Konten dari Pengguna

Tembang Megatruh: Pengertian, Watak, dan Contohnya

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tembang megatruh. Pexels/Maxime LEVREL
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tembang megatruh. Pexels/Maxime LEVREL

Tembang megatruh merupakan salah satu jenis tembang macapat yang isinya berkaitan dengan kesedihan. Hal itu bahkan tergambar dari penamaannya yang terdiri atas tiga kata yaitu am, pegat, dan ruh.

Kata tersebut memiliki makna mendalam mengenai kehidupan manusia. Sebagai informasi, pembuatan tembang ini harus sesuai pakem, seperti halnya penulisan puisi berbahasa Indonesia.

Bagian akhirnya bahkan dibuat berpola sehingga indah ketika dibaca atau dilagukan. Bukan hanya itu, jumlah barisnya bahkan diatur dengan jumlah tertentu.

Daftar isi

Pengertian dan Watak Tembang Megatruh

Ilustrasi pengertian tembang megatruh. Pexels/Elang Wardhana

Sebelumnya telah disinggung bahwa kata megatruh terdiri dari kata am, gat, dan ruh. Jika digabungkan, kata tersebut diartikan melepas ruh atau roh.

Dikutip dalam buku Peran Bahasa Jawa dalam Pengajaran Bahasa Indonesia, halaman 36, maksud dari melepas ruh adalah seorang yang telah meninggal dunia.

Lebih lanjutnya, dalam serat parwaukara, dijelaskan bahwa am, pegat, dan ruh dimaknai dengan munculnya hal yang sifatnya buruk.

Berdasarkan hal itu, tembang megatruh memiliki watak sedih, putus asa, terpuruk, berduka, pedih, prihatin, penyesalan, dan hilang harapan.

Aturan penulisannya menggunakan guru gatra 5 baris. Setiap barisnya terdiri dari guru wilangan 12, 8, 8, 8, dan guru lagunya u,i,u,i,o.

Contoh Tembang Megatruh

Contoh tembang megatruh. Pexels/Monstera Production

Supaya lebih paham dengan karakteristik tembang megatruh, simak beberapa contohnya pada ulasan berikut:

1. Contoh 1

Dhuh dhuh Dewa Bathara ingkang linuhung

Mugi paringa aksami

Mring dasih kang wlas ayun

Kasangsaya gung prihatin

Sru nalangsa jroning batos

Terjemah:

Ya Tuhan yang Maha Luhur

Berikanlah pertolongan

Kepada orang yang membutuhkan

Lebih-lebih kepada yang sangat kekurangan

Begitu sedih di dalam hati melihatnya

2. Contoh 2

Hawya pegat ngudiya ronging budyayu

Margane suka basuki

Dimen luwar kang kinayun

Kalising panggawe sisip

Ingkang taberi prihatos

Terjemah:

Jangan berhenti berusahalah berbuat kebenaran

Jalan untuk mendapatkan kesenangan dan keselamatan

Supaya tercapai semua yang diinginakn

Supaya terhindari tindakan diinginkan

Selalulah tekun hidup prihatin

3. Contoh 3

Aja sipat tan pegat siyang myang dalu

Amuwun ing ngarsa mami

Nora pajar kang kinayun

Lah mara sira den aglis

Tutura mringjeneng ingong

Terjemah:

Jangan memiliki keinginan memisahkan siang dan malam

Menangislah dihadapan saya

Tidak jelas yang diinginkan

Segeralah datang dia dengan cepat

Berkatalah dengan namaku

4. Contoh 4

Ulatna kang nganti bisane kepangguh

Galedhahen kang sayekti

Talitinen awya kleru

Larasen sajroning ati

Tumanggap dimen tumanggon

(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)

Terjemah:

Lihatlah sampai mampu menemukan

Periksalah dengan sungguh-sungguh (cermat/teliti)

Telitilah jangan sampai keliru

Selaraskanlah di dalam hati

Supaya mudah menanggapi segala sesuatu

5. Contoh 5

Lakonana klawan sabaraning kalbu

Lamun obah niniwasi

Kasusupan setan gundhul

Ambebidung nggawa kendhi

Isine rupiah kethon

(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)

Terjemah:

Lakukanlah dengan kesabaran hati

Jika beranjak sungguh mengerikan

Kesurupan hantu gundul

Memberikan godaan dengan membawa kendi

Isinya uang yang sangat banyak

6. Contoh 6

Pamanggone aneng pangesthi rahayu

Angayomi ing tyas wening

Eninging ati kang suwung

Nanging sejatineng isi

Isine cipta sayektos

(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)

Terjemah:

Tempatnya bersemayam di hati yang selamat

Melindungi hati yang bersih

Heningnya hati atau keinginan yang kosong

Tetapi aslinya berisi

Isinya keinginan yang baik

7. Contoh 7

Sigra milir sang gethek sinangga bajul

Kawan dasa kang njageni

Ing ngarsamiwah ing pungkur

Tanapi ing kanan kering

Sang gethek lampahnya alon

Terjemah:

Terlihat kapal berjalan didorong buaya

Empat puluh yang menjaganya

Di depan sekaligus di belakang

Begitu juga di sisi kiri dan kanan

Kapal berjalan lambat

8. Contoh 8

Lamun nganti korup mring panggawe dudu

Dadi panggonaning iblis

Mlebu mring alam pakewuh

Ewuh mring pananing ati

Temah wuru kabesturon

(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)

Terjemah:

Bila tergoda oleh perbuatan yang jelek

Menjadi sarangnya iblis

Masuk di alam yang menyesusahkan

Malulah pada kebersihan hati

Akhirnya menjadi mabuk tak terkendali

9. Contoh 9

Nalikane mripat iki wis ketutup

Nana sing bisa nulungi

Kajaba laku kang luhur

Kang ditampi marang Gusti

Aja ngibadah kang awon

Terjemah:

Ketika mata ini sudah tertutup

Tidak ada yang mampu menolong

Kecuali amal kebaikan

Yang diterima oleh Tuhan

Jangan beribadah yang salah

10. Contoh 10

Jeng Pangeran pinikul ana ing tandhu

Nanging pijer ora eling

Sawise adoh lan mungsuh

Lan wis ora nguwatiri

Padha leren alon-alon

Terjemah:

Seorang Raja dipikul dengan menggunakan tandu

Namun tetap tidak sadar

Setelah jauh dan musuh

Dan sudah tidak mengkhawatirkan

Semua istirahat pelan-pelan

11. Contoh 11

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul

Marga duwe lahir batin

Jroning urip iku mau

Isi ati klawan budi

Iku pirantine ewong

Terjemah:

Semua itu sebatas manusia yang paling unggul

Karena mempunyai lahir batin

Dalam kehidupannya itu

Isi hati dengan budi

Itulah kelengkapan yang dipunyai manusia

12. Contoh 12

Mangkanyata wicarane sepet madu

Sesadone adu manis

Memanis yen gumuyu

Ayu rahayu ning dhiri

Widagda nganggit lelakon

Terjemah:

Ternyata ucapannya semanis madu

Ini pertarungan yang manis

Rasanya manis saat kamu tertawa

Berbahagialah dalam dirimu sendiri

Widagda bercerita

Tembang Megatruh yang Terdapat dalam Serat Wulangreh

Tembang Megatruh di Serat Wulangreh. Pexels/Arya Krisdyantara

Serat Wulangreh merupakan karya sastra berupa tembang macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta. Jika dimaknai perkatanya, kata Wulang (pitutur) berarti ajaran, Reh artinya jalan, aturan dan laku cara mencapai atau tuntutan.

Sementara jika kedua kata tersebut digabungkan, maka Wulang Reh dapat dimaknai ajaran untuk mencapai sesuatu. Sesuatu yang dimaksud dalam karya ini adalah laku menuju hidup harmoni atau sempurna.

Membahas terkait tembang megatruh dalam Serat Wulangreh, berikut poin-poin pentingnya yang sudah disertai terjemahnya:

  • Wong ngawula ing ratu luwih pakewuh, nora kena minggrang-minggring, kudu mantep sartanipun, setya tuhu marang gusti, dipunmiturut sapakon.

Terjemah: Mengabdi kepada raja memang amat repot, tidak boleh ragu-ragu dan harus mantap, serta setia dan percaya kepada raja)

  • Mapan ratu kinarya wakil hyang agung, marentahaken hukum adil, pramila wajib den enut, sing sapa tan manut ugi, ing parentahe sang katong.

Terjemah: Karena raja adalah wakil yang Maha Agung, ia menjalankan hukum yang adil, maka wajib menaati, bahkan mereka yang tidak menaati perintah raja.

  • Aprasasat mbadali karseng hyang agung, mulane babo wong urip, saparsa suwiteng ratu, kudu eklas lair batin, aja nganti nemu ewoh.

Terjemah: Ibarat ingkar dari yang mahaagung. Oleh karena itu, setiap yang mengabdi kepada raja harus ikhlas lahir batrin agar tidak mendapat kesulitan

  • Ing wurine yen ati durung tuwajuh, angur sira ngabdi, becik ngidunga karuhun, aja age nuli ngabdi, yen durung eklas ing batos.

Terjemah: Di belakang hari, jika hati belum bulat jangan kau mengabdi, lebih baik jika menumpang tinggal dulu jangan kemudian mengabdi jika batin belum pasrah.

  • Anggur ngindung bae pan nora pakewuh, lan nora nana kang ngiri, amungkul pakaryanipun, nora susah tungguk kemit, seba apan nora nganggo.

Terjemah: Lebih baik menumpang tinggal agar tidak susah dan tidak ada ayang memerintah, tekun bekerja, tidak perlu bertugas jaga, bahkan tidak perlu menghadap.

  • Mung yen ana tongtonan metu ing lurung, kemul bebede sasisih, sarwi mbanda tanganipun, glindhang-glindhung tanpa keris, andhodhok pinggiring bango.

Terjemah: Cuma jika ada keramaian tontonan di jalan, keluar dengan kain bebed sebelah sambil bersilang tangan, hilir mudik tanpa keris, duduk di pinggir warung)

  • Suprandene jroning tyas, anglir tumenggung, mengku bawat senen kemis, mankono iku liripun, nora kaya wong ngabdi, wruh plataraning sang katong.

Terjemah: Meskipun demikian, di dalam hatinya merasa sebagai seorang tumenggung yang berpatyung kebesaran. Sikap seperti itu bukanlah sikap pengabdi yang setiap hari hanya melikat halaman istana.

  • Lan keringan sarta ana aranipun, lan ana lungguhe ugi, ing salungguh-lungguhipun, nanging ta dipunpakeling, mulane pinardi kang wong.

Terjemah: Yang terhormat, memiliki gelar dan kedudukan. Tetapi ingat, orang yang mengabdi itu harus memperhatikan.

  • Samubarang karyanira sang aprabu, sayekti kudu nglakoni, sapalakartine iku, wong kang padha-padha ngabdi, panggaweyane pan saos.

Terjemah: Seluruh perintah raja harus dilaksanakan, karena kewajiban mengabdi adalah menghadap dan menantikan perintah raja.

  • Kang nyantana bupati mantri panewu, kliwon peneket miji, panalaweyan pananjung, tanapi para prajurit, lan kang nambut karyeng katong.

Terjemah: Baik yang mengadi sebagai bupati, mantra, penewu, kliwon, peneket, miji, panalawe, pananjung, maupun prajurit dan yang bekerja pada raja)

  • Kabeh iku kawajiban sebanipun, ing dina kang amarengi, wiyosanira sang aprabu, sanadyan tan miyos ugi, pasebane aja towong.

Terjemah: Semua memiliki kewajiban untuk menghadap pada hari yang bersamaan pada saat raja bersidang. Sekalipun tidak ikut bersidang, jangan (dijadikan alasan untuk) tidak menghadap.

  • Ingkang lumrah yen karep seba wong iku, nuli ganjaran den icih, yen tan oleh nuli mutung, iku sewu sisip, yen wus mangerti ingkang wong.

Terjemah: Biasanya, orang yang rajin menghadap itu mengharapkan mendapat hadiah, jika tidak mendapat hadiah, ia ngambek. (sikap seperti itu) keliru bagi orang yang bijak.

  • Tan mangkono etunge kang uwis weruh, ganjaran datan pinikir, ganjaran pan wus rumuhun, amung naur sihing gusti, winales ing lair batos.

Terjemah: Bagi yang sudah mengetahui, perhitungannya tidak begitu, masalah hadiah tidak dipikirkan, karena hadiah sebenarnya sudah diterima terlebih dahulu, sehingga tinggal membalas kebaikan raja dengan lahir batin.

  • Setya tuhu marang saprentahe pan manut, ywa lenggana karseng gusti, wong ngawula paminipun, lir sarah mungging jaladri, darma lumampah sapakon.

Terjemah: Melaksanakan segala perintah raja. Jangan membantah kehendak raja. Orang mengabdi ibarat sampah di samudra, hanya sekedar menjalankan

  • Dene begja cilaka utawa luhur, asor iku pan wus pasthi, ana ing bebadanira, aja sok amuring muring, marang gusti sang akatong.

Terjemah: Adapun kebahagiaan dan kesengsaraan, ataupun tinggi rendah tergantung pada takdir masing-masing, jangan suka marak kepada raja.

  • Mundhak ngakehaken ing luputireku, ing gusti tuwin hyang widdhi, dene ta sabeneripun, mupusa kalamun pasthi, ing badan tan kena megoh.

Terjemah: Hal itu akan menambah kesalahan kepada raja serta yang mahakuasa. Yang benar adalah menerima takdir diri, jangan berdiam diri.

  • Tulisane ing lohkil makful kang rumuhun, pepancen sawiji-wiji, tan kena owah sarambut, tulisan badan puniki, aja na mundur ing kewoh.

Terjemah: Yang sudah tersurat dalam laukhil makfudz tidak dapat diubah barang serambutpun, oleh karena itu jangan mundur meghadapinya (mundur adalah isyarat pola tembang berikutnya, yaitu durma.

Baca juga: 60 Contoh Tembung Kriya Bahasa Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari

Itulah ulasan perihal tembang megatruh beserta contohnya yang bisa dijadikan sebagai bahan belajar Bahasa Jawa tentang tembang macapat jenis megatruh.