Tembang Megatruh: Pengertian, Watak, dan Contohnya

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tembang megatruh merupakan salah satu jenis tembang macapat yang isinya berkaitan dengan kesedihan. Hal itu bahkan tergambar dari penamaannya yang terdiri atas tiga kata yaitu am, pegat, dan ruh.
Kata tersebut memiliki makna mendalam mengenai kehidupan manusia. Sebagai informasi, pembuatan tembang ini harus sesuai pakem, seperti halnya penulisan puisi berbahasa Indonesia.
Bagian akhirnya bahkan dibuat berpola sehingga indah ketika dibaca atau dilagukan. Bukan hanya itu, jumlah barisnya bahkan diatur dengan jumlah tertentu.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian dan Watak Tembang Megatruh
Sebelumnya telah disinggung bahwa kata megatruh terdiri dari kata am, gat, dan ruh. Jika digabungkan, kata tersebut diartikan melepas ruh atau roh.
Dikutip dalam buku Peran Bahasa Jawa dalam Pengajaran Bahasa Indonesia, halaman 36, maksud dari melepas ruh adalah seorang yang telah meninggal dunia.
Lebih lanjutnya, dalam serat parwaukara, dijelaskan bahwa am, pegat, dan ruh dimaknai dengan munculnya hal yang sifatnya buruk.
Berdasarkan hal itu, tembang megatruh memiliki watak sedih, putus asa, terpuruk, berduka, pedih, prihatin, penyesalan, dan hilang harapan.
Aturan penulisannya menggunakan guru gatra 5 baris. Setiap barisnya terdiri dari guru wilangan 12, 8, 8, 8, dan guru lagunya u,i,u,i,o.
Contoh Tembang Megatruh
Supaya lebih paham dengan karakteristik tembang megatruh, simak beberapa contohnya pada ulasan berikut:
1. Contoh 1
Dhuh dhuh Dewa Bathara ingkang linuhung
Mugi paringa aksami
Mring dasih kang wlas ayun
Kasangsaya gung prihatin
Sru nalangsa jroning batos
Terjemah:
Ya Tuhan yang Maha Luhur
Berikanlah pertolongan
Kepada orang yang membutuhkan
Lebih-lebih kepada yang sangat kekurangan
Begitu sedih di dalam hati melihatnya
2. Contoh 2
Hawya pegat ngudiya ronging budyayu
Margane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang taberi prihatos
Terjemah:
Jangan berhenti berusahalah berbuat kebenaran
Jalan untuk mendapatkan kesenangan dan keselamatan
Supaya tercapai semua yang diinginakn
Supaya terhindari tindakan diinginkan
Selalulah tekun hidup prihatin
3. Contoh 3
Aja sipat tan pegat siyang myang dalu
Amuwun ing ngarsa mami
Nora pajar kang kinayun
Lah mara sira den aglis
Tutura mringjeneng ingong
Terjemah:
Jangan memiliki keinginan memisahkan siang dan malam
Menangislah dihadapan saya
Tidak jelas yang diinginkan
Segeralah datang dia dengan cepat
Berkatalah dengan namaku
4. Contoh 4
Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedhahen kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon
(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)
Terjemah:
Lihatlah sampai mampu menemukan
Periksalah dengan sungguh-sungguh (cermat/teliti)
Telitilah jangan sampai keliru
Selaraskanlah di dalam hati
Supaya mudah menanggapi segala sesuatu
5. Contoh 5
Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon
(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)
Terjemah:
Lakukanlah dengan kesabaran hati
Jika beranjak sungguh mengerikan
Kesurupan hantu gundul
Memberikan godaan dengan membawa kendi
Isinya uang yang sangat banyak
6. Contoh 6
Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatineng isi
Isine cipta sayektos
(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)
Terjemah:
Tempatnya bersemayam di hati yang selamat
Melindungi hati yang bersih
Heningnya hati atau keinginan yang kosong
Tetapi aslinya berisi
Isinya keinginan yang baik
7. Contoh 7
Sigra milir sang gethek sinangga bajul
Kawan dasa kang njageni
Ing ngarsamiwah ing pungkur
Tanapi ing kanan kering
Sang gethek lampahnya alon
Terjemah:
Terlihat kapal berjalan didorong buaya
Empat puluh yang menjaganya
Di depan sekaligus di belakang
Begitu juga di sisi kiri dan kanan
Kapal berjalan lambat
8. Contoh 8
Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon
(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)
Terjemah:
Bila tergoda oleh perbuatan yang jelek
Menjadi sarangnya iblis
Masuk di alam yang menyesusahkan
Malulah pada kebersihan hati
Akhirnya menjadi mabuk tak terkendali
9. Contoh 9
Nalikane mripat iki wis ketutup
Nana sing bisa nulungi
Kajaba laku kang luhur
Kang ditampi marang Gusti
Aja ngibadah kang awon
Terjemah:
Ketika mata ini sudah tertutup
Tidak ada yang mampu menolong
Kecuali amal kebaikan
Yang diterima oleh Tuhan
Jangan beribadah yang salah
10. Contoh 10
Jeng Pangeran pinikul ana ing tandhu
Nanging pijer ora eling
Sawise adoh lan mungsuh
Lan wis ora nguwatiri
Padha leren alon-alon
Terjemah:
Seorang Raja dipikul dengan menggunakan tandu
Namun tetap tidak sadar
Setelah jauh dan musuh
Dan sudah tidak mengkhawatirkan
Semua istirahat pelan-pelan
11. Contoh 11
Kabeh iku mung manungsa kang pinujul
Marga duwe lahir batin
Jroning urip iku mau
Isi ati klawan budi
Iku pirantine ewong
Terjemah:
Semua itu sebatas manusia yang paling unggul
Karena mempunyai lahir batin
Dalam kehidupannya itu
Isi hati dengan budi
Itulah kelengkapan yang dipunyai manusia
12. Contoh 12
Mangkanyata wicarane sepet madu
Sesadone adu manis
Memanis yen gumuyu
Ayu rahayu ning dhiri
Widagda nganggit lelakon
Terjemah:
Ternyata ucapannya semanis madu
Ini pertarungan yang manis
Rasanya manis saat kamu tertawa
Berbahagialah dalam dirimu sendiri
Widagda bercerita
Tembang Megatruh yang Terdapat dalam Serat Wulangreh
Serat Wulangreh merupakan karya sastra berupa tembang macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta. Jika dimaknai perkatanya, kata Wulang (pitutur) berarti ajaran, Reh artinya jalan, aturan dan laku cara mencapai atau tuntutan.
Sementara jika kedua kata tersebut digabungkan, maka Wulang Reh dapat dimaknai ajaran untuk mencapai sesuatu. Sesuatu yang dimaksud dalam karya ini adalah laku menuju hidup harmoni atau sempurna.
Membahas terkait tembang megatruh dalam Serat Wulangreh, berikut poin-poin pentingnya yang sudah disertai terjemahnya:
Wong ngawula ing ratu luwih pakewuh, nora kena minggrang-minggring, kudu mantep sartanipun, setya tuhu marang gusti, dipunmiturut sapakon.
Terjemah: Mengabdi kepada raja memang amat repot, tidak boleh ragu-ragu dan harus mantap, serta setia dan percaya kepada raja)
Mapan ratu kinarya wakil hyang agung, marentahaken hukum adil, pramila wajib den enut, sing sapa tan manut ugi, ing parentahe sang katong.
Terjemah: Karena raja adalah wakil yang Maha Agung, ia menjalankan hukum yang adil, maka wajib menaati, bahkan mereka yang tidak menaati perintah raja.
Aprasasat mbadali karseng hyang agung, mulane babo wong urip, saparsa suwiteng ratu, kudu eklas lair batin, aja nganti nemu ewoh.
Terjemah: Ibarat ingkar dari yang mahaagung. Oleh karena itu, setiap yang mengabdi kepada raja harus ikhlas lahir batrin agar tidak mendapat kesulitan
Ing wurine yen ati durung tuwajuh, angur sira ngabdi, becik ngidunga karuhun, aja age nuli ngabdi, yen durung eklas ing batos.
Terjemah: Di belakang hari, jika hati belum bulat jangan kau mengabdi, lebih baik jika menumpang tinggal dulu jangan kemudian mengabdi jika batin belum pasrah.
Anggur ngindung bae pan nora pakewuh, lan nora nana kang ngiri, amungkul pakaryanipun, nora susah tungguk kemit, seba apan nora nganggo.
Terjemah: Lebih baik menumpang tinggal agar tidak susah dan tidak ada ayang memerintah, tekun bekerja, tidak perlu bertugas jaga, bahkan tidak perlu menghadap.
Mung yen ana tongtonan metu ing lurung, kemul bebede sasisih, sarwi mbanda tanganipun, glindhang-glindhung tanpa keris, andhodhok pinggiring bango.
Terjemah: Cuma jika ada keramaian tontonan di jalan, keluar dengan kain bebed sebelah sambil bersilang tangan, hilir mudik tanpa keris, duduk di pinggir warung)
Suprandene jroning tyas, anglir tumenggung, mengku bawat senen kemis, mankono iku liripun, nora kaya wong ngabdi, wruh plataraning sang katong.
Terjemah: Meskipun demikian, di dalam hatinya merasa sebagai seorang tumenggung yang berpatyung kebesaran. Sikap seperti itu bukanlah sikap pengabdi yang setiap hari hanya melikat halaman istana.
Lan keringan sarta ana aranipun, lan ana lungguhe ugi, ing salungguh-lungguhipun, nanging ta dipunpakeling, mulane pinardi kang wong.
Terjemah: Yang terhormat, memiliki gelar dan kedudukan. Tetapi ingat, orang yang mengabdi itu harus memperhatikan.
Samubarang karyanira sang aprabu, sayekti kudu nglakoni, sapalakartine iku, wong kang padha-padha ngabdi, panggaweyane pan saos.
Terjemah: Seluruh perintah raja harus dilaksanakan, karena kewajiban mengabdi adalah menghadap dan menantikan perintah raja.
Kang nyantana bupati mantri panewu, kliwon peneket miji, panalaweyan pananjung, tanapi para prajurit, lan kang nambut karyeng katong.
Terjemah: Baik yang mengadi sebagai bupati, mantra, penewu, kliwon, peneket, miji, panalawe, pananjung, maupun prajurit dan yang bekerja pada raja)
Kabeh iku kawajiban sebanipun, ing dina kang amarengi, wiyosanira sang aprabu, sanadyan tan miyos ugi, pasebane aja towong.
Terjemah: Semua memiliki kewajiban untuk menghadap pada hari yang bersamaan pada saat raja bersidang. Sekalipun tidak ikut bersidang, jangan (dijadikan alasan untuk) tidak menghadap.
Ingkang lumrah yen karep seba wong iku, nuli ganjaran den icih, yen tan oleh nuli mutung, iku sewu sisip, yen wus mangerti ingkang wong.
Terjemah: Biasanya, orang yang rajin menghadap itu mengharapkan mendapat hadiah, jika tidak mendapat hadiah, ia ngambek. (sikap seperti itu) keliru bagi orang yang bijak.
Tan mangkono etunge kang uwis weruh, ganjaran datan pinikir, ganjaran pan wus rumuhun, amung naur sihing gusti, winales ing lair batos.
Terjemah: Bagi yang sudah mengetahui, perhitungannya tidak begitu, masalah hadiah tidak dipikirkan, karena hadiah sebenarnya sudah diterima terlebih dahulu, sehingga tinggal membalas kebaikan raja dengan lahir batin.
Setya tuhu marang saprentahe pan manut, ywa lenggana karseng gusti, wong ngawula paminipun, lir sarah mungging jaladri, darma lumampah sapakon.
Terjemah: Melaksanakan segala perintah raja. Jangan membantah kehendak raja. Orang mengabdi ibarat sampah di samudra, hanya sekedar menjalankan
Dene begja cilaka utawa luhur, asor iku pan wus pasthi, ana ing bebadanira, aja sok amuring muring, marang gusti sang akatong.
Terjemah: Adapun kebahagiaan dan kesengsaraan, ataupun tinggi rendah tergantung pada takdir masing-masing, jangan suka marak kepada raja.
Mundhak ngakehaken ing luputireku, ing gusti tuwin hyang widdhi, dene ta sabeneripun, mupusa kalamun pasthi, ing badan tan kena megoh.
Terjemah: Hal itu akan menambah kesalahan kepada raja serta yang mahakuasa. Yang benar adalah menerima takdir diri, jangan berdiam diri.
Tulisane ing lohkil makful kang rumuhun, pepancen sawiji-wiji, tan kena owah sarambut, tulisan badan puniki, aja na mundur ing kewoh.
Terjemah: Yang sudah tersurat dalam laukhil makfudz tidak dapat diubah barang serambutpun, oleh karena itu jangan mundur meghadapinya (mundur adalah isyarat pola tembang berikutnya, yaitu durma.
Baca juga: 60 Contoh Tembung Kriya Bahasa Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari
Itulah ulasan perihal tembang megatruh beserta contohnya yang bisa dijadikan sebagai bahan belajar Bahasa Jawa tentang tembang macapat jenis megatruh.
