7 Kata-Kata Sindiran Bahasa Jawa Kasar dan Terjemahannya

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang Jawa terkenal sebagai pribadi yang tidak enakan dan enggan berterus terang. Saat merasa kesal, mereka biasanya melontarkan kata-kata sindiran bahasa Jawa yang terdengar halus tetapi menyakitkan.
Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian sindiran adalah perkataan (gambar dsb.) yang bermaksud menyindir orang, celaan (ejekan dsb.) yang tidak langsung.
Dalam bahasa Jawa, sindiran halus biasanya menggunakan basa kromo madya (tingkat menengah) dan kromo inggil (tingkat tinggi), serta dibumbui dengan peribahasa Jawa kuno. Namun, ada juga yang menggunakan sindiran kasar dalam bahasa Jawa tingkat bawah atau ngoko.
Kata-Kata Sindiran Bahasa Jawa
Berbeda dengan sindiran halus yang diungkapkan secara tidak langsung, kata-kata sindiran bahasa Jawa kasar menggunakan basa ngoko (tingkatan bahasa Jawa kasar) untuk mengungkapkan kekecewaannya yang digunakan di lingkungan pergaulan teman sebaya.
Sindiran jenis ini mengekspresikan kekesalan secara langsung atau terang-terangan, tanpa perlu menyembunyikan maksud dibalik kata-kata halus. Nah, berikut ini beberapa kata-kata sindiran bahasa Jawa kasar:
“Ngaku konco kok gur pengen nuntut mulyo, pas konco ciloko malah lungo.” (Mengaku teman tapi hanya menuntut kemuliaan, tetapi ketika teman celaka malah pergi).
“Konco plek; susah seneng bareng, gelem dijak soro, ora lali konco lawas. Konco taek; ono pas butuh tok, sak karepe dewe.” (Teman karib, susahnya bahagia bersama, mau diajak, jangan lupakan teman lama. Temen t** saat butuh saja, maunya sendiri).
“Lek seneng podo lali kabeh! Tapi lak susah podo takon posisi.” (Kalau senang semua lupa! Tetapi saat susah semuanya nanya posisi).
“Sesuk tak tumbasno cakram rem. Ben cocotmu ora blong. Tuman!” (Besok kubelikan cakram rem. Agar mulutmu tidak sembarangan. Kebisaan!).
“Nek kowe ora nduwe sego, ojo mangan konco.” (Kalau tidak punya nasi, jangan makan teman).
“Nek ngomong ojo manis-manis. Ngko sing krungu ndak dadi diabetes.” (Kalau bicara jangan terlalu manis. Agar yang dengerin tidak diabetes).
“Atose watu akik isih kalah karo atose omonganmu.” (Kerasnya batu masih kalau dengan kerasnya bicaramu).
Dalam khazanah kebahasaan, bahasa Jawa memang memiliki perbendaharaan kata yang unik dan sangat luas. Seperti dalam penggunaan kata-kata sindiran bahasa Jawa di kehidupan sehari-hari yang juga memperhatikan tingkatan bahasanya. (LAIL)
Baca juga: 13 Kata-kata Jawa Penuh Makna tentang Kehidupan sebagai Perenungan
