Konten dari Pengguna

Rekam Jejak Sang Penggeli Hati: Abu Nawas

Intan Hafidhatun Nisaa

Intan Hafidhatun Nisaa

Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Malang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Intan Hafidhatun Nisaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Abu Nawas Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami
zoom-in-whitePerbesar
Abu Nawas Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami

Dikenal sebagai penyair ulung yang jenaka, Abu Nawas juga merupakan tokoh sufi yang cerdas dan tidak diragukan lagi kesufiannya. Abu Nawas tidak hanya dikenal cerdik, namun juga nyentrik. Ia dilahirkan di kota Ahvaz negeri Persia (sekarang Iran) pada tahun 145 H/747 M dengan nama asli Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai tahun lahir Abu Nawas. Ada yang berpendapat bahwa Abu Nawas lahir pada tahun 726 M dan wafat pada tahun 814 M, ada juga yang menyatakan bahwa ia lahir tahun 756 M dan wafat pada tahun 810 M.

Ayahnya berdarah Arab, Marwan bin Muhammad yang merupakan anggota militer khalifah terakhir Bani Umayyah di Damaskus. Sedangkan ibunya keturunan Persia bernama Jalban, ia bekerja sebagai pencuci kain wol. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil, kemudian Ia pun diasuh oleh ibunya dan dibawa pindah ke kota Basrah, di kota inilah Ia belajar berbagai macam ilmu pengetahuan serta bahasa dan kesusastraan. Abu Nawas belajar sastra dan bahasa Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran pada Ya’qub al-Hadhromi. Sedangkan ilmu Hadis ia belajar pada Mu’tamir bin Sulaiman, Abu Walid bin Ziyad, Azhar bin Sa'ad as-Samman, dan Yahya bin Said al-Qattan. Kemudian ia bertemu dengan penyair asal Kufah Walibah bin Habab al-Asadi yang membawanya ke panggung sastra Arab. Karena ketertarikannya pada Abu Nawas, Walibah pun membawa Abu Nawas kembali ke Ahwaz dan Kufah. Di Kufah Walibah menggembleng Abu Nawas dan menyuruhnya untuk hidup dengan orang Arab Badui di pedalaman guna memperhalus tata bahasa Arabnya.

Setelah dirasa memiliki bekal yang cukup Abu Nawas pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Bani Abbasiyah inilah Abu Nawas bertemu dan berkumpul dengan para penyair terkemuka. Karena kepiawaiannya ia bisa dekat dengan para pangeran dan juga bangsawan di istana. Namun karena kedekatannya ini, syair Abu Nawas mulai berubah cenderung memuja penguasa.

Menurut kitab Al-Wasith fi al-Adabi al-Arabi Wa Tarikhi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, jenaka, berlidah tajam, penghayal ulung, dan juga tokoh sastrawan terkemuka angkatan baru. Namun sangat disayangkan karya-karyanya jarang dipublikasikan dalam diskusi keagamaan ataupun di berbagai kesempatan. Kebanyakan orang sering mengaitkan syair-syairnya dengan gejolak jiwanya, karena tingkah lakunya yang terbilang aneh dan tidak lazim. Selain itu ia juga dikenal sebagai sosok yang lucu dan jenaka.

Di Baghdad inilah Abu Nawas menemukan dunia yang ia geluti sampai akhir hayatnya yakni dunia kesusastraan atau kepenyairan. Puisi yang diciptakannya pun mencakup beberapa topik seperti puisi tentang wanita, tentang pria, puisi yang berisi sanjungan, puisi yang berisi cacian, puisi tentang khamr, dan lain sebagainya. Karena kepandaiannya berkata-kata, khalifah Harun ar-Rasyid tertarik untuk menjadikan Abu Nawas sebagai penyair istana.

Pada masa ini banyak tokoh keilmuan yang lahir, namun sayangnya keilmuan tersebut tidak dibarengi dengan perilaku yang baik. Hal ini pula yang menjerumuskan Abu Nawas dalam kehidupan masa muda yang melenceng. Selain itu, kedekatannya dengan penguasa pun pernah membuatnya mendekam di penjara lantaran ia membaca puisi kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah dan menyebabkan khalifah murka.

Setelah bebas dari penjara ia mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak dan berpaling dari Khalifah. Pada tahun 803 M, ia meninggalkan Baghdad kemudian pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk gubernur Mesir, Kasim bin Abdul Hamid al-Ajami. Kemudian setelah khalifah Harun ar-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin, Abu Nawas kembali ke Baghdad.

Masa muda Abu Nawas memang penuh lika-liku dan maksiat, Ia juga pernah hidup dalam kegelapan dan mendekam di penjara. Namun dari kegelapan itulah ia menemukan hakikat Allah dan nilai-nilai ketuhanan, inspirasi puisinya pun sudah bukan lagi tentang khamr melainkan cenderung tentang Ketuhanan.

Pada masa tuanya Abu Nawas cenderung hidup zuhud. Ia juga menciptakan syair-syair dengan berbagai tema seperti: pujian atau maddah, satir atau hijab, zuhud atau zuhudiyah, masalah khamr atau khamriyyat, canda atau mujuniyah. Karena puisinya yang bertema khamriyyat dan mujuniyah, ia dituduh sebagai penyair zindiq atau pendosa besar. Selain itu, karena puisinya yang bertema khamriyyat pula ia dijuluki sebagai penyair pemabuk, sebab ia menggambarkan khamr bisa menenangkan fikiran. Meskipun pendapat ini tidak disetujui oleh sebagian ulama, seperti Imam al-Hafizh Ibnu Katsir.

Di masa tuanya Abu Nawas lebih sering menciptakan puisi puisi yang religius dan bertema zuhudiyah, Ia juga banyak menceritakan penyesalan lewat puisi-puisi yang diciptakannya. Masa tuanya dilalui dengan kezuhudan, syair-syair dan untaian kata yang indah merupakan pengungkapan rasa sesal atas masa lalunya yang kelam.

Ada banyak versi yang berbeda perihal tahun meninggalnya Abu Nawas. Ada yang menyebutkan bahwa Abu Nawas meninggal tahun 190 Hijriyah/806 Masehi, ada yang 195 Hijriyah/810 Masehi, atau tahun 196 Hijriyah/811 Masehi. Selain itu ada juga yang berpendapat tahun 198 Hijriyah/813 Masehi dan tahun 199 Hijriyah/814 Masehi.

Beberapa puisi Abu Nawas dihimpun dalam Diwan Abu Nawas yang telah dicetak dalam berbagai bahasa, juga diterbitkan di beberapa Daerah seperti: Wina, Austria (1885 M), Litografi di Kairo, Mesir (1277 H/1860 M), Greinfswald (1861 M), Beirut, Lebanon (1301 H/1884 M), dan Bombay, India (1312 H/1894 M). Pada tahun 1885 M, Diwan Abu Nawas diedit oleh A. Von Kremer dengan judul "Diwans des Abu Nowas des Grosten Lurischen Dichters der Araber". Di tangan para orientalis inilah karya Abu Nawas dipelajari dan diabadikan.

Diantara syair-syair Abu Nawas yang sangat familier di pendengaran masyarakat Indonesia yaitu:

“Tuhanku, hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).

Namun, hamba juga tidak kuat menahan panasnya api neraka (Jahim).

Maka perkenankanlah hamba bertaubat dan ampuni dosa-dosa hamba.

Karena sesungguhnya engkau maha pengampun dosa-dosa besar.”

Dua bait syair ini sangat sering didendangkan oleh masyarakat Indonesia terutama masyarakat pedesaan menjelang sholat di musholla atau masjid sekitar. Syair-syair tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Syair-syair tersebut menggambarkan hamba yang sangat sadar bahwa dirinya adalah orang memiliki banyak dosa pada Tuhannya, oleh karena itu ia memohon kepada Tuhannya agar mengampuni dosa-dosanya.

Dari Abu Nawas kita bisa belajar untuk menghadapi segala permasalahan hidup dengan jenaka. Masa lalu yang kelam tidak dapat dijadikan patokan untuk masa depan, nyatanya dari kegelapan Masa lalu Abu Nawas, ia menemukan nilai-nilai ketuhanan dalam perjalanan kerohaniannya. Syair di atas mengajarkan pada kita untuk tetap yakin pada ampunan Allah meski sebanyak apapun dosa atau maksiat yang telah kita perbuat.

Wallahu A'lam.