7 Kumpulan Puisi Rembulan yang Menyentuh Hati

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
Konten dari Pengguna
13 Mei 2022 15:46
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
7 Kumpulan Puisi Rembulan yang Menyentuh Hati (29921)
zoom-in-whitePerbesar
Puisi Rembulan, Foto: Pexels/David Besh
Mengutip dari situs elibrary.unikom, puisi adalah rangkaian kata-kata yang diperoleh dari hasil pikiran dan perasaan seseorang yang dituangkan ke dalam bahasa yang indah dan terstruktur. Di dalam puisi terdiri atas unsur-unsur seperti imajinasi, pemilihan kata, pemikiran, nada dan rasa. Berbagai tema atau objek bisa dijadikan bahan puisi, misalnya puisi rembulan.
ADVERTISEMENT
Kumpulan puisi rembulan dalam artikel ini bisa kamu bagikan di media sosial atau hanya sekedar untuk pemanis dalam buku harianmu untuk menunjukkan kekagumanmu pada rembulan yamg indah memukau.

Puisi Rembulan yang Menyentuh Hati

Rembulan itu memiliki arti sama dengan bulan. Benda langit yang memancarkan cahaya terang di malam hari. Benda yang memberikan gemerlap cahaya kehidupan pada malam yang gelap gulita.
Dikutip dari situs interestingliterature dan mengutip beberapa puisi tokoh ternama, di bawah ini beberapa kumpulan puisi rembulan yang menyentuh hati, untuk mengekspresikan perasaan kagummu pada sang rembulan yang indah dan menawan.
  1. Selama Bulan Menyinari Dadanya – Chairil Anwar Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam ranjang padang putih tiada batas sepilah panggil-panggilan antara aku dan mereka yang bertolak Aku bukan lagi si cilik tidak tahu jalan di hadapan berpuluh lorong dan gang menimbang: ini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan “pas bebas” Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam ranjang padang putih tiada batas sepilah panggil-panggilan antara aku dan mereka yang bertolak Juga ibuku yang berjanji tidak meninggalkan sekoci. Lihatlah cinta jingga luntur: Dan aku yang pilih tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur rumah tersembunyi dalam cemara rindang tinggi pada jendela kaca tiada bayangan datang mengambang Gundu, gasing, kuda-kudaan, kapal-kapalan di zaman kanak, Lihatlah cinta jingga luntur: Kalau datang nanti topan ajaib menggulingkan gundu, memutarkan gasing memacu kuda-kudaan, menghembus kapal-kapalan aku sudah lebih dulu kaku.
  2. Bulan Hanyalah Dagu Emas – Emily Dickinson Bulan hanyalah Dagu Emas Satu atau dua malam yang lalu Dan sekarang dia mengubah Wajahnya yang sempurna ke Dunia di bawah Dahinya dari Pirang TerbesarPipinya pahatan Beryl Matanya ke Embun Musim Panas Yang paling kukenal Bibir Ambernya tidak pernah berpisah Tapi apa yang harus menjadi senyuman pada Temannya yang bisa dia berikan Apakah Kehendak Peraknya seperti itu
  3. Nyanyian Untuk Bulan – Mary Wortley Montagu Anda dewa perak malam rahasia, Arahkan langkah kaki saya melalui naungan hutan; Anda saksi sadar kegembiraan yang tidak diketahui, wali Kekasih, dan bantuan Muse! Dengan sinar pucatmu aku menjelajah sendirian, Kepadamu kesedihanku yang lembut curhat; Sangat manis, Anda menyepuh hutan yang sunyi, Teman saya, dewi saya, dan pemandu saya
  4. Bulan Purnama – Kahlil Gibran Bulan purnama muncul dengan anggun di atas kota. Semua anjing di kota itu melolong memanggil bulan. Hanya seekor yang tidak menggonggong. Ia berkata pada yang lain, “Jangan kau bangunkan rembulan dari tidurnya yang hening, dan jangan paksa bulan ke bumi dengan gonggonganmu.” Kemudian semua anjing berhenti menggonggong. Namun anjing yang berbicara pada mereka malah menggonggong untuk mengusir kesunyian selama sisa malam itu.
  5. Ke Bulan – Percy Bysshe Shelley Apakah kamu pucat karena lelah Mendaki surga dan menatap bumi, Berkeliaran tanpa teman Di antara bintang-bintang yang memiliki kelahiran berbeda, Dan selalu berubah, seperti mata tanpa kegembiraan Yang tidak menemukan objek yang sepadan dengan keteguhannya?
  6. Bulan Terbit – Gerard Manley Hopkins Bulan, menyusut dan menipis hingga ujung kuku jari yang menempel pada lilin, Atau mengupas buah surga, indah dalam memudarnya tetapi tidak berkilau Melangkah dari bangku, mundur dari gerobak, dari Maenefa gunung yang gelap Sebuah titik puncak masih menggenggamnya, sebuah kebetulan namun menancapkannya, menjeratnya, tidak berhenti sama sekali
  7. Bulan Terbenam – Carl Sandburg Pohon poplar memilih cetakan Jepang di barat. Pasir bulan di kanal menggandakan gambar yang berubah. Gambar akhir perpisahan bulan. Barat kosong. Semua yang lain kosong. Tidak ada pembicaraan bulan sama sekali sekarang. Hanya gelap mendengarkan gelap.
ADVERTISEMENT
Ketika menuliskan puisi harus dengan perasaan dan murni dari hati. Bukan hanya kata-kata asal yang tak bermakna. Puisi memiliki ciri khas bahasa yang indah dan juga menyentuh hati yang membacanya, seperti puisi rembulan di atas.(Ifra)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020