Konten dari Pengguna

6 Puisi Ibu Singkat 4 Bait yang Mengharukan

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi Ibu Singkat 4 Bait, Foto: Pexels/Daria Obymaha.
zoom-in-whitePerbesar
Puisi Ibu Singkat 4 Bait, Foto: Pexels/Daria Obymaha.

Seseorang di dunia ini yang patut kita cintai dan hormati adalah ibu. Sosok tersebut bagaikan malaikat yang diberikan ke dalam dunia ini bagi masing-masing diri kita. Kita bisa membalas kebaikan hati ibu dengan selalu menyenangkan hatinya dan berada di sisinya. Selain itu, kita juga bisa menyatakan rasa sayang kita dengan membuat puisi ibu singkat 4 bait, dimana dalam puisi ini akan digambarkan perasaan cinta kasih atas segala pengorbanan ibu untuk kita.

Berikut adalah kumpulan puisi yang didedikasikan untuk ibu yang telah banyak rela berkorban untuk kita, disadur dari buku Antologi Puisi Kasih Ibu Sepanjang Masa oleh Dahlia Damayanti Sholikhah, dkk (2021:12-23):

Puisi Ibu Singkat 4 Bait yang Mengharu Biru

Puisi Ibu Singkat 4 Bait, Foto: Pexels/Andrea Piacquadio.

Syair untuk Ibu

Ibu setiap rintikkan air matamu

Menyadarkan diriku atas perbuatanku

Pengorbanan yang telah kau berikan untukku

Selalu ku kenang sepanjang hidupku

Di bawah redupnya pelita malam

Kurebahkan kepalaku di pangkuanmu

Aku merasakan hati yang penuh ketenangan

Lewat belaian hangat tangan halusmu

Ibu

Kaulah jantung dan hatiku

Darahmu mengalir deras di tubuhku

Semua tentang lukamu terikat di batinku

Kutuliskan syair ini untukmu ibu

Dengan bait yang langsung terhubung denganmu

Dikiasi oleh goresan pena yang indah

Syair ini akan selalu mewarnai hidupmu

Teruntuk Ibunda

Semilir sarayu yang bersibak dalam afsun swastamita

Tak memupuskan langkah bunda tuk menyiratkan afeksinya

Setiap malam, kidung harsa terdengar manis dalam ruang hampa

Tanpa harap eulogil walau peluh melumpuhkan sekujur atma

Kalbuku berdegup memandang wajah cantikmu seakan tiada beban

Tutur manismu mampu mengiringi seluk-beluk kehidupan

Meredum tamparan perkara yang mengantui kalbu; berhamburan

Hingga atma berdaya melampaui liku buana kian pagan

Di tengah penghujung malam, terselip doa walau derai menerpa

Memanjatkan doa teruntuk bunda yang menyuguhkan afeksi amerta

Tak lesap dirimu dalam jelma seram yang merisaukan asa

Meninabobokan elegi menjadi nirwarna dalam candramawa

Mungkin, aksara dalam pena ini tak sebanding adorasimu kian Nirmala

Walau netra menatapku sebagai insan apatis tak berperasa

Kau menatapku laksana insan anindita tanpa dosa

Oh Tuhan, mampukah hamba mengabdi jasa bunda yang tak mampu ku jangka?

Pusii Ibu Singkat 4 Bait, Foto: Pexels/William Fortunato.

Bidadari pergi tak berpamit

Jerit kalbu memekik pilu

Duka selaksa kian terasa

Wajah berseri kini pucat paci

Belai tangan takkan terasa lagi

Dalam sepi kuratapi

Kasih pergi tanpa permisi

Terisak tangis tersembunyi

Bayang gelap pun menyelimuti

Kendati banyak mata mengasihani

Sosok putri kini seorang diri

Teringat pesan yang kau ajari

Ingatlah Tuhan bahwa kau tak sendiri

Teruntuk segala hal yang kamu torehkan

Kata yang tak sempat kuucapkan

Terima kasih semesta telah menghadirkan

Bidadari terindah dalam kehidupan

Ibuku

Tak kan kulupakan jasamu ibu

Kau mengandungku, melahirkanku

Resah, gelisah menjadi satu

Kau rasakan di dalam kalbu

Setiap waktu berjalan

Pekerjaanmu begitu melelahkan

Walau lelah keringat bercucuran

Tak pernah engkau keluhkan

Ibu…

Kau curahkan cinta kasihmu

Kau belai dengan sentuhan lembutmu

Mendidikku dengan kasih sayangmu

Agar aku menjadi maju

Ibu…

Tak hentinya aku membuatmu marah

Hingga kamu menjadi gundah

Namun, engkau tetap tabah

Tersenyum ramah tanpa keluh kesah

Dirgahayulah ibunda

Salam baktimu Ananda

Teriring ucapan doa

Semoga Tuhan mengabulkannya

Pahlawan Pertama

Deraian berevolusi mengajarkan butiran arsih

Membentuk populasi mengundang cerita bersih

Melambung cerita indung fantasi bersimpuh sedih

Inspirasi termaktub insolven kuat bertanding gigih

Konstruktif membangun ufuk suar tiada berlebih

Memakan lahap suka duka habis tiada serpih

Ladang cinta kasih berbentuk madrasah tanpa berpilih

Naim membimbing relung pancur harap tidak pamrih

Nasehat elok bertentangan harapan bersorak sampai berbuih

Relevansi kuat menyambung sendir pamer alot terlatih

Pancang akhlak tanamkan anak lumur berjerih

Panduan ibu melodramatis, biarkan ia tidak bersedih

Lembut, Sayup, Tua Renta

Kala mata terbuka

Kala hati menitihkan air mata

Kala dunia menghujat dan menghina

Tapi kau akan selalu datang membela

Tak jarang pula aku menyuruhmu tanpa rasa malu

Menambah bebanmu yang gak sedikitpun aku bantu

Membentakmu dengan mimik kesalku

Hanya karena sepasang baju yang belum sempat dilipat untuk sekolahku

Apa harus dengan kehilanganmu aku akan tersadar?

Apa harus dengan membiarkanmu tergeletak di lantai aku akan mengerti?

Apa harus dengan melihatmu tak lagi diisi aku akan berubah?

Aku tak sanggup lagi, walau hanya mengkhayal sendiri.(Ester)

Baca juga : 14 Contoh Puisi Ibu yang Memiliki Makna Menyentuh