalam ruangan

Bagiku, selepas hari tak ada dirimu sudah cukup sulit menemukan waktu tanpa mengingatmu Mustahil tanpa mengenang kepulan pembicaraan berdua ketika bertemu

Entah itu diwakilkan kata-kata, atau hanya tatapan mata yang berbicara

Setiap detiknya bergerak, setiap itu pula rindu berdetak.

Berandai-andai apabila aku menahan kau saat lepas.

Berandai-andai aku cukup mampu merampas

Bisakah kita menjadi sepasang yang lebih pantas?

Atau kita memang hanya cukup sebatas bukan siapa-siapa meski lebih dari melampaui batas?

Kau adalah lawan yang cukup berat, jika ada yang bertarung tentang rasa nyaman

Kau memelukku erat dan memberikan rasa aman

Namun yang kuherankan, kita masih saja tak pernah lebih dari sekadar teman

Yang tak boleh tersorot saat keramaian

Contoh puisi hujan singkat yang menggugah hati dan bermakna apalagi jika Kamu baca saat sendiri. Selamat membaca!(dyan)