Gengsi atau Kebutuhan? Fenomena Anak Memaksa Orang Tua Ikut Tren

Siswa SMK Katolik St.Familia Tomohon jurusan perkantoran
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Intan Mondoringin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di zaman sekarang, tren berkembang sangat cepat, terutama melalui media sosial. Sebagai remaja, kita sering melihat teman atau influencer menggunakan barang terbaru, mulai dari HP, pakaian, hingga gaya hidup tertentu. Tanpa disadari, kita mulai menganggap hal-hal tersebut sebagai kebutuhan, padahal belum tentu benar-benar penting. Akibatnya, muncul keinginan untuk selalu mengikuti tren agar tidak tertinggal, yang dapat menimbulkan perilaku konsumtif serta menurunkan kemampuan mengelola prioritas.
Jika dilihat secara ilmiah, fenomena ini berkaitan dengan konsep konformitas sosial. Menurut Solomon E. Asch (1951), individu cenderung menyesuaikan diri dengan kelompok untuk mendapatkan penerimaan sosial. Akibatnya, remaja sering merasa takut dikucilkan atau dianggap berbeda jika tidak mengikuti tren, sehingga lebih mudah terpengaruh dan kehilangan kemandirian dalam mengambil keputusan.
Selain itu, terdapat pula konsep konsumsi simbolik. Thorstein Veblen (1899) menjelaskan bahwa seseorang sering mengonsumsi barang bukan karena fungsi, tetapi untuk menunjukkan status sosial. Misalnya, keinginan memiliki barang bermerek agar dianggap lebih “gaul”. Akibatnya, perilaku ini dapat mendorong gaya hidup berlebihan dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain secara terus-menerus.
Namun, jika keinginan tersebut terus dipaksakan kepada orang tua, hal ini dapat menimbulkan masalah yang lebih serius. Menurut David G. Myers (2012), tekanan sosial dapat memengaruhi pengambilan keputusan individu dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, orang tua dapat mengalami tekanan finansial, munculnya konflik dalam keluarga, serta berkurangnya keharmonisan hubungan antara anak dan orang tua.
Oleh karena itu, sebagai remaja kita perlu belajar berpikir lebih bijak dan rasional. Jean Piaget menyatakan bahwa remaja mulai mampu berpikir logis dan mempertimbangkan konsekuensi. Dengan kemampuan ini, kita seharusnya dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta mengambil keputusan yang tidak memberatkan keluarga. Selain itu, penting untuk menyadari adanya fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Menurut Andrew K. Przybylski, FOMO adalah rasa cemas ketika seseorang merasa tertinggal dari orang lain di media sosial. Jika tidak dikendalikan, FOMO dapat membuat seseorang terus mengejar tren tanpa pertimbangan yang matang. Oleh karena itu, sikap bijak dan kesadaran diri menjadi kunci agar kita tidak terjebak dalam gengsi semata, melainkan mampu memprioritaskan kebutuhan yang lebih penting dalam kehidupan.
